Kumpulan Dongeng Pagi
Programme
Podcast Title
Listen Podcast
Paman Gerry & Bubu Mini
Kisah Raku si Kura – Kura dan Jian si Anjing
KISAH_RAKU.mp3
buletan%20dongeng.jpg
Di sebuah kerajaan hutan, hiduplah para hewan dengan aman dan damai. Pemimpin mereka adalah Siga si Raja Hutan yang adil dan bijaksana. Wah, kebetulan hari ini adalah ulang tahun Raja Siga. Semua warga hutan sedang mempersiapkan pesta besar!

”Selamat pagi, Bu Mia Kucing. Ini undangan untuk hadir di pesta ulang tahun Raja Siga. Permisi.” Raku si Kura – Kura langsung melesat pergi secepat angin setelah menyerahkan undangan ke Mia si Kucing. ”Uh Raku, belum sempat aku ucapkan terima kasih, dia sudah pergi jauh. Memang cocok sekali Siga si Raja Hutan menyuruh Raku untuk menyebar undangan. Larinya kan cepat sekali.” Ujar Mia si Kucing.

Memang dahulu kala, kura – kura itu larinya cepat sekali. Bahkan lebih cepat daripada anjing dan kucing. Nah, ketika malam menjelang, seluruh penghuni hutan mulai berdatangan ke rumah Siga si Raja Hutan. Mereka semua memakai pakaian yang bagus dan mewah. ”Wah, pestanya meriah sekali ya, Jian Anjing.” Mia si Kucing berkata kepada Jian si Anjing. ”Kau benar, Mia Kucing. Semua tampak bergembira dan bersenang – senang.” jawab Jian si Anjing.

”Eh, kau membawa kado ya untuk Raja? Taruh saja di meja besar itu, semua kado disimpan di situ.” tanya Mia si Kucing kepada Jian si Anjing. ”Oh begitu ya? Baiklah, akan kusimpan dulu kado ini supaya tidak pecah. Aku akan mempersembahkan mangkok kristal ini untuk raja.” Jian si Anjing berkata sambil meletakkan kadonya di atas meja besar. ”Wah bagus sekali mangkok itu, Jian! Raja pasti suka!” ujar Mia si Kucing.

Dari kejauhan tampak Raku si Kura-Kura mendekat ke pesta. Tapi karena seharian ia sibuk menyebarkan undangan, ia tak sempat lagi berganti pakaian. Langsung saja ia datang ke pesta ulang tahun itu. ”Ooo ya ampun…semua tamu berhias dengan sangat rapi. Semua terlihat rupawan. Sedangkan aku? Aku tak memakai baju yang pantas, aku juga tak memakai perhiasan apapun.” Raku si Kura – Kura berkata dalam hati.

Raku si kura-kura merasa tak pantas datang ke pesta dengan penampilan seperti itu. Raku langsung bersembunyi di balik meja besar tempat penyimpanan kado. Nah, di sana ia melihat sebuah mangkok kristal yang bagus sekali. ”Wah, mangkok ini bagus sekali. Bisa jadi perhiasan yang cocok untukku! Tapi ini kan kado untuk Siga si Raja Hutan….ah tak apa lah, dia sudah dapat begitu banyak kado. Dia kan tak boleh serakah..hehehehe.” Raku si Kura – Kura berkata dengan nada licik.

Maka Raku si kura-kura pun membawa mangkok kristal itu ke balik semak-semak. Ia mengoleskan getah daun yang berwarna kehijauan ke atas mangkok itu, kemudian mengikat mangkok itu ke punggungnya. ”Ah, mangkok ini lebih cantik dalam warna hijau. Dan akar-akar kayu ini cukuplah kulilitkan di tubuhku supaya mangkok ini tak jatuh dari punggungku.” ujar Raku si Kura – Kura sambil mengagumi dirinya.

Maka Raku berjalan dengan gagah ke tengah pesta. Dan benar saja, semua mata melihat kagum padanya. ”Waaah Raku gagah sekali dengan perhiasannya itu..kemilaunya seperti zamrud! Indah sekali kan, Jian?” Mia si Kucing berkata sambil terus memandangi Raku si Kura – Kura. ”Iya..indah sekali tapi aku yakin sekali itu adalah mangkok kristalku..ah aku harus langsung bertanya pada Raku.” Jian si Anjing berkata dalam hati dan akhirnya berkata kepada Raku si Kura – Kura, ” Hei Raku! Darimana kau dapatkan perhiasan itu?”

”Oh ini memang milikku. Aku membawanya dari rumah.” kata Raku si Kura – Kura. ”Ah kau bohong! Aku mengenali mangkok itu, itu milikku yang akan kuberikan pada Siga si Raja Hutan!” Jian si Anjing berteriak ke Raku si Kura – Kura.

