Artist
Track title
Listen
Paman Gerry & Bubu Mini
Kisah Raku si Kura – Kura dan Jian si Anjing
KISAH_RAKU.mp3
Di sebuah kerajaan hutan, hiduplah para hewan dengan aman dan damai. Pemimpin mereka adalah Siga si Raja Hutan yang adil dan bijaksana. Wah, kebetulan hari ini adalah ulang tahun Raja Siga. Semua warga hutan sedang mempersiapkan pesta besar!

”Selamat pagi, Bu Mia Kucing. Ini undangan untuk hadir di pesta ulang tahun Raja Siga. Permisi.” Raku si Kura – Kura langsung melesat pergi secepat angin setelah menyerahkan undangan ke Mia si Kucing. ”Uh Raku, belum sempat aku ucapkan terima kasih, dia sudah pergi jauh. Memang cocok sekali Siga si Raja Hutan menyuruh Raku untuk menyebar undangan. Larinya kan cepat sekali.” Ujar Mia si Kucing.

Memang dahulu kala, kura – kura itu larinya cepat sekali. Bahkan lebih cepat daripada anjing dan kucing. Nah, ketika malam menjelang, seluruh penghuni hutan mulai berdatangan ke rumah Siga si Raja Hutan. Mereka semua memakai pakaian yang bagus dan mewah. ”Wah, pestanya meriah sekali ya, Jian Anjing.” Mia si Kucing berkata kepada Jian si Anjing. ”Kau benar, Mia Kucing. Semua tampak bergembira dan bersenang – senang.” jawab Jian si Anjing.

”Eh, kau membawa kado ya untuk Raja? Taruh saja di meja besar itu, semua kado disimpan di situ.” tanya Mia si Kucing kepada Jian si Anjing. ”Oh begitu ya? Baiklah, akan kusimpan dulu kado ini supaya tidak pecah. Aku akan mempersembahkan mangkok kristal ini untuk raja.” Jian si Anjing berkata sambil meletakkan kadonya di atas meja besar. ”Wah bagus sekali mangkok itu, Jian! Raja pasti suka!” ujar Mia si Kucing.

Dari kejauhan tampak Raku si Kura-Kura mendekat ke pesta. Tapi karena seharian ia sibuk menyebarkan undangan, ia tak sempat lagi berganti pakaian. Langsung saja ia datang ke pesta ulang tahun itu. ”Ooo ya ampun…semua tamu berhias dengan sangat rapi. Semua terlihat rupawan. Sedangkan aku? Aku tak memakai baju yang pantas, aku juga tak memakai perhiasan apapun.” Raku si Kura – Kura berkata dalam hati.

Raku si kura-kura merasa tak pantas datang ke pesta dengan penampilan seperti itu. Raku langsung bersembunyi di balik meja besar tempat penyimpanan kado. Nah, di sana ia melihat sebuah mangkok kristal yang bagus sekali. ”Wah, mangkok ini bagus sekali. Bisa jadi perhiasan yang cocok untukku! Tapi ini kan kado untuk Siga si Raja Hutan….ah tak apa lah, dia sudah dapat begitu banyak kado. Dia kan tak boleh serakah..hehehehe.” Raku si Kura – Kura berkata dengan nada licik.

Maka Raku si kura-kura pun membawa mangkok kristal itu ke balik semak-semak. Ia mengoleskan getah daun yang berwarna kehijauan ke atas mangkok itu, kemudian mengikat mangkok itu ke punggungnya. ”Ah, mangkok ini lebih cantik dalam warna hijau. Dan akar-akar kayu ini cukuplah kulilitkan di tubuhku supaya mangkok ini tak jatuh dari punggungku.” ujar Raku si Kura – Kura sambil mengagumi dirinya.

Maka Raku berjalan dengan gagah ke tengah pesta. Dan benar saja, semua mata melihat kagum padanya. ”Waaah Raku gagah sekali dengan perhiasannya itu..kemilaunya seperti zamrud! Indah sekali kan, Jian?” Mia si Kucing berkata sambil terus memandangi Raku si Kura – Kura. ”Iya..indah sekali tapi aku yakin sekali itu adalah mangkok kristalku..ah aku harus langsung bertanya pada Raku.” Jian si Anjing berkata dalam hati dan akhirnya berkata kepada Raku si Kura – Kura, ” Hei Raku! Darimana kau dapatkan perhiasan itu?”

”Oh ini memang milikku. Aku membawanya dari rumah.” kata Raku si Kura – Kura. ”Ah kau bohong! Aku mengenali mangkok itu, itu milikku yang akan kuberikan pada Siga si Raja Hutan!” Jian si Anjing berteriak ke Raku si Kura – Kura.

Akhirnya Siga si Raja Hutan pun datang menghampiri mereka dan berkata, ”Ada apa ini? Siapa yang berani membuat keributan di pestaku?”, Jian si Anjing menjelaskan ke Siga si Raja Hutan, ” Maafkan hamba, baginda. Tapi Raku si kura-kura telah mencuri mangkok kristal yang akan kuhadiahkan padamu.”

”Benarkan itu Raku?” Siga si Raja Hutan bertanya langsung ke Raku si Kura – Kura. ”Eh…hmmm..eeeeh…benar Yang Mulia…aku malu karena tidak punya perhiasan atau baju yang indah untuk datang ke pestamu…maafkan aku.” dengan nada gugup Raku si Kura – Kura akhirnya mengaku telah mengambil kado Siga si Raja Singa.

”Hhh…baiklah…Jian, aku tahu mangkok itu akan kau hadiahkan padaku, aku menghargai itu, tapi tampaknya memang lebih cocok untuk Raku..” dengan bijak Siga si Raja Hutan berkata. Raku si Kura – Kura mengucapkan terima kasih kepada Siga si Raja Hutan, ” Oh terima kasih, Yang Mulia, terima kasih.”

”Tapi sebagai gantinya, kemampuan lari cepatmu akan kuberikan pada Jian Anjing. Bagaimana? Adil, bukan?” Siga si Raja Hutan akhirnya berkata.

Nah, sejak saat itu Raku kura-kura dan keturunannya memiliki mangkuk keras di punggungnya dan tetap berjalan lambat. Sementara itu, bangsa anjing sampai kini bisa berlari cepat. Dan terbiasa mengejar pencuri seperti Jian, nenek moyang mereka.

[Dongeng ini disadur dari Majalah Bobo persembahan Female Radio]
Paman Gery & Bubu Mini
Kisah si Otak Buntu dan Peri Hutan
SI_OTAK_BUNTU_DAN_PERI_HUTAN.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Pada suatu masa di negri yang jauh, hiduplah seorang lelaki dengan dua orang anak laki-lakinya. Anak yang sulung sangat pandai dan cerdas, tapi perilakunya buruk. Namanya Catra. Sedangkan adiknya...hmm..tidak terlalu pandai, tapi baik hati dan pemurah. Namanya Urdha. Ayah Catra dan Urdha sering membeda-bedakan mereka berdua. Ayah lebih sayang pada Catra karena dia pandai... Dan sebaliknya, ayah sering tidak mempedulikan Urdha karena ia tidak sepintar kakaknya.

”Catra anakku tersayang, ini ayah siapkan bekal untukmu ke hutan. Kau mau mencari kayu bakar, bukan? Nah, supaya tidak kelaparan, ayah bungkuskan nasi hangat dan semur ayam.” sang Ayah berkata sambil memberikan nasi bungkusnya. ”Terima kasih, Ayah. Sebenarnya aku tak terlalu suka semur, aku lebih suka ayam panggang. Tapi tak apa lah, kubawa saja semua ini.” Catra berkata sambil berlalu pergi.

”Ayah, aku juga akan ke hutan mencari kayu. Apakah ada sedikit makanan untukku juga?” Urdha bertanya pada sang ayah. ”Ah, semua makanan tadi ayah buatkan khusus untuk Catra. Hmm...mungkin di lemari masih ada sedikit roti kemarin. Kau ambil saja lah, daripada membusuk di lemari itu.” sang ayah berkata sambil menunjuk ke arah lemari. ”Di lemari yang mana, Ayah?” Urdha bertanya kebingungan. ”Ya sudah tentu di lemari makanan. Tak mungkin ada roti di lemari baju, kan? Hah, dasar, sekali otak buntu, akan selalu jadi otak buntu.” sang ayah berkata tidak sabaran. ”Ahahahahaha...otak buntu...nama yang cocok sekali untukmu” sang ayah dan Catra mentertawakan Urdha.

Ayah dan Catra kok begitu ya? Tega sekali pada Urdha. Apa yang ayah dan Catra lakukan itu bukan perbuatan terpuji. Kita tak boleh menertawakan dan mengolok-olok orang lain.

“Lho ayah, roti ini sudah sangat kering dan dingin. Apakah tidak ada roti baru atau nasi?” Urdha kembali bertanya pada ayahnya. “Ah, sudahlah! Masih untung kau kuberikan roti itu. Tadinya roti itu mau kuberikan ayam saja. Sana, pergi ke hutan, cari kayu sebanyak-banyaknya. Awas, jangan malas ya!” ancam sang ayah.

Maka Catra dan Urdha pun pergi ke hutan bersama-sama. Tapi Catra tak pernah mau berjalan bersisian dengan Urdha, “Urdha, kau harus berjalan di belakangku paling tidak 5 langkah. Jangan berjalan di sampingku, apalagi di depanku.” Catra berkata sambil berusaha berjalan menghindari Urdha. “Mengapa begitu, kakakku Catra?” Urdha bertanya kebingungan. “Ya karena kau bodoh. Aku tak mau terlihat berjalan bersama orang bodoh.” Catra berkata sambil mendorong Urdha supaya berjalan di belakangnya.

Urdha sedih sekali, tapi ia turuti saja kata-kata kakaknya. Mereka pun sampai ke hutan dan mulai bekerja memotong-motong kayu. Nah ketika hari mulai siang, “Hey, otak buntu! Kau teruskan pekerjaanku ya, aku istirahat dulu di bawah pohon meranti itu. Awas kalau tak kau selesaikan semua!” Catra berkata sambil mencari posisi istirahat dibawah pohon meranti.

Saat Urdha terus bekerja, Catra asik memakan bekalnya yang lezat. Tiba-tiba...muncul seorang kakek bertubuh kecil menghampiri Catra, ”Anak muda, bolehkah aku meminta sedikit saja makan siangmu. Secuil saja, untuk perutku yang tua ini.” sang peri hutan memohon kepada Catra, tapi ternyata Catra malah berkata, ”Huh! Enak saja. Cari sendiri makananmu. Dasar pemalas.”

Kakek itu pun pergi meninggalkan Catra. Ia kemudian berjalan menghampiri Urdha yang masih juga memotong kayu, ”Anak muda, apakah kau punya sedikit makanan? Bolehkah aku meminta secuil saja? Aku lapar sekali, anak muda.” sang peri hutan kali ini bertanya pada Catra.

”Oh kakek yang malang, kasihan sekali dirimu. Ini aku punya sepotong roti, tapi sudah agak keras dan dingin. Maaf hanya ini yang kupunya. Tapi kau boleh ambil semuanya. Ini untukmu.” Urdha berkata sambil memberikan potongan rotinya. ”Terima kasih...oh terima kasih banyak. Siapa namamu?” sang peri hutan bertanya pada Urdha. ”Namaku Urdha, tapi orang-orang memanggilku si otak buntu...karena aku tidak pandai.” Urdha menjawab sambil menundukan wajahnya.

”Ada banyak hal yang lebih penting daripada sekadar kepandaian, Urdha.” sang peri hutan berusaha untuk menghibur Urdha. Kakek tua itu tersenyum dan tiba-tiba saja...angin bertiup semilir dan si kakek pun menghilang. Yang tertinggal, hanya suaranya, ” Urdha, aku sebenarnya adalah peri hutan. Terima kasih kau terlah memberikan satu-satunya makanan yang kau punya. Sebagai gantinya, lihatlah ke dalam kantung makananmu. Kau patut mendapatkannya, Urdha.”

Betapa kagetnya ketika Urdha membuka kantung makannya, “Hah? Apa ini? Emas? Permata? Bagaimana mungkin?”, lalu kembali terdengar suara sang peri hutan, “Semua mungkin jika kau mau berusaha. Jangan biarkan siapapun memanggilmu Otak Buntu lagi, Urdha. Belajarlah dengan rajin, niscaya kau akan pandai.”

Maka Urdha pulang ke rumah dengan gembira. Segera ia jual beberapa perhiasan itu untuk membeli banyak sekali buku dan untuk bersekolah supaya tak ada lagi yang akan memanggilnya Si Otak Buntu.

Dongeng ini disadur dari 366 Dongeng Sedunia persembahan Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Cangkul Emas Petani
CANGKUL_EMAS_PETANI.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di sebuah desa yang terpencil, tersebutlah seorang petani tua bernama, Kalinda. Kalinda hidup sangat sederhana. Sehari-hari ia hanya mengandalkan kemampuannya mencangkul untuk membantu menggarap sawah orang lain. Keadaan Kalinda sebenarnya serba kekurangan, tapi ia tak pernah mengeluh. Ia bekerja dengan riang gembira. Satu-satunya harta Kalinda yang paling berharga adalah cangkulnya. Karena dengan cangkulnya lah Kalinda dapat mencari makan untuk sehari-hari.

”Wah...hari ini aku menggemburkan tanah dan menanam cukup banyak padi. Semoga imbalannya cukup untuk aku makan sampai esok....Hhh...melelahkan juga...mungkin ada baiknya aku beristirahat di dekat kali sebentar.” Kalinda berkata dalam hati. ”Aah...nyaman sekali di sini...rimbun dan sejuk...cocok sekali untuk beristirahat setelah seharian di sawah...” Kalinda berkata sambil bersantai di pinggir kali.

Kalinda pun tertidur. Namun tidak lama kemudian ia terbangun karena mendengar suara gemerisik dedaunan. Karena terlalu kaget, Kalinda tidak sengaja menggulingkan cangkulnya! Oh, cangkul menggelinding di pinggir kali yang landai itu dan....cangkulnya tercemplung ke dalam kali!

”Ya ampun, aku tak sengaja menendang cangkulku sendiri! Aduuh, bagaimana ini, cangkulku tenggelam dan aku tak bisa berenang! Apa yang harus kulakukan?” Kalinda kebingungan sekali. Ketika Kalinda sedang kebingungan, tiba-tiba muncul lah seorang anak muda yang tampan dan gagah perkasa, ”Hai, pak petani yang baik. Mengapa wajahmu murung begitu?”

”Ah, tidak anak muda...hanya saja...cangkulku tenggelam di kali...dan aku sudah terlalu tua untuk menyelam...padahal itu satu-satunya cangkulku.” Kalinda berkata pada sang pemuda. ”Oh, begitu. Bagaimana kalau aku coba mengambilkannya untukmu?” sang pemuda mencoba menawarkan. ”Apakah benar kau mau melakukan itu untukku, anak muda? Wah, aku sangat berterima kasih, sangat-sangat berterima kasih!” Kalinda berkata dengan gembira.

Maka pemuda itu langsung saja menceburkan diri ke dalam kali. Tak lama kemudian, pemuda itu muncul di permukaan dengan mengacungkan sebuah cangkul emas, ”Apakah ini cangkulmu, Pak Petani?” teriak sang pemuda. ”Bukan...itu bukan milikku. Tak mungkin aku memiliki cangkul dari emas. Kembalikan saja ke dasar kali.” Kalinda berteriak kebingungan.

Pemdua itu pun kembali menyelam mencari cangkul si petani. Tak berapa lama ia muncul kembali dengan membawa sebuah cangkul perak, “Ah, ini pasti cangkulmu! Betul kan, Pak?” sang pemuda kembali berteriak dari kali. “Maafkan aku anak muda, tapi cangkul perak itu bukan milikku. Cangkulku itu sudah tua dan berkarat.” Kalinda menjawab. “Baiklah, akan kucari lagi.” Sang pemuda berkata sambil menyelam kembali ke dalam kali.

Setelah beberapa waktu, pemuda itu muncul lagi membawa cangkul yang sudah tua dan berkarat. “Nah! Ini baru cangkulku! Terima kasih banyak, anak muda. Maaf aku tak bisa memberikanmu imbalan kecuali ucapan terima kasih yang tak terhingga.” Kalinda berkata pada sang pemuda.

“Kalinda, dengarkan aku....aku sebenarnya adalah dewa sungai. Kau telah melewati uji kejujuran. Aku bangga padamu Kalinda, walaupun kau hidup serba kekurangan, kau tetap jujur dan tidak mau mengakui hak yang bukan milikmu.” Tiba – tiba saja sang pemuda berkata. Kalinda pun kaget tak menyangka sama sekali. “Kau adalah petani yang baik hati. Sebagai hadiah atas kebaikan dan kejujuranmu, ambillah cangkul emas dan cangkul perak ini. Gunakan untuk hal-hal yang baik. Sampai jumpa lagi, Kalinda.” Sang pemuda berkata sambil memberikan kedua cangkul tersebut kepada Kalinda.

Kalinda terpana melihat Dewa Sungai tiba-tiba menghilang. Di hadapannya kini telah tersedia satu cangkul emas dan satu cangkul perak. Maka Kalinda pulang ke rumahnya membawa dua cangkul ajaib itu. Yang perak segera dijualnya untuk membeli sawah sendiri, sedangkan yang emas ia gunakan untuk mencangkul. Konon, hasil sawahnya selalu bagus dan memuaskan, jadi Kalinda tidak perlu lagi hidup kekurangan.

Dongeng ini dipersembahkan oleh FeMale Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Siapa yang paling hebat?
SIAPA_YANG_PALING_HEBAT.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di dunia hewan, setiap tahun diadakan sebuah penghargaan kepada hewan yang paling hebat. Penghargaan ini diadakan di sebuah padang rumput luas yang indah sekali. Ya, pagi ini semua hewan sudah berkumpul di lapangan rumput itu. Mereka semua bergembira sekaligus penasaran, siapa yang akan dinobatkan sebagai yang terhebat tahuni ini.

”Aku yakin, pasti aku yang menang. Aku kan paling tampan, pandai berkebun, dan paling tinggi lompatannya!” si kelinci berkata sambil lompat – lompat. ”Ah, kurasa kali ini penghargaan itu jatuh padaku. Aku kan yang membantu seluruh penghuni hutan saat mereka mau bepergian dengan cepat?” si kuda berkata tidak mau kalah dari kelinci.  ”Yah..mungkin seperti tahun-tahun yang lalu..aku tak akan menjadi pemenang...karena tak ada yang menonjol dari diriku, kecuali ya rumahku ini ..hihihihi...” siput pesimis namun tetap tertawa kecil.

Saat para hewan sedang menebak-nebak siapa yang akan menerima penghargaan paling hebat, tiba-tiba tim juri penilai tiba di padang rumput. Wah seru sekali tim jurinya, ada ayam hutan, burung pipit, bajing, dan keledai si ketua tim juri.

”Saudara-saudaraku, kami dari tim juri telah memutuskan sesuatu....” keledai si ketua tim juri berkata. Seketika itu juga, padang rumput yang sejak tadi riuh-rendah, tiba-tiba menjadi hening. Betul, adik-adik. Para hewan tak sabar menunggu acara penghargaan itu. Sang keledai pun melanjutkan, ” Ehm-ehm...berdasarkan pertimbangan kami akan kekuatan dan daya tahan....kami memutuskan penerima penghargaan tahun ini adalah....Siput!” Ups, tak terdengar satu pun tepuk tangan dari penonton. Mereka semua tercengang mendengar keputusan itu, ”Hah? Siput? Bagaimana mungkin? Ah para juri pasti bercanda. Tak mungkin...siput kan lambat sekali....”

”Mohon hadirin semua tenang dulu. Sebelum kami memilih, kami mempertimbangkan banyak kehebatan siput. Memang ia butuh waktu enam bulan untuk melintasi padang rumput, tapi akhirnya dia sampai juga. Keteguhan hatinya yang kami hargai.” keledai berusaha menenangkan para penonton. ”Huh, ini tidak adil. Siput begitu lemah, kau bisa saja menendangnya dan dia akan langsung terguling tanpa bisa melawan.” kelinci tidak terima dengan keputusan itu. ”Hey, jangan merendahkan aku seperti itu, Kelinci. Aku tak selemah itu! Buktinya aku kuat mengangkat rumahku dan membawanya ke manapun aku pergi!” siput berusaha membela diri. ”Lantas, kenapa bukan aku? Aku kan mampu berlari kencang dan membawa beban yang besar di belakangku. Bahkan aku bisa menarik kereta berisi manusia!” kuda juga tidak mau kalah.

”Sudah, sudah, jangan ribut. Tahukah kalian, bahwa sebenarnya yang harus mendapatkan penghargaan adalah matahari. Karena matahari selalu bersinar pada siapapun, baik itu yang jalannya lambat atau cepat, yang tampan maupun yang buruk rupa. Coba, apakah ada yang bisa menandingi matahari?” keledai bertanya kepada penonton yang hadir.

Para hewan pun terdiam mendengar perkataan Keledai si ketua tim juri. Mereka berpikir, benar juga ya, matahari adalah yang paling berjasa bagi mereka. Matahari tidak pilih kasih, adik-adik. Dan selalu mau membantu siapapun yang sedang membutuhkan. Para hewan pun menyadari kesombongan mereka masing-masing.

” Maafkan aku, teman-teman, aku tak bermaksud untuk sombong..” siput berkata, ”Ya...aku juga...aku memang bisa melompat tinggi tapi...aku tak bisa berlari” kelinci ikut meminta maaf. ”Ya, aku juga minta maaf...aku bahkan tak bisa melompat seperti kelinci atau punya keteguhan hati seperti siput..” kuda pun ikut minta maaf. ”Nah, begitu kan lebih baik. Kita bangsa hewan harus hidup rukun, cukuplah manusia saja yang sering berkelahi dan ribut. Kita jangan ikut-ikutan.” keledai berkata.

”Pak Keledai, tapi jadinya siapa yang mendapatkan penghargaan tahun ini?” tanya siput penasaran. ”Hmm...bagaimana jika kita berikan penghargaan pada alam ini. Pada matahari, hutan, sungai dan seisi alam. Karena pada alam lah kita semua bergantung.” keledai berkata bijak dan disambut dengan teriakan setuju dari para binatang yang lain.

Akhirnya, para penghuni hutan bergembira lagi! Tapi, bagaimana ya cara mereka memberikan penghargaan pada alam? Dengan menjaga keseimbangannya dan merawat alam dengan baik, tentunya. Nah, adik-adik juga mau ikut menjaga alam kan? Yuk kita lakukan bersama.

Dongeng ini persembahan Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Rubi dan Robi Rubah
RUBI_DAN_ROBI_RUBAH.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Rubi dan Robi Rubah adalah dua orang sahabat yang sangat berbeda sifatnya. Rubi adalah rubah yang cerdas tapi agak nakal. Sedangkan Robi kurang pandai dan penakut. Nah, suatu hari, Rubi dan Robi sedang berjalan-jalan di padang rumput. Mereka melihat kumpulan domba yang sedang merumput.

“Robi! Coba lihat itu! Puluhan domba sedang merumput di padang! Mereka kelihatan lucu dan empuk sekali ya” Rubi berkata sambil menunjuk arah rerumputan. ”Kau mau menangkap mereka ya, Rubi? Wah, jangan lah….aku takut dengan petani itu.

” Robi berkata sedikit ketakutan.

”Aaaah, bagaimana sih kau Robi? Mana mungkin aku mau menyerang puluhan domba seperti itu? Lagipula, coba kau lihat di ujung sana, ada pak gembala!” Rubi kembali berkata. ”Oh iya ya, Rubi, hihihihi, maaf yaa…” Robi meminta maaf sambil tertawa – tawa kecil.

”Hmmm…matahari sudah tinggi…waktunya Pak Gembala makan siang…eh? Apa yang dia lakukan? Mengapa dia merogoh-rogoh lubang di batang pohon apel?” Rubi kebingungan, ”Emm…mungkin dia mencari dombanya yang hilang?” Robi berkata sambil ikut – ikutan melihat ke padang rerumputan. ”Haduh, Robiiii! Mana mungkin dombanya masuk ke dalam lubang di batang pohon??” Rubi berkata gemas. ”Kita lihat mau apa Pak Gembala….oh, ternyata dia mengambil bungkusan dari dalam batang pohon….wah, tampaknya bungkusan makan siang!” Rubi kembali berkata.

”Wah, hebat ya Pak Gembala, bisa membuat bungkusan makan siang keluar dari batang pohon…” Robi berkata kagum. ”Bukan begitu, Robi! Dia pasti menyimpan makan siangnya di lubang itu pagi-pagi sekali ketika sampai ke padang rumput… kemudian di siang hari ia ambil lagi untuk makan. Hahahaha, aku jadi punya ide!” Rubi tiba – tiba menjadi sangat bersemangat. ”Nah, temui aku esok di sini, sebelum matahari menjadi tinggi. Kita akan pesta!” Rubi menyuruh Robi untuk pulang dan besok berjumpa lagi.

Walaupun Robi masih agak bingung, ia turuti saja kata-kata Rubi sahabatnya. Tapi, keesokan harinya, hanya Rubi yang muncul di padang rumput. Wah, Robi pasti lupa nih, atau jangan-jangan dia salah mengerti ya adik-adik. Akhirnya, Rubi melaksanakan rencananya sendirian. Eh tapi adik-adik tahu nggak, apa sih rencana Rubi sebenarnya?

„Ah, biarkanlah Robi tak datang. Aku saja yang pesta…hahaha….aku akan menyelinap ke lubang pohon itu dan memakan semua jatah makan siang si gembala. Ahahahaha!” Rubi berkata dalam hati.

Maka Rubi Rubah berusaha masuk ke lubang di batang pohon itu! Waduh, padahal kan sempit sekali lubangnya! ”Errrgh…aduuuh…sedikit lagiiiii…AW! aduuuh, sakiiiitt….tapi tak apa lah, yang penting aku berhasil masuk lubang di batang pohon apel ini…waaaaaaah, banyak sekali makanan di sini!!!” akhirnya Rubi berhasil masuk ke dalam lubang batang pohon itu.

Rubi pun senang sekali hatinya karena ternyata Pak Gembala membawa banyak sekali bekal! Dan semua kelihatan enak-enak! Langsung saja Rubi melahap makanan itu dengan cepat! ”Waaaah…enak sekali…enak sekali…wah wah wah…aku makan enak hari ini…hahahahaha….uhuk-uhuk” karena saking bersemangatnya Rubi sampai keselek.

Rubi nakal sekali ya…itu kan sama saja dengan mencuri. Betul, adik-adik. Jangan ditiru ya perbuatan Rubi. Eh tapi tiba-tiba Rubi tampak panik! ”Celaka! Matahari sudah tinggi! Sebentar lagi pak Gembala pasti datang ke sini mengambil bekalnya. Aku harus segera kabur dari sini. Uuugh…uuuggghhh…uuuugggghhh! Aduh, bagaimana ini? Kenapa aku tak bisa keluar? Uuuggghhh” Rubi berusaha keluar dari lubang itu.

Wah, adik-adik, sepertinya si Rubi tak bisa keluar dari lubang di dahan pohon karena perutnya kini telah buncit setelah makan bekal Pak Gembala! Lubang yang sempit itu kini tak mungkin ia lalui, walaupun Rubi mencoba sekuat tenaga.

Ketika Rubi masih berusaha keluar dari dahan pohon, muncul Robi yang memandang sahabatnya dengan heran. ”Apa yang kau lakukan Rubi? Mengapa kau di dalam batang pohon?” Robi bertanya ke Rubi. ”Ah Robi! Bantu aku! Aku tak bisa keluar karena perutku buncit. Tadi aku menghabiskan bekal Pak Gembala.” Rubi meminta tolong kepada sahabatnya itu. ”Hm…berarti kau harus menunggu sampai perutmu itu kempis lagi. Tapi tenang saja, akan kutemani kau di sini, Rubi.” Robi berkata.

Rubi sampai tak bisa berkata-kata mendengar jawaban Robi. Tapi ia akhirnya menyadari kesalahannya. Ketika Pak Gembala datang, Rubi dengan jujur mengakui perbuatannya dan meminta maaf. Pak Gembala yang baik memaafkannya dan malah membantunya keluar dari lubang di pohon itu. Sejak saat itu, Rubi tak pernah nakal atau mencuri lagi.