Akhirnya Siga si Raja Hutan pun datang menghampiri mereka dan berkata, ”Ada apa ini? Siapa yang berani membuat keributan di pestaku?”, Jian si Anjing menjelaskan ke Siga si Raja Hutan, ” Maafkan hamba, baginda. Tapi Raku si kura-kura telah mencuri mangkok kristal yang akan kuhadiahkan padamu.”

”Benarkan itu Raku?” Siga si Raja Hutan bertanya langsung ke Raku si Kura – Kura. ”Eh…hmmm..eeeeh…benar Yang Mulia…aku malu karena tidak punya perhiasan atau baju yang indah untuk datang ke pestamu…maafkan aku.” dengan nada gugup Raku si Kura – Kura akhirnya mengaku telah mengambil kado Siga si Raja Singa.

”Hhh…baiklah…Jian, aku tahu mangkok itu akan kau hadiahkan padaku, aku menghargai itu, tapi tampaknya memang lebih cocok untuk Raku..” dengan bijak Siga si Raja Hutan berkata. Raku si Kura – Kura mengucapkan terima kasih kepada Siga si Raja Hutan, ” Oh terima kasih, Yang Mulia, terima kasih.”

”Tapi sebagai gantinya, kemampuan lari cepatmu akan kuberikan pada Jian Anjing. Bagaimana? Adil, bukan?” Siga si Raja Hutan akhirnya berkata.

Nah, sejak saat itu Raku kura-kura dan keturunannya memiliki mangkuk keras di punggungnya dan tetap berjalan lambat. Sementara itu, bangsa anjing sampai kini bisa berlari cepat. Dan terbiasa mengejar pencuri seperti Jian, nenek moyang mereka.

[Dongeng ini disadur dari Majalah Bobo persembahan Female Radio]
Paman Gery & Bubu Mini
Aksari dan Kuda Sembrani
FID0113A%20-%20Aksari%20dan%20Kuda%20sembrani.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di sebuah kota kecil di daerah Jawa Barat, tinggallah sebuah keluarga yang memiliki dua anak perempuan yang bernama Aksari dan Padma. Aksari masih duduk di bangku sekolah dasar sedangkan padma masih berusia 3 tahun. Aksari adalah anak yang baik dan penurut. Tak pernah ia menentang atau melawan perintah orang tuanya. Aksari juga anak yang pintar lho di sekolah.

Nah, pada suatu malam, orang tua Aksari harus pergi menengok nenek Aksari yang sedang sakit keras. “Aksari, maafkan kami, tapi ayah dan ibu harus menengok nenek malam ini. Apakah kau tidak keberatan kami tinggalkan?” Ibu bertanya kepada Aksari. “Tidak apa-apa, Bu. Aku besok akan ulangan Geografi, jadi aku belajar saja malam ini.” Aksari menjawab sambil mengeluarkan buku – buku pelajarannya dari dalam tas sekolahnya. “Terima kasih Aksari, ibu titip tolong jaga adikmu ya…jangan sampai ia bermain terlalu banyak.” Sang Ibu berpesan kepada Aksari.

”Baiklah ibu, akan kujaga Padma dengan baik. Sampaikan salamku pada Nenek, ya Bu.” Aksari berkata kepada Ibunya. Maka berangkatlah ayah dan ibu, meninggalkan Aksari dan Padma. Tapi Aksari tak keberatan, ia senang bermain dengan adiknya. Eh, tapi kan Aksari harus belajar untuk ulangan besok ya…bagaimana ya?

“Hiihihih..sudah ya Padma…sekarang waktunya tidur…sudah malam…kakak mau belajar untuk besok…hihihiih..sudah ah, jangan main-main lagi ya…Padma sayang…sudah ya…” Aksari berkata kepada Padma yang masih terus saja mengajak kakaknya bermain – main. Pasti Padma masih mau main tuh. Padahal sudah malam sekali lho. Kasihan juga Aksari belum sempat belajar. Eh tapi coba dengar, tampaknya Aksari sudah berhasil, Padma sudah tidur!

“Hhhh…akhirnya tidur juga adikku yang lucu itu…hihihihi sebenarnya aku ingin sekali bermain dengannya tapi aku kan harus belajar untuk ulangan geografi besok.” Aksari berkata dalam hati sambil memakaikan selimut kepada adiknya itu. “Nah sekarang baru aku bisa tenang. Hmmm….pulau jawa itu terbagi atas …beberapa bagian…gunung tertingginya adalah Semeru…sungai terpanjang adalah Bengawan So…lo…..” Aksari membaca buku pelajarannya sambil terus menguap karena ngantuk.