Dongeng ini disadur dari Fabel Aesop persembahan Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Pulau Tikus
PULAU_TIKUS.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di sebuah desa nelayan yang sederhana, hiduplah seorang nelayan miskin yang baik hati. Ia ingin sekali bisa merantau ke kota, untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Setiap hari, nelayan itu menabung sedikit demi sedikit agar uangnya cukup untuk membeli tiket kapal untuk berlayar ke kota. Ketika akhirnya uang itu terkumpul, nelayan itu langsung bersiap untuk berlayar ke kota. Namun, dalam perjalanannya ke dermaga, ia bertemu seorang ibu tua di tepi jalan.

”Nak..apakah kau mau membeli 3 kucingku? Lihat, mereka manis-manis, kan?” Ibu tua itu menawarkan ke sang Nelayan. ”Eh..maaf bu, tapi aku tak ingin membeli kucing. Maaf ya bu…” sang Nelayan meminta maaf.  ”Oh anak muda yang baik, tolonglah aku. Sudah berhari-hari aku tidak makan. Hanya kucing-kucing inilah hartaku…” si Ibu tua menangis tersedu – sedu.

Nelayan itu merasa tidak enak, ia kasihan pada ibu tua yang tampak lemah itu. ”Kasihan sekali ibu ini…dia pasti lapar sekali…hmm…tapi uangku hanya  cukup untuk naik kapal dan makan beberapa hari…ah biarlah, aku lebih kuat menahan lapar daripada ibu ini.” sang Nelayan berkata dalam hati. ”Maafkan ibu, anak muda, ibu tak bermaksud memaksa…” si Ibu tua masih menangis tersedu – sedu.

”Bu, ini aku ada seikit uang untuk membeli kucing-kucingmu. Apakah cukup?” Nelayan itu akhirnya mengeluarkan uang dari dompetnya. ”Terima kasih nak…terima kasih..cukup..ini semua cukup. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu, Nak.” Ibu tua tidak henti – henti berterima kasih.

Maka si Nelayan berlayar dengan kucing-kucingnya menuju Kota Besar. Walaupun tanpa uang sepeser pun, si nelayan tetap bersyukur ia bisa berlayar dan membantu ibu tua. Di tengah lautan luas, tiba-tiba datanglah hujan badai! Kapal besar yang ditumpangi nelayan terombang-ambing terkena badai. Oh oh, semua orang menjadi panic.

”Ahh…kucing-kucingku…diam di sini…biar kubalut tubuh kalian dengan bajuku supaya hangat…nah, kalian tenang ya…aku tak akan meninggalkan kalian..” Nelayan itu akhirnya membuka bajunya dan berusaha melindungi kucing – kucingnya.

Badai berlangsung semalaman, Adik-adik! Si nelayan yang lelah akhirnya tertidur, dan baru terbangun setelah menyadari bahwa badai telah selesai. Tapi, ia sudah tidak di dalam kapal lagi! ”Hah? Di mana aku? Mengapa sunyi begini? Aduh…apakah aku..terdampar? Aduh kepalaku sakit sekali….tapi, mana kucing2ku? Apakah mereka selamat? ah, itu dia! Apakah kalian baik-baik saja?” Nelayan itu berkata sambil mengusap – usap kucingnya.

Maka Nelayan mengajak kucing-kucingnya untuk menjelajahi pulau, mencari penduduk setempat. Oh ternyata tidak jauh dari pantai ada sebuah desa! Saat memasuki desa itu, si Nelayan bertemu dengan seorang tukang roti. Nah, dari tukang roti itu, Nelayan akhirnya mengetahui bahwa ia telah terdampar di Pulau Tikus!

”Mengapa namanya Pulau Tikus, tukang roti?” Sang Nelayan bertanya kepada tukang roti. ”Bukankah sudah jelas? Pulau ini dipenuhi tikus! Penduduk sudah mencoba segala cara, tapi tetap tak bisa mengusir tikus-tikus itu.” tukang roti menjelaskan kepada si nelayan. ”Hmm…apakah kalian pernah mencoba menggunakan kucing?” Nelayan kembali bertanya penasaran. ”Kucing? Tak ada hewan semacam itu di pulau ini.” si tukang roti itu mengatakan.

Aha! Nelayan mendapatkan ide untuk membantu penduduk kota tikus. Ia akan melepaskan kucing-kucingnya supaya bisa menangkap tikus. Kucing-kucing yang sangat kelaparan itu pun dengan cepat menyebar ke berbagai penjuru desa, menangkap tikus-tikus yang mengganggu penduduk desa. Wah, seluruh penduduk Pulau Tikus sangat berterima kasih pada si Nelayan dan tiga kucingnya. Mereka memberikan bermacam-macam penghargaan dan hadiah untuk para pemburu tikus ulung ini. Akhirnya, si Nelayan dan kucing-kucingnya menetap di Pulau Tikus dan mereka dipandang sebagai pahlawan. Si nelayan dan 3 kucingnya tidak pernah lagi hidup kekurangan, tapi mereka tetap siap sedia membantu jika ada penduduk yang membutuhkan.

Dongeng ini dipersembahkan oleh Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Mimpi Kuda Poni
MIMPI_KUDA_PONI.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Kuda Poni adalah kuda yang memiliki badan yang lebih kecil dari kuda biasanya. Selain  badannya yang kecil, kuda poni juga suka bertingkah laku yang lucu lho!! Seperti kisah kita kali ini, ada seekor kuda poni yang sedang bermain-main, di daerah yang rimbun dengan pepohonan subur yang ada di sekitarnya. Kadang dia berlari-lari, kemudian berhenti lagi…berlari lagiiii… berputar, dan hup !! melompat tinggi – tinggi. Lucu deh!

Tapi sebenarnya kuda poni kita ini lagi ngapain yaa? Yuuk!! Kita dengar apa katanya, ”Cihhuuuiiiii…hahahahaaku berlari kencang…..!! Daaaannnn……Siap terbang….!!” si Kuda Poni berkata kegirangan.

Lho kok ingin terbang. Aneh ya. Rupanya kuda poni itu kepingin sekali bisa terbang. Tapi apa bisa yaa?? Ya pasti gak bisa doong. Gak ada kuda yang bisa terbang. Tapi kok dia tetep mencoba terus yaa. Wah wah wah !! Gimana kalau hewan lain melihat kelakuan kuda poni yang ingin terbang itu ya?? Coba kita tengok yuk!

“Horrreee…. Aku ingin terbang…..!!! Siaaaapp….. satu… duaa…. Tigaa !!! Hup !!    ….aduh !!!!!” si Kuda Poni terjatuh setelah mencoba untuk terbang. Wah, kuda poni itu jatuh lagi… kasihan ya..!! Eh…!! Tapi ada siapa itu…!!

”Huahahahaahahaha…..Kuda poni, kamu memang aneh…!! Iya ..!!!! mana ada kuda bisa terbang…!! Hahahahaha…. Hiiihihihi.. Kalau aku burung memang punya sayap !! jadi aku bisa terbang…!! Tapi kalau kamu…….. huahahahahaha !!” ternyata itu adalah binatang – binatang lain yang mengejek si Kuda Poni.

Rupanya teman-teman hewan yang lain pada menonton dan mentertawakannya. Tapi kuda poni malah mendapatkan akal lain untuk bisa terbang. Dia memang kuda poni yang keras kepala.

”Hhh… aku sekarang tahu !! Kawanku burung bisa terbang karena punya sayap !! Berati aku juga harus punya sayap supaya bisa terbang…!!” si Kuda Poni berkata dalam hati sambil terengah – engah karena kehabisan napas setelah terus – terusan mencoba untuk terbang.

Wah kuda poni memang pantang menyerah. Sekarang dia mencoba untuk membuat sayap, darii…… Lho…?! Ngapain dia mengumpulkan semua ranting dan daun itu? rupanya sekarang dia mencoba membuat sayap-sayapan yang terbuat dari ranting dan daun yang diikat. Hhhmmm…Coba kita lihat, bagaimana hasilnya?

”Ahhh…!! Sekarang sayapku sudah jadi… Aku akan mencobanya, dan pasti aku bisa terbang… cihuuuiii !!! Satuuuu…. Dua….” si Kuda Poni berkata kegirangan. ” Tiiiiiii…ga !!!!!!! Wiiiiiii !!!  Aduuh !!” si Kuda Poni terjatuh lagi dan disambut dengan suara tertawa hewan – hewan lain.

Kasihan kuda poni adik-adik, dia sekarang malah makin deitertawakan dan diledek hewan lainnya.. ”Hihihi… kuda poni, sayap yang kamu buat itu bukan sayap asli… Ya pasti kamu gak bisa terbang…. Lihat sayapku… ini baru sayap asli… Hanya bangsa burung yang yang bisa terbang… !! Sudahlah Poni…. Menyerah saja…” si Burung Pipit mencemooh si Kuda Poni.

”Hhh… mungkin burung pipit betul,…Aku kuda yang tidak mungkin terbang” si Kuda Poni berkata dalam hati dengan sedih.

Kuda poni yang bersedih, akhirnya pergi menjauh dari teman-teman hewan yang lainnya.. Sambil berjalan menunduk, ia melangkah gontai. Kasihan kau Poni!! Tapi tiba-tiba, Kuda Poni melihat sesuatu adik-adik. Ia melihat dari kejauhan ada sarang burung pipit yang bergoyang kena angin, dan hampir jatuh. Aduuuhhh….!! Padahal didalam sarang itu ada telurnya.

Kuda poni kemudian mengambil ancang-ancang dan berlari kencang untuk menyelamatkan sarang burung yang berisi telur itu !! Daaann… Hup !! Horreee…. !!

Wah Kuda poni hebat!! Tepat sebelum telur itu terjatuh ke tanah, kuda poni berhasil menangkapnya. Ibu Burung sangat berterima kasih kepada kuda poni karena berhasil menyelamatkan telur. Dan sebagai tanda terima kasih, bu burung ingin sekali memberikan hadiah kepada kuda poni. Adik-adik tahu gak apa yang dibisikkan Kuda poni kepada bu burung? ”Terima kasih kuda poni yang baik, aku ingin memberikan hadiah kepadamu, Apa yang kau inginkan..??”

”Eee… a..ak..aku ingin …b-b-b… bisss…sa terbang Bu burung..” si Kuda Poni berkata sambil malu – malu. Lalu Bu Burung meminta kuda poni untuk memejamkan matanya.

Dan pada saat membuka matanya, kuda poni kaget, adik-adik… Ternyata ia sedang terbang! „Wiiiiii….hahahahah….aku bisa terbang…!!!!” si Kuda Poni berteriak kesenangan.

Kuda poni ternyata berdiri diatas sebuah karpet yang diterbangkan oleh riatusan burung, „Wiiiiii… aku kuda yang bisa terbang….. hahahahaha” si Kuda Poni berteriak kesenangan.

Semua hewan-yang lain ikut kegirangan melihat kuda poni sekarang terbang tinggi bersama ratusan burung. Hari itu menjadi hari terindah dalam hidup kuda poni..

Jadi…Siapa bilang impiannya tidak bisa jadi nyata??

Dongeng ini disadur oleh FeMale Radio dari majalah Orbit

Paman Gery & Bubu Mini
Congkaknya si Kura – Kura
CONGKAKNYA_SI_KURA-KURA.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di Hutan Meranti, hidup berbagai jenis hewan dalam damai dan tentram. Udaranya sejuk dan penghuninya ramah. Di hutan itu mengalir sebuah sungai yang airnya jernih dan dipenuhi ikan-ikan beraneka jenis dan warna. Nah, di tepi sungai itu, tinggallah Kurki si kura-kura yang congkak. Wah, kenapa congkak? Kurki selalu merasa bahwa rumahnya adalah yang terbaik, terindah, dan terkuat disbanding hewan-hewan lain. Dia sangat membanggakan rumahnya itu. Setiap pagi ia keluar dari rumahnya sekadar untuk memandanginya.

“Hmmmh…coba lihat rumahku… indah sekali tertimpa cahaya matahari pagi. Tak ada rumah secantik ini di seluruh hutan…hmm..” Kurki berkata sombong.

Saking bangganya pada rumahnya, si Kurki sering mengolok-olok hewan lain yang rumahnya tidak sebagus dirinya, “Hey kau beruang, kau memang besar dan kuat, tapi rumahmu jauh di dalam gua. Apa bagusnya? Semua terbuat dari batu yang dingin. Cis! Dan kau lebah, coba lihat rumahmu yang menyedihkan itu…bergelantung di dahan pohon dengan lemahnya. Ahahhahaha” Kurki mengejek si Beruang. “Ya ya, kami tahu rumahmu lah yang paling bagus di hutan ini. Tapi kau tak seharusnya sombong, Kurki.” si Beruang menasehati Kurki.

“Beruang betul, Kurki. Tak baik menjadi congkak, apapun alasannya. Kami tahu seleramu bagus sekali dalam menata rumah, makanya rumahmu bagus sekali, ya kan?” Lebah juga ikut menasehati Kurki. “Hah! Kau betul sekali lebah. Makanya, aku tak mau main ke rumah kalian. Rumah kalian tak ada apa-apanya jika dibandingkan rumahku ini.” Kurki berkata sombong lagi.

Sebenarnya sih, rumah si Kurki memang bagus sekali. Atapnya berwarna hijau kecoklatan bermotif kotak-kotak, halus tapi keras seperti batu. Dindingnya berwarna putih kekuningan, sedankan lantainya empuk dan rata. Tapi kan itu bukan alasan untuk menjadi sombong.

Nah, suatu hari, Peri Hutan mengadakan pesta untuk menyambut datangnya musim hujan. Seisi hutan diundang untuk merayakannya di rumah si peri hutan. Tapi di antara para tamu dan undangan, kok si Kurki tak kelihatan ya?

”Teman-teman, apakah kalian lihat Kurki si kura-kura? Aku belum melihatnya dari tadi.” Peri Hutan bertanya kepada semua teman – teman yang hadir. „Kami juga belum melihatnya, peri. Ya betul , belum kelihatan sejak tadi.” Para tamu secara kompak menjawab. „Hmm…kenapa ya dia tidak datang? Dulu dia suka sekali pesta. Jangan-jangan…Kurki sakit?” Peri Hutan berkata khawatir.

Karena iba pada kondisi yang mungkin menimpa Kurki, Peri Hutan segera menyelinap keluar dari pesta untuk menghampiri Kurki. Sesampainya di tepi sungai, Peri Hutan pun mengetuk pintui rumah Kurki. Dan betapa terkejutnya peri saat mengetahui kenyataannya!