Ya ampun, Aksari tertidur, adik-adik. Kepalanya tertunduk di meja, persis di atas buku geografinya. Pasti dia kelelahan setelah menemani Padma bermain. Iya ya…wah..padahal belum sempat belajar…eh tapi kenapa ya Aksari senyum-senyum sendiri. Oooh tampaknya dia bermimpi!

“Wah, apakah aku tertidur? Tapi..kenapa tubuhku seperti naik-turun? dan..mengapa dingin sekali? Duh aku tak berani membuka mata…di mana aku?” Aksari berkata dalam hati.

„Aksari, jangan takut, kau aman berada di punggungku asalkan kau tak melepaskan peganangmu.” Sang Kuda Sembrani berkata. „Hah! Siapa itu? Kenapa suaranya dekat sekali?” Aksari berkata sambil ketakutan. „Aksari, bukalah matamu, lihatlah ke sekelilingmu.” Sang Kuda Sembrani kembali berkata. Dan Aksari pun memberanikan diri untuk membuka mata… „Aaaah, toloooong! Aku…aku…aku terbang!” Aksari berteriak ketakutan. ”Kau tak bisa terbang, Aksari. Akulah yang terbang, dan kau ada di punggungku. Perkenalkan, aku si kuda sembrani.” Kuda Sembrani berkata sambil tertawa bijak.

”Mau apa kau dariku? Mengapa kau membawaku terbang?” Aksari berkata kepada sang Kuda Sembrani. “Aku akan membantumu belajar geografi” jawab sang Kuda Sembrani. “Hah? Kau mau membantuku? Ta..tapi…bagaimana caranya?” Aksari bertanya. “Mudah sekali. Akan kubawa kau terbang mengililingi pulau jawa dan akan kutunjukkan tempat-tempat yang menarik.” Sang Kuda sembrani menjawab.

Maka kuda sembrani membawa Aksari melintasi berbagai tempat, sambil memeberikan penjelasan tentang tempat-tempat tersebut, ” ….nah inilah gunung tertinggi di pulau jawa, gunung semeru…puncaknya yang terkenal bernama Mahameru……di sebelah sana juga ada gunung api yang masih aktif  yaitu gunung merapi…dan apakah kau lihat di bawah sana? Bayangan seperti ular yang panjang sekali? Itu adalah bengawan solo…”

Wah, asik sekali ya…Aksari bersemangat sekali belajar bersama kuda sembrani yang baik hati. Tapi hari semakin malam dan Aksari mulai mengantuk. Perlahan ia menyenderkan kepalanya pada leher si kuda. Tak lama kemudian..ia tertidur.. “Aksari..bangun, sayang….ya ampun, kamu tertidur di meja belajar sejak tadi malam ya?” Ibu membangunkan Aksari.

“Hah? Jam berapa ini? Ya ampun, sudah pagi! Aku harus segera berangkat ke sekolah! Tapi….sepertinya tadi malam aku…bermimpi aneh sekali….tentang kuda terbang, bu! Kuda itu mengajarkan aku pelajaran geografi!” Aksari langsung terbangun. ”Hihihi…mimpi yang aneh…mungkin kau terlalu lelah, Aksari…” Ibu berkata sambil tertawa cekikikan. ”Hihihih Ibu betul juga..mimpi yang sungguh aneh…eh tapi apa ini? Ada bulu putih menempel di bajuku….”Aksari bertanya sambil mengambil bulu putih yang ada di bajunya. ”Ah ini bukan bulu, Aksari…ini semacam…surai kuda…” Ibu menjelaskan.

Dongeng ini dipersembahkan oleh Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Cahaya, Si Bintang Laut
Cahaya%20si%20bintang%20laut.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Suatu ketika  di dasar laut Utara hiduplah seekor bintang laut kecil, bernama Cahaya. Cahaya hidup didasar laut bersama saudara-saudara dan teman-teman laiinnya makhluk laut yang bermacam-macam :  anemone, kerang mutiara, kuda laut, dan ikan-ikan lainnya. Jumlahnya sangat banyak, sehingga sehari-hari Cahaya si bintang laut kecil tidak mungkin merasa kesepian. Banyak yang menemaninya untuk berenang di lautan bebas, muncul ke permukaan laut atau sekedar bersembunyi di balik batu-batu karang yang sangat indah.

Mereka semua hidup rukun dan senang berkelompok. Tapi ada yang aneh dengan Cahaya si Bintang laut kecil. Dia akhir-akhir ini sering murung sendirian, dan berenang menjauh dari teman-temannya. Sepertinya ada yang sedang dipikirkan. Kenapa ya Cahaya? Lihat! Dia sedang berenang sendiri menuju permukaan laut.