”Hey, Kurki…kurki…apakah kau sakit?” Peri Hutan berkata sambil mengetuk – ngetuk pintunya. ”Oh halo, peri hutan? Bagaimana pestamu? Pasti tak meriah tanpaku kan?” Kurki berkata sambil masih berdiri di depan pintu. ”Aku ke sini karena ingin tahu keadaanmu. Aku kira kau tak hadir di pestaku karena kau sakit.” Peri Hutan berkata dengan nada khawatir.

” …hoaahhmm…aku tak apa-apa ko…sehat sekali…” Kurki berkata sambil menguap. ” ”Lantas kenapa kau tak datang setelah kuundang ke pestaku?” Peri Hutan bertanya. ”Oh itu…aku malas…aku tak ingin ke rumahmu…rumahmu kan jelek sekali, Cuma terbuat dari rumput-rumput dan dahan kering. Sangat jauh berbeda dibandingak rumahku yang indah ini. Jadi aku di rumah saja. Hhh..andaikan ada cara supaya aku bisa selalu di dalam rumah.” Kurki berkata sombong.

Peri Hutan merasa sangat tersinggung dengan ucapan Kurki. Maka perlahan ia mengeluarkan tongka sihirnya. ”Jadi kau ingin bisa selalu di dalam rumah kan? Mari kubantu mewujudkannya.” Peri Hutan berkata sambil mengayuhkan tongkat perinya.

”Hah? Kenapa rumahkua jadi mengecil? Kenapa…kenapa punggungku terasa sakit seperti sedang memanggul bebean yang berat?” Kurki kebingungan. ”Ku mengabulkan permintaanmu. Silakan menikmati rumahmu yang bisa dibawa ke mana-mana.” Peri Hutan berkata. ”Aku haruis begini terus? Harus membawa-bawa rumah yang berat ini? Oh peri mengapa kau tega sekali padaku?” Kurki mengiba. ”Ini hukuman bagi kau yang congkak, Kurki. Semoga kelak kau menjadi hewan yang rendah hati.” Peri Hutan berkata.

Maka Peri Hutan menghilang dan Kurki tinggal sendirian, menyesali sifatnnya yang buruk. Sejak saat itu, kura-kura selalu membawa rumahnya ke manapun dia pergi.

Dongeng ini dipersembahkan oleh Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Bu Barli Yang Pelupa
FID0112A%20-%20Bu%20Barli%20Yang%20Pelupa.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Bu Barli tinggal di Jalan Kemakmuran di Kota Senang. Kenapa disebut Kota Senang? karena memang semua penduduk di kota Senang selalu ceria. Di Kota Senang jarang ada yang bermuka cemberu atau merengut. Mereka sehari-hari selalu terlihat ceria. Mereka juga saling mengenal satu sama lain. Dan merekapun senang untuk saling membantu. Pasti asyik ya tinggal di Kota Senang.

Tapi, di Kota Senang kadang-kadang juga suka terjadi kehebohan yang lucu. Lucunya itu karena kehebohan yang selalu terjadi kalau Bu Barli sedang berjalan-jalan, dan bertemu dengan penduduk yang lainnya. Seperti pagi itu…

”Laa.. la…laa.. laa… laa.. Shubida biduu.. duu… duu…Selamat pagi Bu Titi Kue…” Bu Barli menyapa Bu Titi Kue sambil bersenandung ceria. ” Selamat pagi Bu Barli! Aduuuh, cerah sekali pagi ini! Sama cerahnya dengan kue bolu jualanku…Hihihi..” Bu Titi Kue membalas menyapa dengan ceria. ”Terima kasih…!!Lala..la.la….la..lala…Selamat pagi Pak Koko sayur…!!” Bu Barli pun tidak lupa untuk menyapa Pak Koko Sayur. ”Selamat pagi Bu Barli… hehehe…Aku Koko si penjual sayur siap melayani…!! hehehe.. Mau membeli apa pagi ini Bu Barli…??” Pak Koko Sayur kembali menyapa dan bertanya kepada Bu Barli.

”Mau membeliii…. Mmmm…. Membeli….mmmmm… Aduh !! Aku lupa mau membeli apa pak Koko !!!!” Bu Barli ternyata lupa. Itulah kehebohan yang terjadi di kota senang karena Bu Barli terkenal sebagai orang yang sangat pelupa! Bu Barli sering sekali lupa akan melakukan apa, atau harus membawa apa. Termasuk kalau mau pergi berbelanja, Bu Barli juga sering lupa harus membeli apa. Waduh repot juga ya. Kasihan juga ya Bu barli kalau begitu. Lalu bagaimana ya caranya supaya bisa membantu Bu barli?

Nah, di kota senang, semua memang saling menolong. Jadi hampir setiap hari semua penduduk kota pasti membantu Bu Barli untuk mengingat. Seperti pagi itu…

”Coba Bu Barli. Aku Bantu yaa. Apakah Bu Barli mau membeli buah?” Pak Koko Sayur bertanya kepada Bu Barli. „Mmmmm….Sepertinya bukan Pak Koko Sayur. Aduuuuhh.. apa yaa?” Bu Barli kembali kebingungan. „Mungkin Bu Barli mau membeli kue serabiku…??” Tanya Bu Titi Kue. „Bu Titi Kue, aku suka kue serabimu….

Tapi sepertinya bukan itu yang aku mau beli…” Bu Barli berkata sedih.

Barli yang pelupa sebenarnya tidak ingin kejadian seperti itu terus menerus terjadi. Dia ingin sekali suatu saat nanti bisa menemukan cara untuk tidak pelupa lagi. Tapi bagaimana caranya? Ingat kan kalau penduduk Kota senang itu semuanya senang sekali menolong sesama. Nah, itulah yang mereka lakukan, untuk bisa menolong Bu Barli. Sehingga pada suatu hari adik-adik. Para penduduk Kota senang sepakat untuk berkumpul dan membicarakan caranya. Sekaligus dipertemuan penduduk itu Bu Barli pun hadir di sana.

“Saudara-saudara penduduk kota senang. Kita berkumpul disini untuk membantu Bu Barli..” Pak Koko Sayur berkata kepada semua warga Kota Senang. “Ya siap..! Betul ! Boleh ! Ya ya mau!!.. kasihan Bu Barli…” semua warga Kota Senang Sian membantu.

”Oooohh…. Terima kasih teman-temanku semuaa. Iya aku ini pelupa sekali. Tapi siapa yang bisa memberitahuku cara yang paling gampang untuk bisa mengingat?” Bu Barli berkata dengan sedih.

Maka berembuglah semua penduduk Kota Senang bersama-sama. Masing-masing mengusulkan cara untuk bisa menolong Bu Barli. Macam-macam deh caranya Bubu Mini…Ada yang mengusulkan memakai catatan yang ditempel di lemari es…Ada yang mengusulkan Bu barli harus selalu didampingi teman untuk membantu mengingat…Ada juga yang bilang supaya Bu Barli punya buku khusus untuk daftar belanja…. Lucu yaa.

Tapi ditengah acara itu, salah satu penduduk Kota Senang ada yang duduk dipojok ruangan dan asyik sendiri. Ooo… itu si Kiki coret namanya. Kiki coret itu adalah anak kecil yang pintar sekali menggambar dan Kiki coret kalau membuat gambar bisa dalam waktu saaangat cepat. Nah, ditengah pertemuan, tidak ada yang memperhatikan kalau Kiki coret ternyata dalam waktu yang singkat bisa menggambar wajah semua penduduk kota Senang di buku gambarnya…. Dan sama persis…!! Hebat !! Hanya Bu Barli yang sempat melihat apa yang sedang Kiki coret kerjakan dengan pensil warna dan buku gambarnya. Sehingga Bu Barli mendapatkan ide.

”AAAaa…. Aku tau teman-teman…!!” tiba – tiba Bu Barli berteriak seperti baru mendapatkan suatu ide. Penduduk kota Senang kaget dan  semuanya menjadi lega. Tapi bagaimana caranya? ”Kiki, Aku ingin minta tolong kepadamu untuk membantuku tidak pelupa lagi yaa..” Bu Barli meminta tolong kepada Kiki Coret. ”Boleh Bu Barli, tapi aku bisa Bantu Bu Barli bagaimana…??” Kiki Coret bertanya. ”Maukah kamu membantuku dengan menggambarkan setiap daftar belanjaanku sebelum pergi ke pasar, jadi aku tahu apa yang harus aku beli..” Bu Barli meminta tolong. ”Horreee…. Kiki senaaaang Bu barli… Kiki suka sekali menggambar, pasti Kiki akan Bantu Bu barli” Kiki Coret bersorak kegirangan.

Sejak saat itu setiap pagi sebelum Bu Barli pergi berbelanja, Kiki Coret akan membantu dengan membuat gambar daftar belanjaannya. Bagus - bagus lho ada gambar tomat, gambar bayam, gambar telur, gambar tahu. Bu Barli jadi gampang mengingat.

Dongeng ini persembahan FeMale radio

Paman Gery & Bubu Mini
Si Bungsu dan Lobak Raksasa
SI_BUNGSU_DAN_LOBAK_RAKSASA.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Pada jaman dahulu kala, di sebuah negeri yang subur dan makmur, hidup dua orang kakak beradik yang sifatnya sungguh berbeda satu sama lainnya. Si Sulung adalah seorang pedagang yang kaya raya, tapi ya ampun... sungguh kikir dan sombong. Sedangkan si Bungsu adalah petani lobak yang hidup sederhana, tapi amat baik dan tulus. Nah, suatu hari, Raja yang memimpin negeri itu berulang tahun. Semua orang sibuk mempersiapkan pesta dan hadiah ulang tahun untuk sang raja. Termasuk si Sulung dan si Bungsu.

”Hey, Bungsu. Kau sudah dengar bahwa raja akan berulang tahun pekan depan?” si Sulung menyapa si Bungsu. ”Ya, aku sudah dengar, tapi aku bingung..” si Bungsu kebingungan sambil garuk – garuk kepala.

“Kenapa kau bingung?” tanya si Sulung. “Aku ingin datang ke pesta raja, tapi aku tak tahu harus membawa hadiah apa....” jawab si Bungsu. “Hahahaha...itulah susahnya jadi petani lobak...memberi hadiah untuk raja pun kau tak mampu...hahahahahahha... mengapa...mengapa tak kau berikan saja hasil panen lobakmu? Raja pasti akan suka! Ahahahahah” ledek si Sulung sambil terus tertawa – tawa.

Si Sulung selalu saja mengejek adiknya, si petani lobak. Padahal kan tidak ada salahnya menjadi seorang petani. Tapi, walaupun diejek dan ditertawakan begitu, si Bungsu tidak merasa sakit hati atau putus asa. Dia terus berpikir tentang kado apa yang pantas untuk sang raja. Kebetulan sekali, sehari sebelum ulang tahun raja adalah waktunya untuk panen lobak. Namun, ada kejutan besar yang menanti si Bungsu.

“Ya ampun...lobak ini berat sekali...aduh...aku hampir tak kuat mencabutnya....aarrrggghh...” si Bungsu berusaha keras untuk mencabut lobak dari tanah. “Hah? Besar sekali lobak ini! Wah..hampir 10 kali lipat ukuran lobak biasa! Wah...apa yang harus kulakukan dengna lobak sebesar ini ya.....Aha! Aku tahu! Aku akan menghadiahkannya pada raja, seperti usul si sulung kakakku!” si Bungsu kegirangan.

Maka si Bungsu datang ke istana membawa lobak raksasa. Dia sampai harus menyewa kereta kuda untuk membawa itu, saking besarnya. Ketika sampai di istana, semua orang tercengang melihat ukuran lobak itu. Tak ada satu orang pun yang bersuara.

“Raja yang bijaksana, ada seorang petani datang membawakan hadiah untuk ulang tahun Yang Mulia.” pengawal Raja memberitahu sang Raja. “Seorang petani? Ah, bolehlah, cepat suruh dia masuk.” Memerintahkan sang pengawal.

“Petani, kau boleh masuk.” Sang pengawal menyuruh si Bungsu untuk masuk ke ruangan Raja. “Ampuni hamba raja, ini hamba bawakan lobak raksasa dari kebun hamba sendiri untuk ulang tahun Yang Mulia.” sambil menunduk hormat ke sang Raja. “Hahahaha...baru pertama kali aku melihat lobak sebesar ini! Kau pasti petani yang sangat rajin dan tekun! Aku terima hadiah ini, aku senang sekali punya lobak raksasa.
Paman Gery & Bubu Mini
Dio Ingin Terbang
DIO_INGIN_TERBANG.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Dio adalah seorang anak laki-laki, usianya 7 tahun. Rambutnya hitam legam, kulitnya sawo matang. Matanya yang bulat dan besar membuatnya terlihat cerdas! Tapi Dio memang cerdas. Ia rajin belajar dan suka sekali membaca. Buku kesukaannya adalah buku dongeng. Dio ini anak yang istimewa. Walaupun ia sudah tidak memiliki orang tua dan ia tinggal di panti asuhan, Dio selalu ceria. Dio sangat disayang oleh seisi panti asuhan, termasuk oleh ibu kepala panti asuhan.

“Dio! Dio! Ayo sarapan dulu. Ini ibu buatkan telur dadar kesukaanmu.” Ibu Kepala memanggil – manggil. Dio berlari – lari menghampiri Ibu Kepala, “Kau sedang apa sih Dio? Pagi-pagi begini mengapa sudah di padang rumput?” Tanya Ibu Kepala.

“Aku..baru saja..menerbangkan..pesawat-pesawatku...eh iya bu...yuk sarapan sama-sama. Aku lapar!” sambil terengah – engah.

Dio ini punya hobi yang agak unik. Dia suka membuat pesawat terbang dari kertas-kertas yang sudah tak terpakai. Dalam sehari, Dio bisa membuat puluhan pesawat terbang! Tapi ini bukan pesawat terbang biasa! Dio menyebutnya “Pesawat Kebahagiaan”. Sebelum dibentuk menjadi pesawat, Dio menulisi kertasnya terlebih dahulu. Biasanya Dio menggambar dirinya sendiri kemudian menuliskan nama, alamat, dan sedikit tentang dirinya.