“Hegh..hegh..hegh… hup !! Akhirnya sampai juga di permukaan laut ….!! Aku senang bisa melihat bintang-bintang yang bersinar di angkasa…” Cahaya berkata sambil kelelahan karena sudah berenang jauh. Ternyata Cahaya si Bintang laut, sekarang lagi sering menyendiri, gara - gara ingin bisa melihat ke angkasa, mengagumi binta-bintang di langit yang berkelap-kelip.

”OOOhh…. Bintang-bintang di langit itu indaaahh sekali… Aku ingin menjadi seperti mereka…. Tinggal di tempat yang tinggiiiiii….sekali.. Gak seperti di sini..!! Di dasar laut !! Huuhh….” Cahaya berkata dalam hati. Waahh ada yang gak beres… Cahaya, si bintang laut, rupanya mengkhayal terlalu jauh. Dirinya ingin bisa berubah menjadi Bintang berkilau di langit…!! Apa mungkin  ya…??

Tiba-tiba…!! Pada saat Cahaya sedang menikmati pemandangan bintang di langit……

Ada satu bintang yang terlihat… lho…lho…!! Kok dia bergerak jatuh !! Itu namanya meteor adik-adik…. Atau disebut juga bintang jatuh !! Sebenarnya meteor itu adalah benda di angkasa yang masuk ke orbit bumi dan bersinar karena bergesekan dengan atmosfir bumi. Setelah melihat bintang itu jatuh ke laut, maka cahaya berusaha mengejar dan berenang mendekatinya…

”Ooohh… Kasihan… Siapa kamu..?? Apakah kamu bintang dari langit…?” tanya Cahaya kepada Meteor. ”Ya betul, Bintang laut hegh …hegh… hegh… aku bintang dari langit Aku lelah sekali sudah ribuan tahun menjadi bintang, sehingga aku terjatuh.” Meteor berkata kepada Cahaya sambil kelelahan. ”Waahh… kamu bisa hidup ribuan tahun…??

Berkelap-kelip di angkasa dan dikagumi semua orang…??” Cahaya bertanya dengan sedikit rasa iri.

Kok kedengarannya cahaya iri dengan bintang langit itu..?? Betul, itu karena selama ini cahaya si Bintang laut sudah lama sekali ingin menjadi bintang di langit. “Ah senangnya..!! Seandainya aku bisa menjadi bintang di langit dan bersinar, bukannya menjadi bintang laut yang buruk dan berwarna gelap..” Cahaya berandai – andai. “Apa..?? Kamu mau menjadi bintang di langit..??” tanya meteor kaget.

“Iya, aku bosan menjadi bintang laut, dan bosan tinggal di tempat yang gelap dan tidak enak ini…!” Cahaya berkata sambil melihat kesekelilingnya. “Baiklah bintang laut, aku bisa merubahmu menjadi bintang di langit, tapi waktuku tidak lama lagi…!! Perhatikan baik-baik, sebentar lagi aku akan berubah menjadi debu cahaya, dan ambillah debu itu sampai menyelimuti tubuhmu…!” Meteor berkata kepada Cahaya.

Ajaib…!! Bintang langit tiba-tiba berubah menjadi debu bersinar yang menyelimuti Bintang laut…. Sehingga sekarang bintang laut berubah menjadi bintang bersinar yang sangat indah! Pelan-pelan dia sekarang naik dan melesat tiiiinggiii sekali.. Menjadi salah satu bintang yang bersinar di angkasa…

Tapi hari berlalu…. Waktu berganti…. Lama kelamaan, Cahaya, si bintang laut yang berubah menjadi bintang di langit mulai merasa kesepian…!! Itu karena jarak dari satu bintang ke bintang lain di angkasa memang sangat jaauuuhhh sekali… Sulit untuk bisa bermain dan bersenang-senang seperti waktu tinggal di laut dulu…

Cahaya mulai merasa kesepian dan bosan…!! Dia pun kangeeeennn sekali dengan teman-temannya.. Sampai pada suatu hari… pelan-pelan cahaya mulai kehilangan kilaunya… Sinar terang yang pernah dimilikinya semakin memudar…. Dan perlahan dia pun merasa oleng…. Dan terjatuh kembali ke laut….!!

Air laut yang segar membuat tubuhnya sadar kembali..!! ”Cihhuuuiii… aku kembali lagi ke laut…!!!Aku seeennaaang sekali…!!” Cahaya berkata sambil lompat – lompat kegirangan.

Saking senangnya, Cahaya , berenang kesana-sini sambil memeluk semua hewan laut teman bermain dan saudara-saudaranya…!! Dan ia juga menciumi karang-karang tempat bermainnya selama ini…!! Hihihi…. Pasti kangeennn sekali ya… Sejak saat itu Cahaya si Bintang laut menjadi hewan laut yang menyayangi semua makhluk lain…. Dia tidak mau lagi punya keinginan menjadi bintang langit… Lebih baik menjadi bintang laut, walaupun tinggal di dasar laut, tapi memiliki banyak teman..dan tidak akan kesepian…

Dongeng ini disadur dari majalah Orbit, Persembahan FeMale Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Kepul Si Kereta Api Uap (Bagian 1)
Kepul%20si%20Kereta%20Api%20Uap%20-%201.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Pada suatu masa yang lalu, tersebutlah Desa Makmur yang penduduknya sebagian besar adalah petani tebu. Betul, para petani tebu itu sehari-hari merawat kebun tebu supaya hasilnya bisa dikirim ke pabrik. Hayo coba tebak, tanaman tebu itu bisa diolah menjadi apa? Apa? Gula? Wah, betul sekali! Setiap habis panen, para petani itu mengangkut tebu ke pabrik untuk diolah menjadi gula.

Nah, karena pabrik letaknya jauh dari perkebunan tebu, para petani biasanya menggunakan jasa si Kepul untuk mengangkut hasil panennya. Sudah berkenalan dengan si kepul, belum?

“Tuut...tuuut...halo, namanku Kepul si Kereta Api Uap...tugasku mengangkut hasil panen tebu para petani ke pabrik tebu di desa seberang. Semua orang sayang padaku karena aku sangat berguna bagi mereka.” Si Kepul berkata sambil membunyikan pluit kereta apinya. Betul, Pak Kepala Stasiun juga sangat sayang pada Kepul.. Bahkan ia sering mengajak putrinya yang masih kecil, Tini, untuk ikut menjaga dan merawat Kepul dengan baik.

“Tini, coba sini bantu ayah mengelap badan si Kepul. Kasihan, dia baru saja mengangkut banyak sekali tebu ke pabrik. Kita bersihkan dia yuk!” Kepala Stasiun berkata kepada Tini anaknya. “Baiklah, ayah! Kepul, jangan khawatir ya, aku dan ayah akan membersihkanmu sampai kau mengkilap seperti baru!” Tini berkata sambil mengelus – elus si Kepul. “Nah, Tini, kau tau kan mengapa kita harus merawat Kepul dengan baik?” tanya Kepala Stasiun. “Aku tahu, ayah, supaya Kepul selalu sehat dan kuat membantu para petani.” Tini menjawab lantang. “Hahaha, pintar sekali kau, Tini. Ayah bangga padamu.” Kepala Stasiun berkata bangga.

Bertahun-tahun Kepul bertugas dengan baik, tak pernah ia mengecewakan para petani ataupun Pak Kepala Stasiun. Namun suatu hari, Kepul mendengar istri Pak Kepala Stasiun mengatakan sesuatu...

“Pak, apakah Bapak sudah dengar tentang rencana pembangunan jalan raya yang melewati desa kita?” Istri Kepala Stasiun berkata kepada suaminya. “Sudah, bu, aku tadi dengar dari pak kepala Desa Makmur.” Kepala Stasiun berkata. ”Kalau rencana itu berjalan dengan baik, penduduk desa kita pasti akan lebih mudah bepergian ya pak.” Istri Kepala Stasiun berkata sambil menyiapkan minuman hangat untuk suaminya. ”Betul, aku setuju. Tapi aku khawatir dengan si Kepul....” Kepala Stasiun berkata dengan nada khawatir. ”Kenapa dengan si Kepul, Pak?” Istri Kepala Stasiun berkata. ”Bagaimana nasibnya nanti jika sudah ada jalan raya? Para petani pasti memilih untuk mengangkut tebu dengan truk.” Kepala stasiun berkata khawatir. ”Ah kita kan belum tahu soal itu Pak...tak perlu khawatir dulu.” Istri kepala stasiun menenangkan suaminya.

Tapi ternyata Pak Kepala Stasiun betul. Setelah jalan raya selesai dibangun, makin sedikit petani yang menggunakan jasa si Kepul. Para petani lebih senang mengangkut tebu dengan truk karena lebih mudah dan hemat. Setiap hari semakin sedikit saja petani yang membutuhkan si Kepul. Akhirnya, datanglah hari yang sangat menyedihkan bagi Pak Kepala Stasiun dan Tini.

”Kepul...maafkan aku...aku..tidak ingin melakukan ini...tapi aku harus...” Kepala Stasiun berkata dengan sedih. ”Pak...jangan pak...kasihan Kepul...” Tini berkata sambil menangis terisak. ”Tini, maafkan Bapak...tapi sekarang tak ada lagi petani yang mau menggunakan Kepul...dan Bapak tak punya cukup uang untuk perawatan Kepul...maafkan Bapak...maafkan aku Kepul...tapi kau akan diberhentikan....dan akan diistirahatkan di dalam depo.” Kepala Stasiun berkata sambil meminta maaf.