“Apa yang kau tulis hari ini di Pesawat Kebahagiaan, Dio?” tanya Ibu Kepala. “Hmm aku menuliskan begini, Bu: “halo, aku Dio, umurku 7 tahun, aku senang membaca dan bernyanyi. Aku juga selalu ingin terbang.” Begitu, ibu kepala.” Jawab Dio dengan mata berbinar – binar. “Oh, bagus sekali tulisannya. Semoga benar-benar akan membawa kebahagiaan untukmu ya.” Sambil mengusap kepala Dio.

Dio memang selalu ingin terbang. Ia sering mengamati burung-burung yang riang hinggap di depan jendela kamarnya. Ia berharap suatu hari bisa terbang seperti burung-burung itu. Tanpa Dio ketahui, salah satu pesawatnya terbang hingga ke rumah Bapak dan Ibu Angkasa.

”Bu, tadi ketika menyapu halaman aku menemukan pesawat kertas ini. Coba lihat, kelihatan kokoh sekali ya. Pasti dibuat oleh anak yang pandai.” Bapak Angkasa berkata ke Ibu Angkasa. ”Wah iya bagus sekali...eh tapi sepertinya ada tulisan di kertasnya, Pak...dan ada gambar warna-warni. Coba kita buka dulu pesawatnya.” Ibu Angkasa menyuruh Bapak Angkasa untuk membaca tulisannya.

”Kau benar, Bu, ada tulisannya....”halo aku Dio, umurku 7 tahun..aku suka membaca dan bernyanyi tapi aku paling ingin bisa terbang...”...dan gambarnya juga bagus. Lihat ini!” Bapak Angkasa menunjukkan ke Ibu Angkasa. ”Hm...pandai sekali anak ini...dan kata-katanya terasa tulus dan jujur....sepertinya dia anak yang baik ya Pak.” Ibu Angkasa berkata kagum. ”Betul sekali....aku jadi penasaran...sepertinya si Dio ini menuliskan alamatnya...nah ini dia...Panti Asuhan Delima?” Bapak Angkasa bertanya – tanya. ”Oh, anak yang malang...dia tinggal di panti asuhan? Pak, sepertinya ada sesuatu tentang anak itu. Aku ingin bertemu dengannya. Aku merasa... pesawat itu hinggap di halaman kita bukan karena kebetulan.” Ibu Angkasa berkata kepada Bapak Angkasa.

Maka pergilah Bapak dan Ibu Angkasa ke panti asuhan tempat Dio tinggal. Di sana mereka disambut oleh Ibu Kepala Panti Asuhan yang ramah. ”Selamat datang di Panti Asuhan Matahari. Ada yang bisa kami bantu?” Ibu Kepala menyambut Bapak dan Ibu Angkasa. ”Ibu kepala, apakah benar ada seorang anak bernama Dio di sini? Bolehkah kami bertemu dengannya?” Ibu Angkasa bertanya kepada Ibu Kepala.

” Iya...dia tinggal di sini...tapi ada apa? Mengapa kalian mau bertemu dengannya?” Ibu Kepala bertanya kebingungan. ”Kami menemukan pesawat kertas buatan Dio di halaman kami...bukan hanya satu, tapi ada 7 buah! Setiap hari, hadir satu buah pesawat di halaman kami.” Bapak Angkasa menceritakan kepada Ibu Kepala. ”Betul Ibu Kepala...ini tak mungkin kebetulan. Karena itu kami ingin bertemu Dio. Bolehkah?” Ibu Angkasa meminta kepada Ibu Kepala.

Ibu Kepala terheran-heran, tapi sambil tersenyum ia menganggukkan kepala, lalu memanggil Dio untuk datang ke ruangannya. Ketika Dio datang, wajah Bapak dan Ibu Angkasa langsung berbinar ceria!

”Dio, ini adalah Bapak dan Ibu Angkasa...ternyata beberapa buah Pesawat Kebahagiaan-mu sampai ke rumah Bapak dan Ibu ini....mereka ingin tahu siapa yang membuatnya.” Ibu Kepala memperkenalkan Dio. ”Waduh..maafkan aku, Pak, Bu....aku mengotori halaman kalian ya? Maaf, aku tak bermaksud begitu. Biar nanti kubersihkan ya. Maaf ...” Dio ketakutan sambil meminta maaf.

”Oh bukan itu, Dio....kami...senang sekali pesawatmu hinggap di halaman kami...Ibu dan Bapak ingin berteman dengan Dio, boleh?” tanya Ibu Angkasa. ”Berteman? Wah, tentu boleh! Jadi kalian tidak marah padaku?” Dio kembali bertanya. ”Tidak Dio, tidak ada yang marah padamu. Dio, pesawat-pesawatmu itu bagus sekali. Apa maksudmu membuat pesawat kertas banyak-banyak?” Bapak Angkasa bertanya penasaran. ”Hm...aku selalu ingin terbang...seperti burung...hmm...supaya aku dapat mencari orang tua untukku sendiri....hehehe..” Dio akhirnya menceritakan maksudnya membuat pesawat – pesawat tersebut.

Bapak dan Ibu Angkasa tertegun. Mereka tersentuh sekali dengan Dio yang polos dan jujur. Ibu Angkasa sampai-sampai meneteskan air mata. “Dio...kalau...kalau Dio mau...Dio tak perlu terbang mencari orang tua..Bapak dan Ibu ingin menjadi orang tua Dio...Apakah Dio mau?” Ibu Angkasa bertanya sambil menahan tangis.

Oh oh oh, betapa terkejutnya Dio! Awalnya ia tak percaya, tapi kemudian ia menganggukkan kepala dengan sangat gembira. Ia mau menjadi anak Bapak dan Ibu Angkasa. Waaah....bahagia sekali mereka. Ternyata Bapak Angkasa itu adalah seorang pilot pesawat terbang! Jadi, setelah Dio menjadi anak Bapak dan Ibu Angkasa, Dio benar-benar bisa terbang karena Bapak Angkasa kadang mengajak Dio naik pesawat terbangnya!

Paman Gery & Bubu Mini
Cangkir Putih Tak Berkuping
CANGKIR_PUTIH.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Adik-adik, kalau kalian pernah melihat ibu memiliki satu set cangkir minum teh di rumah, pernah gak kalian menghitung ada berapa jumlahnya semua? Biasanya itu ada 6 cangkir, lalu akan ada juga satu teko yang biasanya berisi air teh hangat yang akan disajikan. Cangkir-cangkir itu warnanya macam-macam ada merah, kuning, hijau, biru, ungu. Tapi salah satu cangkir kecil itu cangkir putih yang tak berkuping, kenapa ya kok diam saja? Sedangkan yang lain berkumpul di dalam lemari dan sepertinya sedang bersiap-siap, mau kemana ya?

“Lihat dong!! aku si cangkir merah, warnaku cerah, dan bersih!! Ya kan?” kata si cangkir merah kepada saudara – saudara cangkirnya. “Aku juga!!, si cangkir hijau yang caaaaantik, hihihi…” kata si cangkir hijau tidak mau kalah. “Aku juga..Aku juga sudah bersih.. dan cantik! Aku juga!” cangkir – cangkir lainnya pun ikutan tidak mau kalah.

Tiba – tiba Ibu Teko datang menghampiri mereka, “Sudah, sudah anak-anak. Kalian memang sudah sangat cantik, bersih dan siap untuk jadi cangkir minuman terbaik sore ini” cangkir – cangkir pun berteriak kegirangan.

Hari itu memang sedang ada persiapan acara minum teh di rumah, dan semua cangkir cantik itu sedang bersiap-siap. Tapi ditengah persiapan, ibu teko mengatakan sesuatu kepada cangkir putih yang tidak berkuping, “Putih, sepertinya tamu yang datang nanti ada lima orang dan sudah dipilih saudara-saudaramu yang lain yang akan menyediakan teh buat para tamu.”

Ternyata itu alasannya kenapa cangkir putih yang tak berkuping diaaam saja, dia merasa sedih. Cangkir putih tidak akan disediakan di meja, dan akan sendirian di dalam lemari.  Sementara saudara-saudaranya yang lain, pasti senang menjadi penyaji teh buat para tamu dan tampilll dengan cantik! Kasihan dia. Cangkir putih hanya bisa melihat dari balik kaca lemari, sementara yang lainnya bersenang-senang.

“Kupingku patah, aku pasti cangkir yang paling buruk. Beda dengan saudara-saudaraku, kuping mereka lengkap semua, dan orang-orang sepertinya lebih senang memakai cangkir yang berwarna untuk menyajikan teh.” Cangkir putih bersedih dalam hati.

Karena kebandelannya sendiri, cangkir putih suatu hari pernah tidak menuruti nasehat Ibu Teko untuk tidak main-main ke pinggir rak lemari. Jadinya karena kesenangan bermain dan berguling-guling, cangkir putih terjatuh dan kehilangan kupingnya. Dan sejak saat itu cangkir putih tidak pernah dipilih lagi untuk menyajikan minuman buat para tamu.

Tapi hari ini kok ada yang aneh di acara minum tehnya?! Cangkir – cangkir tersebut panik karena ternyata para tamu mencari cangkir yang berwarna putih. Wadah cangkir berwarna putih dianggap oleh para tamu bisa dengan jelas memperlihatkan warna teh yang pas dengan selera kekentalannya, semakin teh itu berwarna gelap, maka pasti rasanya semakin pahit, tapi kalau terlalu bening, rasa tehnya juga tidak akan terasa.

Ibu Teko kemudian menghampiri si cangkir putih tak berkuping, “Putih, inilah saatnya kamu bisa menjadi cangkir yang akan bisa membantu saudara-saudaramu yang lain, hanya kamu satu-satunya cangkir berwarna putih yang ada. Biarpun kamu tidak memiliki kuping, tapi justru kamulah yang bisa menolong. Mau kan..?” Cangkir putih pun setuju untuk menolong.

Sekarang acara jamuan minum teh itu jadi tambah meriah. Ada sesuatu yang unik lho.  Cangkir putih tak berkuping menjadi penolong bagi cangkir berwarna yang lainnya.

Iya mengaduk teh sampai sesuai kekentalan dan warnanya, sebelum menuangkan teh itu ke cangkir berwarna yang lain. Dan sejak saat itu, cangkir putih tak berkuping tidak kecil hati lagi, dia tahu dirinya berguna dan bisa menolong yang lain, walaupun ia juga memiliki kekurangan, tidak punya kuping.

Cangkir putih tak berkuping memang tidak sempurna seperti cangkir yang lainnya, tapi pada suatu saat, dia menjadi cangkir yang paling berguna dan bisa membantu saudara-saudaranya. Sama juga dengan kita, kalau melihat ada teman kita yang berbeda atau memiliki kekurangan, kita harus sadar, siapa tahu dia memiliki kelebihan lain yang tidak kita miliki. Setiap orang memang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Bertemanlah dengan semua yang baik, dan belajarlah menjadi seseorang yang berguna di bidangnya masing-masing.

Dongeng ini persembahan FeMale radio

Paman Gery & Bubu Mini
Asal Usul Bunga Sepatu
ASAL_USUL_BUNGA_SEPATU.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Dahulu kala, di kerajaan kahyangan, ada tujuh orang puteri. Nama-nama mereka diambil dari nama bunga. Mawar, Dahlia, Cempaka, Tanjung, Kenanga, Cendana dan si bungsu Melati. Putri-putri itu semua cantik jelita. Tapi yang paling cantik dan berani adalah si bungsu, Melati. Ia suka berpetualang ke Rimba Hijau, sebuah hutan yang sering dilewati manusia. Padahal ayahnya telah berulangkali memperingatkan, ”Melati anakku, aku tahu kau suka sekali pergi ke Rimba Hijau. Tapi di sana berbahaya, nak. Banyak manusia berkeliaran.” Tapi Melati selalu mengatakan, ”Tapi ayah, manusia-manusia itu tak pernah melihatku. Aku kan pandai bersembunyi di antara semak dan pepohonan. Ayah tenang saja ya.” Mendengar hal tersebut sang Ayah pun kembali melarangnya, ”Jangan, Melati...jangan pergi sendiri ke Rimba Hijau.” Melati menjawab dengan terpaksa, ”Hhhh....baiklah Ayah...”, namun dalam hati ia berkata, ” tapi berarti jika aku pergi bersama-sama, tidak apa-apa kan?”

Melati tidak nakal, ia hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Jadi, nasihat ayahnya pun tidak dipatuhinya. Melati malah mengajak semua kakaknya untuk pergi ke Rimba Hijau!

”Melati, aku takut...” ujar Mawar kakaknya, ”Iya aku juga takut. Bagaimana jika kita terlihat manusia?” ujar Dahlia yang mulai ikut khawatir. Namun Melati berhasil meyakinkan kakak – kakaknya bahwa semuanya akan baik – baik saja, ”Tidak apa-apa, kakak-kakakku...tenang saja...kita aman di sini. Yuk kita main-main di air terjun!”

Maka bermainlah para putri kahyangan itu di air terjun. Saking asyiknya bermain, mereka tidak melihat bahwa ada seorang manusia yang memperhatikan dari kejauhan. Manusia itu adalah seorang putra raja yang tersesat di hutan. Ia terkejut melihat 7 putri cantik di hutan rimba. ”Hah? Apakah mataku salah? Aku melihat 6 orang, bukan, 7 orang gadis rupawan di sekitar air terjun. Siapakah mereka? Oh, cantiknya. Ah lebih baik kudekati perlahan.” pangeran berkata dalam hati.

Akhirnya sang pangeran pun menghampiri gadis – gadis itu, ”Para putri yang cantik jelita, aku adalah Pangeran negri seberang. Siapakah kalian, dan mengapa kalian ada di sini?” Para putri yang sedang asyik bermain terkejut dengan kehadiran sang pangeran. Mereka langsung lari berhamburan ke segala arah. Melihat semua putri – putri tersebut kabur berlarian, sang pangeran pun berteriak, ”Jangan takut! Jangan pergi! Aku hanya ingin berteman. Hey tunggu! Jangan pergii!!”

Pangeran itu berusaha mengejar para putri, tapi mereka terlalu cepat. Dengan panik para putri bersiap-siap untuk terbang kembali ke khayangan. Kecuali Melati yang terseok-seok keluar dari kolam air terjun, ”Aduh, tunggu aku kak, kainku, sepatuku, aduh tunggu..”