Oh oh oh, betapa sedih si Kepul mendengar perkataan pak Kepala Stasiun....ia tahu arti ”diistirahatkan” adalah disimpan selama-lamanya di dalam depo...

”Apa salahku? Aku tak pernah nakal...aku selalu mengantarkan tebu-tebu itu tepat waktu...lalu mengapa aku diberhentikan...huhuhuhu” Kepul berkata sambil menangis. ”Maafkan Bapak ya Kepul...kau kan tahu ia sayang padamu....aku...aku akan selalu sayang padamu, Kepul...sampai kapanpun!” Tini menangis sambil memeluk Kepul.

”Tak mungkin. Kau pasti akan segera melupakan aku...huhuhuhu...selamat tinggal Pak Kepala Stasiun....selamat tinggal Tini...terima kasih karena telah merawatku selama ini...huhuhuhu” Kepul masih menangis.

Maka Kepul si Kereta Uap ditarik masuk ke dalam depo untuk diistirahatkan...untuk selamanya.. Eh tapi nanti dulu, Paman. Tadi kan Tini berjanji tak akan melupakan Kepul. Nah, apakah Tini akan menepati janjinya? Atau apakah Kepul akan selamanya disimpan saja?

Dongeng ini dipersembahkan oleh Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Kepul si Kereta Api Uap (Bagian 2)
Kepul%20si%20Kereta%20Api%20Uap%20-%202.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Dulu si Kepul sangat dibutuhkan semua orang Desa Makmur karena satu-satunya cara mengangkut hasil panen tebu adalah dengan menggunakan si Kepul. Tapi, ketika jalan raya dibangun melewati desa itu, para petani lambat laun tidak lagi membutuhkan si Kepul. Mereka memilih menggunakan truk karena lebih murah dan mudah. Akhirnya dengan berat hati pak kepala stasiun terpaksa memberhentikan Si Kepul dari pekerjaannya...Pak Kepala Stasiun dan Tini, anaknya, sama-sama merasa sedih.

Tahun demi tahun telah berlalu sejak si Kepul diberhentikan dari pekerjaannya. Sudah banyak sekali yang berubah dari Desa Makmur. kini Desa Makmur sudah bukan desa penghasil gula karena sebagian besar penduduknya sudah pindah ke kota. Salah satu penduduk yang masih bertahan tinggal di Desa Makmur adalah Pak Kepala Stasiun. Anak pak Kepala Stasiun yang bernama Tini, hari itu sedang berkunjung ke rumah ayahnya. Wah, Tini sekarang sudah besar dan bekerja di kota lho adik-adik.

“Pak, setiap kali aku menjenguk Bapak, aku pasti teringat pada si Kepul....apakah dia masih disimpan di dalam depo?” Tanya Tini kepada bapaknya. Si Kepul? “Ohohoho..tentu, tentu ia masih di dalam depo. Mengapa kau tiba-tiba bertanya soal si Kepul?” Kepala stasiun kembali bertanya kepada Tini sambil menyeruput teh hangatnya. “Begini, Pak...aku ingin menjadikan desa ini sebagai tujuan pariwisata. Aku ingin orang banyak juga menikmati keindahan desa ini, Pak.” Tini menyampaikan rencananya. ”Wah..ide yang sangat bagus, Tini....Bapak setuju, desa ini memang indah, dibatasi gunung-gunung dan dialiri sungai yang jernih...pemandangannya juga cantik sekali...tapi, apa hubungannya dengan si Kepul?” Tanya Kepala Stasiun dengan semangatnya. ”Begini pak, aku ingin memperbaiki si Kepul dan menggunakannya lagi...bayangkan saja, para turis bisa menaiki si Kepul untuk melihat-lihat keindahan desa ini!” Tini menceritakan dengan semangatnya.

”Wah wah wah..itu baru ide yang sangat sangat bagus! Ayo kita ke depo sekarang! Bapak tak sabar memberitahukan kabar gembira ini pada si Kepul!” ajak Kepala Stasiun sambil bergegas mengambil topinya di kamar tidur.

Maka Kepala Stasiun dan Tini pergi ke depo untuk bertemu dengan si Kepul. Ketika mereka masuk ke gudang penyimpanan tempat si Kepul berada, oh oh oh...betapa menyedihkan kelihatannya.

”Kepul yang malang...lihat, kau sangat kotor dan berkarat...padahal dulu aku dan Bapak selalu membersihkanmu....” Tini berkata sambil mengelus – elus Kepul. ”..hah? siapa kau? Kau kenal denganku?” Kepul berkata sambil menguap karena baru bangun dari tidurnya. ”Ini aku, Tini! Masa kau lupa padaku?” Tini kembali berkata. ”Tini? Tini....oooh Tini!! Benarkah itu kau? Kau..berubah sekali ya, sudah dewasa sekarang.” Kepul berkata kaget.