Oh, karena Melati tadi sedang berenang, ia tak mendengar kedatangan si pangeran. Jadi ia pun terlambat menyadari bahaya! Sang pangeran akhirnya berusaha untuk menghampiri Melati, ”Ah, masih ada satu putri yang tertinggal. Mungkin aku bisa berkenalan dengannya, aku ingin tahu dari mana mereka berasal. Putri!”

Oh untunglah Melati berhasil terbang meninggalkan si Pangeran sebelum pangeran sempat menangkapnya. Tapi, karena terburu-buru, ketika ia terbang, sepatunya terlepas! ” Aduuuh sepatuku, ah tapi yang penting aku selamat. Ternyata ayah benar, hutan ini berbahaya. Seharusnya aku menurut pada ayah...huhuhu..maafkan aku ayaah...maafkan aku kakak-kakak...huhuhu” Melati terbang sambil menangis terisak – isak.

”Ah, sayang sekali aku tak berhasil menangkap bidadari terakhir itu....tapi tak apalah, paling tidak aku berhasil menangkap sepatunya yang lepas tadi...wah, sepatu ini indah sekali... seperti disulam dengan benang emas..lembuut sekali.” Sang pangeran berkata.

Saking indah dan lembutnya, sepatu itu tergelincir dari genggaman sang pangeran dan jatuh di atas rerumputan. Tiba-tiba saja, sepatu itu berubah menjadi sekuntum bunga yang indaaaah sekali. Nah, bunga indah itulah yang kemudian dinamakan bunga sepatu karena konon berasal dari sepatu Melati si putri khayangan.

[Dongeng ini disadur dari majalah Bobo persembahan FeMale Radio]

Paman Gery & Bubu Mini
Putri Warna Warni
PUTRI_WARNA_WARNI.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di sebuah hutan yang lebat, jauh dari keramaian manusia, hiduplah seorang ibu tua yang mempunyai seorang anak perempuan yang cantik rupawan. Tapi ada suatu keunikan pada anak itu. Kulit tubuh anak perempuan itu bisa berubah-ubah warnanya. Jika ia duduk di atas rumput, kulitnya berubah menjadi hijau. Jika ia makan buah sawo, kulitnya berubah menjadi coklat. Dan pada saat malam tak berbintang, kulitnya menjadi hitam kelam. Ia pun dijuluki Si Putri Warna-Warni dan sering diolok-olok.

Karena itu, ia hanya punya satu teman, yaitu si Bunglon, “Wahai, putri warna-warni yang baik hati, apa yang sedang kau pikirkan? Mengapa wajahmu muram sekali, padahal matahari bersinar cerah!”

“Oh Bunglon sahabatku, aku malu dengan keadaanku. Aku tak punya teman manusia karena semua orang menganggap aku aneh dan menggelikan. Bahkan, lebih buruk lagi, banyak yang takut padaku.” Sang putri berkata. ”Aku tak takut padamu. Kau baik hati dan selalu sayang pada semua hewan di hutan ini. Aku senang berteman denganmu, putri.” sang bunglon berusaha menghibur sang putri.

Putri Warna-Warni dan Bunglon memang berteman baik. Mereka pun bermain di hutan sampai malam datang. Bulan yang bersinar cerah membuat hutan kelihatan berkilauan. ” Waaah...bulan terlihat sangat cantik malam ini, Bunglon! Lihat! Sinarnya yang keperakan menembus sela-sela pepohonan.” sang putri berkata sambil terus menatap bulan di langit. ” Bukan hanya bulan yang tampak cantik malam ini, Putri. Dirimu sendiri terlihat berkilauan terkena cahaya bulan.” sang bunglon berkata.

”Ah, kau pasti hanya ingin menyenangkan aku kan, Bunglon.” sang putri berkata, tiba – tiba terdengar suara dedaunan terinjak, sang putri pun kaget dan berteriak, ”Hah, siapa itu? Siapa kau? Tunjukkan dirimu!” Tiba – tiba terdengar suara langkah kaki dan muncullah seorang pangeran, ” A...aku ...aku pangeran dari negri seberang...aku tertinggal rombongan saat berburu kijang tadi siang...aku tak bermaksud jahat...aku hanya..terpesona..”

”Oh jadi kau yang membuat kawanan kijang lari ketakutan tadi siang? Huh, pemburu tak tahu diri. Jangan macam-macam kau!” sang putri berkata dengan ketus. ”Maafkan aku... menurut kebiasaan, setiap pangeran harus mahir berburu...tapi putri...aku bersedia meninggalkan kebiasaan itu jika...jika kau mau ikut aku ke istana Tidak hanya cantik, kau juga pemberani dan baik hati...aku ingin menjadikanmu permaisuriku. Kalau kau setuju, aku akan menjemputmu 3 hari lagi.” sang pangeran berkata.

Putri Warna-Warni sangat terkejut mendengar permintaan sang pangeran. Segera ia berlari kembali ke rumah untuk meminta pendapat sang ibu. Putri Warna-Warni dan sang ibu akhirnya setuju untuk diajak ke istana. Putri begitu bahagia membayangkan akan hidup di istana dan serba berkecukupan. Saking senangnya, putri sampai bermimpi tentang pernikahannya. Tapi ia juga bermimpi tentang hal lain. Ia bermimpi bahwa sang Pangeran sedih setelah mengetahui bahwa kulit Putri warna-warni berubah-ubah terus. Kadang terlihat cantik, kadang terlihat jelek. Mimpi itu membuat Putri gelisah.

Putri masih mempunyai waktu 2 hari sebelum dijemput sang Pangeran. Ia menghabiskan waktu dengan berpikir dan berdoa, mohon petunjuk Yang Maha Kuasa. Ketika malam menjelang, Putri Warna-Warni kembali bermimpi. Seorang pertapa sakti muncul di mimpinya, ”Hai putri yang cantik. Mudah sekali cara menyembuhkan perubahan warna kulitmu itu. Makanlah daging bunglon temanmu itu, maka kulitmu akan normal kembali.” sang pertapa dalam mimpi tersebut berkata.

Ketika terbangun, putri langsung menceritakan mimpinya kepada si Bunglon sahabatnya. Dan ternyata, Bunglon mengalami mimpi yang sama! Dan akhirnya si Bunglon pun berkata, ” Sahabatku yang baik, mimpiku juga sama dengan mimpimu. Seorang pertapa sakti memintaku untuk bersedia memberikan tubuhku untuk kesembuhanmu. Aku bersedia membantumu, Putri, asal hidupmu bahagia bersama Pangeran.”

”Tak mungkin aku melakukan itu, Bunglon! Tak mungkin! Kau satu-satunya sahabatku, tak mungkin aku mau memakanmu!” sang putri berkata. Tapi si bunglon tetap meminta sang putri untuk memakannya, demi kesembuhan sang putri. ”Tak akan kulakukan itu, Bunglon sahabatku. Tak akan, sampai kapan pun! Biarlah aku tak jadi permaisuri, harta-benda tak penting bagiku. Biarlah aku menjadi Putri Warna-Warni seperti ini saja.” sang putri tetap pada keputusannya.

Tepat setelah Putri mengucapkan kata-kata itu, terjadi perubahan yang menakjubkan! Kulit Putri Warna-warni yang tadinya berwarna coklat karena duduk di batang pohon, tiba-tiba perlahan berubah menjadi kuning langsat. Kulitnya sangat indah dan halus. Itu karena Putri telah membuktikan bahwa ia berhati mulia. ia tak mau mengorbankan temannya demi kesenangan pribadi. Teman yang baik itu memang harus saling menyayangi ya.

[Dongeng ini disadur dari Majalah Bobo persembahan Female Radio]

Paman Gery & Bubu Mini
Raja di Penginapan Pintu Singa
RAJA%20DI%20PENGINAPAN%20PINTU%20SINGA.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Pada zaman dahulu kala, di sebuah gurun nan tandus, terdapat sebuah penginapan yang sangat terkenal ke seluruh negri. Penginapan itu diberi nama Penginapan Pintu Singa karena di depan pintu masuknya terdapat patung singa yang sangat besar. Penginapan Pintu Singa sangatlah terkenal, sehingga semua orang penting dari kerajaan dan semua saudagar kaya selalu singgah di penginapan itu.

“Pelayan, seperti biasa, pertengahan tahun seperti ini penginapan kita selalu penuh, ya” sang pemilik penginapan berkata kepada sang pelayan. “Benar, Tuan. Ini adalah bulan yang paling sibuk bagi kita. Kita harus memberikan pelayanan dan fasilitas yang terbaik untuk para tamu.” Sang pelayan menjawab.

“Kau sudah merapikan semua kamar, kan? Sudah menghangatkan makanan?” sang pemilik penginapan bertanya kepada sang pelayan. “Tentu sudah, Tuan. Semua sudah beres. Eh, sebentar tuan, sepertinya ada yang mengetuk pintu.” Sang pelayan beranjak menuju pintu untuk membukanya.

“Selamat datang di Penginapan Pintu Singa.” Sang pelayan menyambut tamu yang datang, ternyata tamu yang datang itu adalah sang Mentri, “Hai, pelayan, berikan aku kamar termahal dan terbaik di sini.” Ia berkata kepada sang pelayan. “Maaf Tuan, kamar termahal dan terbaik di sini telah disewa oleh seorang saudagar yang sekarang sedang berdagang ke kota.” Sang pelayan menjawab. “Ah, cuma oleh seorang saudagar? Aku ini seorang menteri! Usir saja orang itu dan siapkan kamar itu untukku. Kalau dia marah, suruh dia menghadapku!” sang mentri memberi perintah kepada sang pelayan. “B..b..baiklah, Tuan menteri…..silakan duduk menunggu..” ujar sang pelayan sambil berlari terburu – buru menghampiri sang pemilik.

”Bagaimana ini, Tuan? Apakah sebaiknya kita berikan saja kamar itu?” sang pelayan bertanya kepada sang pemilik, ” Ya sudah, kita bisa apa lagi? Jangan sampai Tuan Menteri marah.” sang pemilik menjawab.

Tak lama setelah Menteri menempati kamarnya, datanglah Perdana Mentri ke penginapan pintu singa, ”Hai, pemilik penginapan! Aku mau menginap satu malam. Berikan aku kamar yang termahal dan terbaik di antara semua kamarmu!” sang pemilik pun menjawab dengan ketakutan, ”Eh…maaf tuan…tapi kamar termahal dan terbaik di sini telah disewa. Bolehkah saya menawarkan kamar yang kedua terbaik di penginapan ini?”

”Hah! Aku tak sudi menginap di kamar yang kedua terbaik di sini! Memangnya siapa yang menyewa kamar itu?” sang Perdana Mentri bertanya dengan nada ketus, ”Kamar itu disewa seorang Menteri. Hamba tak berani mengusirnya.” sang pemilik menjawab.

”Seorang menteri?? Aku adalah Perdana Menteri! Berikan kamar itu untukku atau kututup penginapan ini! Dan berikan aku makanan hangat. Sekarang!” memerintahkan sang pemilik, ”Baiklah..baiklah…” lalu sang pemilik memerintahkan sang pelayan untuk menyiapkan makanan untuk Perdana Menteri yang terhormat.

Mengapa orang-orang itu terkesan sombong dan congkak ya? Padahal kan itu tidak baik. Seharusnya memang begitu, mungkin karena merasa dirinya lebih daripada yang lain, mereka jadi sombong. Tiba – tiba terdengar suara ketukan pintu.

Seorang pengawal berdiri di depan pintu masuk, ”Perhatian, perhatian, Raja akan memasuki Penginapan Pintu Singa. Semua diharap berdiri.” sang pemilik langsung berlari ke depan pintu masuk sambil berteriak kegirangan, ”Oh, beruntung sekali aku hari ini! Raja datang ke penginapanku!!”

”Wahai pemilik penginapan yang budiman, apakah masih ada kamar yang kosong untukku dan pengawalku? Sudah terlalu malam untuk kembali ke istana dan cuaca sangat buruk.” sang Raja berkata. ”Tentu, tentu masih ada raja. Akan kusiapkan kamar terbaik di sini untuk Yang Mulia.” sang pemilik menjawab.

”Ah tak perlu yang terbaik, asalkan bersih dan aku bisa istirahat dengan tenang. Oh, satu lagi, adakah sedikit makanan yang bisa kulahap sebelum tidur?” sang Raja berkata ke sang pemilik. ”Tentu ada Yang Mulia! Tapi, karena hari sudah terlalu malam, hanya ada roti dan sedikit potongan ayam. Maafkan aku…jika saja hamba tahu Yang Mulia akan berkunjung, tentu akan hamba siapkan yang terbaik…Ampun, Rajaku…aku pantas dihukum.” sang pemilik berkata dengan nada ketakutan. ”Hahaha…tidak perlu begitu…yang kau miliki juga sudah cukup untukku dan pengawalku.” sang raja menenangkan sang pemilik.

Ternyata Raja adalah orang yang sangat sederhana dan rendah hati ya. Raja itu pasti bijaksana dan adil. Ketika Raja sedang menyantap makanan seadanya, keluarlah si Perdana Menteri dari kamar terbaiknya. Betapa terkejut ia melihat Raja berada di sana. Perdana Menteri lebih heran lagi melihat Raja makan bersama pengawalnya, dan makanannya pun hanya beberapa potong roti dengan ayam. Akhirnya Perdana Menteri menyadari sifatnya yang terlalu sombong. Ia berjanji akan hidup lebih sabar dan sederhana, seperti Rajanya yang bijaksana. Sifat Raja yang terpuji itu akhirnya diikuti oleh semua pejabat kerajaan. memang seharusnya begitu. Kita tak boleh sombong dan congkak, apapun alasannya!

[Dongeng ini disadur dari Majalah Bobo persembahan Female Radio]

Paman Gery & Bubu Mini
Kisah Lima Jari
KISAH_LIMA_JARI.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Anakku, apakah kamu tahu nama masing-masing jari di tangan kalian? Hayo, coba disebutkan satu-satu: ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, jari manis, dan jari kelingking. Hebat! Kelima jari ini bentuknya berbeda-beda, dan semua punya tugas masing-masing. Eh eh, tapi ada suara apa ya itu? Sepertinya para jari sedang bertengkar. Wah wah, ada apa ya ini?

“Akulah yang paling hebat!” Ibu jari berkata dengan suara lantang. ”Aku! Akulah yang paling berguna!” Telunjuk tidak mau kalah. ”Ah kalian tak akan mengalahkanku. Aku yang terpenting.” Jari Manis juga ikut tidak mau kalah. ” Hey hey, dengarkan, akulah yang dibutuhkan manusia!” Kelingking tiba – tiba ikut membanggakan dirinya. ”Hey, hey, mengapa kalian bertengkar? Apa yang terjadi, ibu jari?” Jari Tengah berusaha menenangkan mereka.

”Huh, mereka tak mau mengakui kehebatanku! Padahal kan sudah jelas, semua orang mengacungkan untuk menandakan kehebatan.” Ibu jari berkata. ”Tapi aku lebih penting. Semua orang menggunakan telunjuk untuk menunjuk apapun. Jika aku tak ada, manusia tak akan pernah bisa menunjuk dan akan kebingungan.” Telunjuk kembali tidak mau kalah. ”Ah kalian ini bertengkar saja. Aku si jari manis lah sebenarnya yang paling indah. Aku yang paling lembut, paling penuh cinta, dan paling menawan. Buktinya, orang pasti memasangkan cincin pada diriku kan?” Jari Manis membanggakan dirinya.

”Hah, jangan sombong dulu, jari manis. Justru akulah, si kelingking, yang mempunyai tugas terbesar dan terberat di antara kalian. Akulah pembawa perdamaian. Tanpa aku, dunia akan penuh dendam dan amarah. Lihat saja, semua orang pasti saling  mengaitkan jari kelingking untuk berbaikan. Betul kaan?” Kelingking meminta persetujuan saudara – saudaranya, tapi malah disambut dengan seru – seruan tanda tidak setuju dari semuanya.

”Oh sudah-sudah, jangan bertengkar saudara-saudaraku. Kita memang mempunyai tugas yang berbeda-beda, tapi sebenernya kita sama. Tugas utama kita adalah membantu manusia dalam hidupnya.” Jari tengah kembali menjadi penengah. “Alaaah, kau tahu apa, Jari Tengah? Dirimu paling tidak berguna dan paling tidak istimewa dibandingkan kami semua!” Ibu jari berkata dengan nada ketus. “Benar itu, Ibu Jari. Si jari tengah kan memang tak punya keistimewaan. Ahahahaha, kasihan sekali jari tengah..hahahaha..” Telunjuk menyetujui Ibu jari.

”Janganlah kalian mengolok-olokku...memang aku tidak istimewa, tapi aku kan juga bagian dari kalian.” Jari tengah berkata dengan sabar, disambut dengan tawa dari saudara – saudaranya.

Wah, jari tengah sedih sekali. Ia merasa tak berguna dan tak dibutuhkan. Nah, saat ia sedang sedih itu, Ibu Buku menegurnya dari balik rak buku, ”Wahai, jari tengah yang bersedih, apa yang terjadi?”

”Saudara-saudaraku tidak menganggap aku penting...kata mereka aku tak berguna dan tidak istimewa...huhihuhuhu” Jari tengah menjawab sambil terisak. ”Jangan bersedih, jari tengah. Ingatlah bahwa segala sesuatu di dunia ini pasti ada kegunaannya. Kau juga pasti tahu itu kan?” Bunda buku bertanya kepada Jari Tengah. ”Tapi apa kegunaanku? Huhuhuhu” Jari tengah kembali tersedu – sedu.

Kasihan sekali si Jari Tengah. Ia menangis tersedu-sedu. Tapi Bunda Buku punya ide! Betul, Paman! Ide yang bagus sekali. Jadi begini, adik-adik, Bunda Buku tiba-tiba saja menjatuhkan diri dari rak tempat ia disimpan.

”Tolooong...hey, toloong akuu...aku terjatuh dari rak...tolong bantu kembalikan aku ke tempat asalku. Para jari, tolong aku ya...” Bunda Buku berteriak minta tolong. ”Biar aku yang mengankat, aku kan yang paling hebat! Arrrghhh...terlalu..berat...aku tak sanggup.” Ibu Jari berusaha untuk mengangkat tapi tak sanggup. ”Ahahah, begitu saja kau tak sanggup, ibu jari. Mari lihat aku, si telunjuk yang perkasa dan berguna! Akan kuangkat buku ini.....eeerrrghhh...eeerrrghh...aduh! berat juga ya buku ini.” Jari telunjuk pun ternyata tak sanggup.

”Wah, kalau ibu jari dan telunjuk saja tak bisa mengangkat buku itu, bagaimana dengan kita, jari kelingking?” Jari manis berkata kepada kelingking. ”Oh aku juga tak berani mengangkat buku itu sendiri, tak akan kuat!” Kelingking pun merasa tak mampu.

”Saudara-saudaraku, bagaimana jika kita angkat buku itu sama-sama? Kita berlima pasti lebih kuat daripada sendiri-sendiri. Betul kan? Ayo kita coba angkat sama-sama....satu...dua...tiiiii....ga!!!” Jari tengah berkata. Akhirnya mereka berhasil mengangkat Bunda Buku dan mengembalikannya ke rak buku.

Ibu Jari dan Telunjuk akhirnya meminta maaf kepada Jari Tengah karena sudah mengatakan ia tak berguna dan ternyata malah Jari Tengah yang justru paling bijak dan pintar.

Si jari tengah pun bahagia karena menemukan kelebihannya, yaitu sebagai penengah. Cocok sekali dengan namanya ya, jari tengah menjadi penegah. Gak ada yang suka sombong dan bertengkar dengan saudara-saudaranya kan? Jangan ya...lebih asyik kalau kita rukun dan main sama-sama.

Dongeng ini dipersembahkan oleh Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Semut yang Hemat
SEMUT_YANG_HEMAT.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di sebuah negri di tepi sungai, tersebutlah sebuah desa yang penduduknya hidup dengan aman, damai, dan sangat berkecukupan. Sebagian besar penduduk desa itu bekerja sebagai saudagar barang-barang berharga. Desa itu memang terkenal kaya raya karena di desa itu terdapat tambang intan. Tapi sayangnya, penduduk desa itu suka menghambur-hamburkan uang. Padahal menghamburkan uang itu kan tidak baik ya. Kepala desa itu pun sering khawatir melihat perilaku warganya. Ia sering berjalan-jalan ke hutan sendirian sambil berpikir, apa yang seharusnya ia lakukan terhadap warga desanya. Nah, tiba-tiba pada suatu hari, saat kepala desa sedang berjalan-jalan di hutan.

” Tidaaak, jangan injak akuuuu” teriak si semut. ”Hah? Suara siapa itu? Di sini kan tidak ada siapa-siapa..!” Kepala Desa bingung sambil melihat ke kanan dan ke kiri. ”Aku di sini! Di bawah! di tanah!” semut berusaha berteriak sambil loncat – loncat supaya terdengar oleh kepala desa. ”Di tanah? Lho…apakah kau yang bicara padaku, semut?” kepala desa akhirnya melihat semut dan berjongkok supaya suara semut lebih terdengar. ”Aku tadi melamun, tapi mengapa kau sendirian saja, semut? Bukankah kau biasanya selalu bersama saudara-saudaramu?” tanya sang kepala desa.

”Itulah, tuan…hiks…hiks…aku kehilangan saudara-saudaraku…tadi ketika kami berjalan berbaris mencari makan, aku tertarik pada bunga yang jatuh di tanah. Jadi aku main-main dulu dengan bunga itu…tapi ternyata ketika aku sadar, saudara-saudaraku sudah tak ada” semut bercerita sambil menangis tersedu – sedu. ”Hmm begitu…sudahlah semut kecil, jangan bersedih. Apakah kau mau ikut denganku? Akan kuberikan kau makanan yang cukup. Lagipula…tampaknya aku butuh teman bicara..” kepala desa akhirnya memasukkan semut kedalam kotak korek api untuk dibawa kerumahnya.

”Nah, kita sudah sampai, semut. Kau akan kutaruh di rak buku dan ini janjiku, sepotong roti. Setiap bulan akan kuberikan kau sepotong roti tapi kau jangan nakal ya.” kepala desa menaruh semut kemudian mengambil sepotong roti di dapur. ”Wah, tempat ini kering dan hangat. Asik sekali. Terima kasih untuk rotinya, ya…” semut merasa senang dan mulai melahap rotinya.

Maka Kepala Desa dan Semut berteman baik. Namun tiba-tiba terjadi musibah di desa itu. Tanggul yang menahan air sungai mendadak jebol. Air mengalir deras sekali ke desa itu. Semua orang panik! Oh, kekacauan di mana-mana. Air bah menyapu bersih rumah-rumah penduduk beserta segala harta-benda warga. Tambang intan yang menjadi mata pencaharian utama para penduduk pun longsor diterjang air itu. Untung saja seluruh penduduk selamat. Mereka semua berkumpul di rumah kepala desa yang terletak di dataran yang lebih tinggi.

“Tenang..tenanglah wargaku…kalian aman di sini.” Kepala desa berusaha untuk menenangkan warganya yang masih panik. “Bagaimana kami mau tenang? Rumah dan harta benda kami semua hanyut terbawa air bah!” seorang bapak warga desa mulai panik. “Apa yang harus kami lakukan? Kami tak punya persediaan apapun!” seorang ibu pun tidak kalah panik. ”Tenang dulu…tenangkan diri kalian…sementara itu mari kukenalkan pada sahabatku, si Semut.” Sambil berkata begitu, Kepala Desa membuka kotak korek api tempat tinggal si semut.

“Lho, mengapa masih ada separuh roti di sini? Semut, apakah kau tak suka jatah roti yang kuberikan untuk satu bulan itu?” kepala desa merasa bingung. Bukan begitu, sahabatku. Aku makan sedikit-sedikit supaya jika ternyata kau lupa untuk memberiku makan atau sedang pergi, aku masih punya persediaan. Maafkan aku, sahabat, aku tak bermaksud menyinggungmu.” Semut berkata dengan nada sedikit ketakutan.

Semua orang yang berada di rumah Kepala Desa mendengar perkataan si Semut. Dan mereka semua tertegun. Si Semut yang hanya memiliki sepotong roti saja, bisa berhemat dan berpikir untuk menyimpan persediaan untuk saat-saat sulit. Seluruh warga desa akhirnya menyadari kesalahan yang mereka lakukan selama ini, yaitu menghambur-hamburkan uang dan tidak menabung. Akhirnya, setelah air bah itu reda, warga desa bahu-membahu membangun desa mereka kembali dengan apa yang ada. Mereka tidak lagi hidup berlebih-lebihan. Memang, sekarang desa itu bukan lagi desa terkaya di seluruh negri, tapi warga desa itu bahagia, aman dan tentram.

Dongeng ini disadur dari Majalah Bobo persembahan Female Radio.

Paman Gery & Bubu Mini
Teka Teki Sang Raja
TEKA_TEKI_SANG_RAJA.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Pada suatu masa, hiduplah seorang raja, yang usianya sudah cukup tua. Raja Badu, namanya, memiliki seorang putra mahkota yang bernama Pangeran Kunda. Karena menjadi satu-satunya anak sang raja dan Permaisuri, Pangeran Kunda memiliki perangai yang kurang baik..

Karena memiliki banyak pengawal dan pembantu di kerajaan, Pangeran Kunda terkenal sebagi seorang putra mahkota yang pemalas. Selain itu, setiap haripun senangnya melakukan hal yang jail dan suka membuat orang satu istana kalang kabut…!!

Seperti hari itu, di istana terlihat ada seorang juru masak yang sedang berlari-lari terengah-engah! Tapi kenapa ya?

“Pangeraaannnnn!!! Pangeran Kundaaaa!! Kembalikan panci masak itu. Pangeraaaannn!! Aduuuhhh bagaimana ini?” Juru Masak terengah - engah sambil berlari dan berteriak. ”Hahaha ayooo kejar dulu aku! Baru kukembalikan panci masak ini. hahahaha! ayooo kejar aku…” Pangeran Kunda berlari menghindari si Juru Masak.

Ternyata Pangeran Kunda memang jail. Masa’ panci sang juru masak dipakai buat mainan kan bingung nanti memasak makanan buat sang Raja dan ratu. Karena sudah keterlaluan, sepertinya Sang Raja Badu juga mulai berfikir bagaimana caranya untuk mempersiapkan sang Pangeran menjadi penerusnya nanti. Tapi kalau kelakuannya masih seperti itu. Bisa kacau kerajaan, sehingga pada satu hari yang direncanakan, Sang raja memanggil Pangeran Kunda.. ”Anakku, Kunda, sebetulnya ayah sekarang sedang bingung…”

”Emangnya kenapa sih, ayaaaahhh, kok merengut begitu? Hehehe” Pangeran Kunda berkata sambil cengengesan. ”Kunda, ayah sebetulnya ingin suatu saat nanti engkau belajar untuk menjadi seorang yang bertangggung jawab menjadi raja di kerajaan Arsana ini, engkau adalah calon penggantiku, Kunda” Sang Raja berkata dengan nada serius.

Itulah yang sedang difikirkan sang raja Badu. Apa bisa ia memberikan kepercayaan kepada putranya yang nakal dan jail itu. Raja Badu bingung! Tapi rupanya sang Raja Badu sudah punya rencana tersendiri untuk bisa mengajarkan sang pangeran dengan cara yang bijaksana.

”Anakku, Kunda, tadi malam ayah bermimpi menemukan sebuah cermin…” Sang Raja kembali melanjutkan. ”..Di dalam mimpiku, cermin itu bisa berbicara, dan ia ingin aku menyampaikan kepadamu putraku Pangeran Kunda, kalau ia bisa menemukan apa arti sebuah cermin seperti cermin itu, maka itu artinya kamu sudah siap untuk menjadi seorang raja yang bijaksana seperti aku…”

Maka setelah diperintah oleh ayanda Raja, Pangeran Kunda berkelana keliling negri Arsana untuk mencari arti dari teka-teki itu : Arti sebuah cermin!! Dia bertanya kepada setiap orang yang ditemui.

Di pasar, di kedai minum, di rumah persinggahan, di setiap persimpangan jalan, dan malah Pangeran Kunda juga sempat bertanya kepada pengemis jalanan tentang apa arti dari sebuah cermin dalam mimpi sang ayahanda raja. Anehnya, setiap orang yang ditanya menjawab sama !

Semua menjawab: “Cermin itu dipakai untuk berhias dirimu Pangeran!” Nah, itu malah membuat sang pangeran menjadi bingung. Toh ia adalah seorang Pangeran yang memiliki banyak harta, kurang apa lagi dalam hal berhias.