”Aku senang kau ingat padaku, Kepul, karena aku tak pernah melupakanmu.” Tini berkata sambil terus mengelus – elus Kepul. ”Maaf...aku tidur terlalu lama...jadi aku agak lupa...eh, tapi ada apa kau ke sini, Tini? Ini pasti sudah bertahun-tahun sejak terakhir kita berjumpa.” Tanya Kepul kepada Tini. “Begini, Kepul...tapi kau jangan kaget ya...aku akan memperbaiki dan membersihkanmu...” Tini akhirnya menyampaikan kabar itu. ”Ah untuk apa membersihkanku? Aku toh akan selamanya berada di dalam gudang yang gelap ini..” Kepul berkata dengan nada sedih. ”Tidak, Kepul, kau tidak akan disimpan di sini lagi. Desa ini membutuhkanmu lagi..bahkan mungkin juga banyak orang dari luar desa ini yang akan datang hanya untuk menggunakan jasamu.” Tini menjelaskan. ”Apa maksudmu? Aku tak mengerti.” Kepul bingung.

Maka Tini menjelaskan semua pada si Kepul. Oh betapa riang gembira Kepul mendengar kabar yang baik itu! Ia langsung setuju dan siap melaksanakan tugasnya kembali. Sejak saat itu, si Kepul kembali bertugas di rel, tapi tidak untuk mengangkut tebu. Ia bertugas mengantarkan para turis yang ingin melihat-lihat dan bertamasya di atas Kepul si Kereta Api Uap! Asiiikk!!!

Dongeng ini dipersembahkan oleh Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Pensil Yang Hilang
Pensil_Yang_Hilang.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Kenalan yuk sama Lila. Lila ini adalah seorang anak perempuan yang baik, tapi, hmmm, agak malas.. “Lila, sebelum berangkat sekolah, jangan lupa bereskan meja belajarmu!” Ibu berteriak dari dapur kepada Lila. ”Iya ibu!” Lila menjawab dari dalam kamarnya, dalam hati Ia berkata, ”Hmm, sudah hampir terlambat ke sekolah, mana sempat aku membereskan meja belajarku? Biarlah berantakan sedikit. Ibu juga pasti mengerti.”

Lila memang agak malas kalau diminta tolong membereskan meja belajarnya. Ibu Lila sampai harus berkali-kali mengingatkannya, tapi Lila tidak juga mengerjakannya. Setelah Lila berangkat sekolah, kamar Lila terasa sunyi. Hanya terdengar sayup-sayup suara Ibu yang sedang memasak di dapur. Eh tapi coba dengarkan....seperti ada yang sedang bicara...tapi siapa ya?

“Pensil biru! Pensil biru! Di mana kau? Aduh, kemana sih Pensil Biru? Dia kan seharusnya kembali ke kotak pensil. Pensil biruuu! Pensil biruuu!” Ibu Kotak Pensil mencari – cari Pensil Biru. ”Hey hey, ibu kotak pensil...ada apa sih? Pagi-pagi begini sudah teriak-teriak.” Pak Lampu bertanya kepada Ibu Kotak Pensil sambil sedikit merasa terganggu. ”Aduuh...pak lampu...si pensil biru sudah semalaman tidak kembali ke kotak pensil, aku jadi khawatir.....pensil biruuu! Pensil biruuuu!” Ibu Kotak Pensil mulai khawatir sambil terus memanggil – manggil Pensil Biru.

”Hus hus hus, berhenti berteriak-teriak. Rasanya aku mau pecah mendengarkan teriakanmu. Biar aku terangi dulu ruangan ini, supaya kau dapat mencari dengan baik.” Pak Lampu akhirnya ikut membantu Ibu Kotak Pensil. ”Terima kasih, Pak Lampu...maaf aku merepotkanmu...” Ibu Kotak Pensil berterimakasih kepada Pak Lampu.

”Hmm...dari atas sini aku pun tak melihat si pensil biru, ibu kotak pensil....aku hanya melihat tumpukan buku-buku tak beraturan di meja belajar Lila” Pak Lampu berkata sambil terus menerangi ruangan. Tiba-tiba saja, pintu kamar dibuka dengan keras. Lho, apa yang dilakukan Lila? Dia kan seharusnya sudah berangkat dari tadi?