”Kemana lagi aku harus bertanya? Semua penduduk bilang kepadaku untuk berhias diri!! Apa itu arti cermin dalam mimpi ayah yaa?” Pangeran Kunda bertanya dalam hati.

Sang Pangeran terus berjalan sambil berfikir keras, ingin rasanya segera menemukan jawaban teka teki cermin ini. Sampai - sampai ia tidak lagi memperhatikan jalanan yang dilaluinya, sehingga tanpa sadar ia menginjak hamparan tumbuhan lumut yang licin, dan…

Wah, Pangeran Kunda terpeleset dan terjatuh, sampai-sampai tanah lembab dan lumpur menutupi sebagian mukanya dan mukanya kotor! Setelah itu adik-adik, Pangeran Kunda berjalan menuju kesebuah danau untuk membersihkan diri, dia berjongkok. Dan menundukkan mukanya melihat ke air danau yang jernih, lalu tiba-tiba...

Pangeran Kunda terkejut melihat wajahnya sendiri yang kotor dan berlumpur! Dan sepertinya dia menemukan sesuatu…

”Yang Mulia Raja Badu!! Pangeran Kunda telah kembali ke istana!!” Hulubalang istana memberikan pengumuman.

Adik-adik, rupanya Pangeran Kunda telah menemukan arti teka-teki cermin dari mimpi sang Raja, sehingga ia ingin segera memberikan jawabannya kepada sang ayahanda. ”Ayah, aku telah menemukan arti dari cermin dalam mimpi ayah. Cermin itu membuat kita bisa melihat kepada diri kita sendiri. Sama seperti pengalamanku waktu melihat wajahku sendiri di air danau kemarin. Aku sekarang mengerti. Selama ini aku sering hanya melihat keburukan orang lain, dan aku tidak pernah bisa melihat keburukanku sendiri. Orang lainlah yang melihat dan menilainya. Tapi cermin itu telah menyadarkanku ayah.”

”Anakku, kau telah siap untuk menjadi seorang raja yang bijaksana!!” Raja Badu berkata sambil menghela nafas lega.

Begitulah air danau yang menjadi cermin bagi pangeran Kunda telah menyadarkannya untuk menjadi orang yang baik. Dan sejak saat itu Pangeran Kunda menjadi orang yang rendah hatinya, tidak jail lagi, dan juga tidak hanya melihat keburukan orang lain lagi.

Dongeng ini persembahan FeMale radio

Paman Gery & Bubu Mini
Anemon dan Ikan Badut
KISAH_RAKU.mp3

Pada sebuah teluk yang tenang, di dalam laut yang hangat, hiduplah sekelompok binatang laut bermacam-macam jenisnya. Iya, ada bermacam-macam ikan, ada ubur-ubur, cumi-cumi, dan banyaak lagi. Seru sekali, mereka seperti sebuah keluarga besar yang rukun! Eh tapi kok sepertinya ada yang sedang ribut nih?

“Hey, hey, tahu tidak, sebentar lagi akan ada ikan baru di teluk ini!” Ikan Kerapu memberitahukan teman – temannya. “Hah? Ikan baru? Kau tahu dari mana?” Tanya si Ubur ubur. ”Aku kan sering bermain ke permukaan, aku sempat dengar ada manusia kecil yang mau melepas ikan peliharaannya di sini.” cerita Ikan Kerapu kepada Ubur ubur.

”Manusia kecil? Maksudmu bocah laki-laki yang tinggal di pondok tepi pantai itu?” Cumicumi bertanya pada Ikan Kerapu. ”Iya benar, dia! Manusia kecil itu dan orangtuanya akan segera pindah ke kota, jadi dia harus melepas ikan peliharaannya di sini, di teluk ini! Eh tapi jangan beritahu si anemon ya.” Ikan Kerapu berkata pada teman – temannya. ”Memangnya kenapa? Kenapa anemon tidak boleh tahu?” tanya si Cumicumi.

”Ya soalnya si anemon kan jahat…dia suka menyengat. Jangan-jangan nanti si ikan baru itu disengat. Kan kasihan.” Uburubur menjawab. Tapi langsung dibantah oleh Cumicumi, ”Anemon itu tidak jahat, tapi memang dia menyengat untuk membela diri…”

”Ah sudahlah, pokoknya jangan beritahu anemone ya!” ujar Ikan Kerapu sambil berenang menjauhi teman – temannya.

Beberapa hari kemudian, ketika para penghuni lautan sedang asyik bermain dekat permukaan, tiba-tiba ada suara tangisan..

”Hey, teman-teman…coba dengar..ada suara tangisan!” bisik Ikan Kerapu. ”Iya, aku juga mendengarnya! Di mana makhluk malang itu?” Cumicumi bertanya sambil mencari ke kanan dan ke kiri. ”Kawan-kawan, ada sesuatu jatuh ke atas tubuhku…” Anemon berkata sambil berusaha untuk melihat siapa yang jatuh diatas tubuhnya.

”Coba aku lihat sebentar… Ah benar katamu, anemone! Ada sesuatu di tubuhmu, warnanya jingga…eh, putih! Atau jingga dan putih? Ah kurang jelas, harus lebih dekat lagi melihatnya” Uburubur berusaha mendekat ke anemone.

”Awas! Jangan terlalu dekat dengan si anemone, kau kan tahu dia bisa menyengat!” Ikan Kerapu memperingati. ”Aku kan tidak bermaksud menyengat siapa-siapa, Kerapu…kau jangan begitu.” Anemone bersedih. ”Iya, janganlah begitu. Lebih baik kita coba lihat, apa yang terjatuh di atas anemone.” Sambil mengajak teman – teman lainnya mendekat.

Ketika cumi-cumi dan teman-teman lain mendekati anemone, tiba-tiba muncullah sesosok berwarna oranye dengan 2 garis putih. Siapa ya dia?

” Ehhh…kalian…siapa?” tanya si Ikan Badut. ”Harusnya kami yang bertanya padamu. Siapa namamu? Dan mengapa kau berani sekali jatuh ke atas anemone?” tanya si Ikan Kerapu.

”Namaku Ikan Badut.” Ia memperkenalkan diri. ”Apa?? Ikan apa katamu? Ikan Badut? Hahahaha, nama yang sangat aneh! Ahahahahaha” Ikan Kerapu menyelak, diikuti oleh tawa teman – teman yang lain.

”Sudah..sudah cukup teman-teman…hehehe..namamu lucu sekali ikan badut. Bentuk dan warnamu juga lucu. Tapi mengapa kau tidak tersengat anemone seperti kami?” Tanya cumicumi. ”Namaku memang begitu, mungkin karena rupaku memang lucu seperti badut. Aku tadi dilepas di teluk ini oleh anak lelaki yang tadinya memelihara aku….ia akan pindah ke kota dan tak ada tempat untukku di rumah barunya…jadi…” Ikan Badut menjawab.

”Oooh..jadi inilah teman baru kita! Selamat datang di teluk yang indah ini!” sambut ubur ubur. ”Terima kasih, ubur-ubur! Tapi..maafkan aku anemone, aku tak bermaksud jatuh ke atasmu, tapi aku tak merasa sakit ketika jatuh ke atasmu.” Ikan Badut meminta maaf.

”Benarkah aku tak menyengatmu? Kau benar-benar tidak merasa sakit? Wah, wah, wah…aku senang sekali! Selama ini tak ada yang mau main denganku karena aku menyengat siapapun yang mendekat. Tapi aku tidak bermaksud jahat. Benar!” Anemone berseru kegirangan. ”Aku mau jadi temanmu. Tapi itu juga jika kau mau.” Ikan Badut berseru. ”Tentu saja aku mau!! Ayo kita main bersama, ikan badut!” menyambut gembira.

Nah, ternyata anemone yang tak punya teman dan ikan badut yang suka diolok-olok malah bisa berteman dengan baik. Hewan-hewan laut yang lainnya pun sekarang tidak lagi menjauhi si anemone, karena mereka tahu anemone sebenarnya tidak jahat. Nah, adik-adik juga senang kan kalau punya teman? Yuk kita berteman sebanyak-banyaknya!

Dongeng ini dipersembahkan Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Aksari dan Kuda Sembrani
FID0113A%20-%20Aksari%20dan%20Kuda%20sembrani.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di sebuah kota kecil di daerah Jawa Barat, tinggallah sebuah keluarga yang memiliki dua anak perempuan yang bernama Aksari dan Padma. Aksari masih duduk di bangku sekolah dasar sedangkan padma masih berusia 3 tahun. Aksari adalah anak yang baik dan penurut. Tak pernah ia menentang atau melawan perintah orang tuanya. Aksari juga anak yang pintar lho di sekolah.

Nah, pada suatu malam, orang tua Aksari harus pergi menengok nenek Aksari yang sedang sakit keras. “Aksari, maafkan kami, tapi ayah dan ibu harus menengok nenek malam ini. Apakah kau tidak keberatan kami tinggalkan?” Ibu bertanya kepada Aksari. “Tidak apa-apa, Bu. Aku besok akan ulangan Geografi, jadi aku belajar saja malam ini.” Aksari menjawab sambil mengeluarkan buku – buku pelajarannya dari dalam tas sekolahnya. “Terima kasih Aksari, ibu titip tolong jaga adikmu ya…jangan sampai ia bermain terlalu banyak.” Sang Ibu berpesan kepada Aksari.

”Baiklah ibu, akan kujaga Padma dengan baik. Sampaikan salamku pada Nenek, ya Bu.” Aksari berkata kepada Ibunya. Maka berangkatlah ayah dan ibu, meninggalkan Aksari dan Padma. Tapi Aksari tak keberatan, ia senang bermain dengan adiknya. Eh, tapi kan Aksari harus belajar untuk ulangan besok ya…bagaimana ya?

“Hiihihih..sudah ya Padma…sekarang waktunya tidur…sudah malam…kakak mau belajar untuk besok…hihihiih..sudah ah, jangan main-main lagi ya…Padma sayang…sudah ya…” Aksari berkata kepada Padma yang masih terus saja mengajak kakaknya bermain – main. Pasti Padma masih mau main tuh. Padahal sudah malam sekali lho. Kasihan juga Aksari belum sempat belajar. Eh tapi coba dengar, tampaknya Aksari sudah berhasil, Padma sudah tidur!

“Hhhh…akhirnya tidur juga adikku yang lucu itu…hihihihi sebenarnya aku ingin sekali bermain dengannya tapi aku kan harus belajar untuk ulangan geografi besok.” Aksari berkata dalam hati sambil memakaikan selimut kepada adiknya itu. “Nah sekarang baru aku bisa tenang. Hmmm….pulau jawa itu terbagi atas …beberapa bagian…gunung tertingginya adalah Semeru…sungai terpanjang adalah Bengawan So…lo…..” Aksari membaca buku pelajarannya sambil terus menguap karena ngantuk.

Ya ampun, Aksari tertidur, adik-adik. Kepalanya tertunduk di meja, persis di atas buku geografinya. Pasti dia kelelahan setelah menemani Padma bermain. Iya ya…wah..padahal belum sempat belajar…eh tapi kenapa ya Aksari senyum-senyum sendiri. Oooh tampaknya dia bermimpi!

“Wah, apakah aku tertidur? Tapi..kenapa tubuhku seperti naik-turun? dan..mengapa dingin sekali? Duh aku tak berani membuka mata…di mana aku?” Aksari berkata dalam hati.

„Aksari, jangan takut, kau aman berada di punggungku asalkan kau tak melepaskan peganangmu.” Sang Kuda Sembrani berkata. „Hah! Siapa itu? Kenapa suaranya dekat sekali?” Aksari berkata sambil ketakutan. „Aksari, bukalah matamu, lihatlah ke sekelilingmu.” Sang Kuda Sembrani kembali berkata. Dan Aksari pun memberanikan diri untuk membuka mata… „Aaaah, toloooong! Aku…aku…aku terbang!” Aksari berteriak ketakutan. ”Kau tak bisa terbang, Aksari. Akulah yang terbang, dan kau ada di punggungku. Perkenalkan, aku si kuda sembrani.” Kuda Sembrani berkata sambil tertawa bijak.

”Mau apa kau dariku? Mengapa kau membawaku terbang?” Aksari berkata kepada sang Kuda Sembrani. “Aku akan membantumu belajar geografi” jawab sang Kuda Sembrani. “Hah? Kau mau membantuku? Ta..tapi…bagaimana caranya?” Aksari bertanya. “Mudah sekali. Akan kubawa kau terbang mengililingi pulau jawa dan akan kutunjukkan tempat-tempat yang menarik.” Sang Kuda sembrani menjawab.

Maka kuda sembrani membawa Aksari melintasi berbagai tempat, sambil memeberikan penjelasan tentang tempat-tempat tersebut, ” ….nah inilah gunung tertinggi di pulau jawa, gunung semeru…puncaknya yang terkenal bernama Mahameru……di sebelah sana juga ada gunung api yang masih aktif  yaitu gunung merapi…dan apakah kau lihat di bawah sana? Bayangan seperti ular yang panjang sekali? Itu adalah bengawan solo…”

Wah, asik sekali ya…Aksari bersemangat sekali belajar bersama kuda sembrani yang baik hati. Tapi hari semakin malam dan Aksari mulai mengantuk. Perlahan ia menyenderkan kepalanya pada leher si kuda. Tak lama kemudian..ia tertidur.. “Aksari..bangun, sayang….ya ampun, kamu tertidur di meja belajar sejak tadi malam ya?” Ibu membangunkan Aksari.

“Hah? Jam berapa ini? Ya ampun, sudah pagi! Aku harus segera berangkat ke sekolah! Tapi….sepertinya tadi malam aku…bermimpi aneh sekali….tentang kuda terbang, bu! Kuda itu mengajarkan aku pelajaran geografi!” Aksari langsung terbangun. ”Hihihi…mimpi yang aneh…mungkin kau terlalu lelah, Aksari…” Ibu berkata sambil tertawa cekikikan. ”Hihihih Ibu betul juga..mimpi yang sungguh aneh…eh tapi apa ini? Ada bulu putih menempel di bajuku….”Aksari bertanya sambil mengambil bulu putih yang ada di bajunya. ”Ah ini bukan bulu, Aksari…ini semacam…surai kuda…” Ibu menjelaskan.

Dongeng ini dipersembahkan oleh Female Radio