“Haduuuh..kemana ya buku PR ku? Kemarin rasanya kutaruh di tumpukan paling atas, tapi mengapa sekarang tak ada? Haduuh, bagaimana ini?” Lila panik sambil mencari – cari bukunya. “Ada apa Lila? Mengapa kau kembali? Ada yang tertinggal ya?” Ibu pun akhirnya masuk ke kamar Lila. “Iya ibu, buku PR ku tertinggal, padahal harus dikumpulkan hari ini. Aduuh di mana ya buku itu?” Lila menjawab sambil terus mencari – cari di atas meja belajar.

“Sini ibu bantu cari... hmmm...bukan ini...ini bukan juga...Lila, buku yang di bawah meja belajar itu, buku apa?” Ibu membantu sambil membalik – balik buku diatas meja belajar Lila. “Oh ini dia buku PR ku!! Terima kasih ibuu! Untung ada ibu!” sambil mencium Ibunya. “Oooh, pensilku ada di sini. Untung saja kubuka buku ini dulu. Eh, lho, ternyata aku belum membawa kotak pensilku juga!” Lila berkata sambil mengambil kotak pensilnya.

”Ya ampun, Lila....kenapa jadi pelupa seperti itu?” Ibu bertanya sambil geleng – geleng kepala. “Lila bukan pelupa, bu. Lila tadi tidak melihat kotak pensil di atas meja, jadi aku pikir sudah ada di dalam tas. Hehehehe...” Lila menjawab sambil tertawa kecil. ”Hmm...pasti tadi kotak pensilmu tertutup buku-buku kan? Lila, Ibu mau Lila janji satu hal.” Ibu akhirnya berkata dengan nada serius. ”Nanti sepulang sekolah, Lila bantu ibu membereskan meja belajarmu ya. Supaya Lila tidak bingung lagi setiap kali mencari sesuatu. Janji ya...” Ibu melanjutkan kata – katanya. ”Iya, Lila janji Bu.....maafin Lila ya Bu” Lila minta maaf kepada Ibunya. ”Ya sudah, berangkatlah ke sekolah. Jangan sampai terlambat.” Ibu akhirnya menyuruh Lila berangkat sekolah.

Setelah mencium tangan Ibu, Lila memasukkan pensil biru ke dalam kotak pensil, lalu memasukkan kotak pensil ke dalam tasnya. Lila pun berangkat ke sekolah dengan riang gembira. Psst, coba dengar, apakah kalian mendengar suara-suara kecil lagi?

”Oh, pensil biru! Akhirnya kau kembali! Aku sudah mencarimu ke mana-mana!” Ibu Kotak Pensil lega sekali. ”Maaf, Ibu. Tadi malam Lila menggunakan aku untuk membuat PR, tapi dia lupa mengembalikan ke kotak pensil. Jadinya aku bermalam di tengah lipatan buku. Uh rasanya tak enak, bu.” Pensil Biru meminta maaf kepada Ibu Kotak Pensil. ”Ya sudah, yang penting kau tak apa-apa. Ibu senang kau pulang, nak.” Ibu Kotak Pensil berkata sambil mencium Pensil Biru.

Nah, sejak saat itu, Lila tak pernah lagi menaruh barang miliknya di sembarangan tempat. Lila juga jadi rajin membereskan meja belajarnya. Dan Lila tak pernah lagi kehilangan barang-barangnya! Asik kan?

Dongeng ini dipersembahkan oleh Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Kikka si Peri Ceroboh (Bagian 1)
Kikka%20si%20Peri%20-%201.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Perkenalkan teman kita, namanya Kikka. Kikka adalah peri kecil yang lucu tapi juga agak nakal. Kikka senang sekali bermain-main dan bercanda dengan teman-temannya. Tapi sayangnya, Kikka juga sangat ceroboh. Kikka bahkan sering lupa di mana ia menaruh tongkat perinya.

”Hei, kawan-kawan, apakah kalian melihat tongkatku? Ibu, Ayah, kalian pasti tahu kan di mana tongkatku. Aduuh, di mana ya? Ini kan waktunya aku menebar serbuk bunga di padang rumput.” Kikka bertanya sambil mencari – cari tongkatnya. ”Hm...Kikka...kau sering sekali begini...janganlah terlalu ceroboh, Kikka...kau nanti malah bingung sendiri...” Ibu menasehatinya. ”Iya ibu... oh ya ampun, ini dia tongkatku! Tapi...agak retak...ah tapi tak apa lah, yang penting aku bisa melaksanakan tugasku. Dum di da di dum...” Kikka bernyanyi – nyanyi kecil sambil membawa tongkatnya yang retak.

Maka berangkatlah Kikka ke tepi padang rumput untuk menebar serbuk bunga di atas hamparan tanaman bunga matahari. ”Nah, setelah kutaburkan serbuk ini, tak lama lagi pasti muncul banyak sekali bunga matahari yang cantik. Hihihihi...” Kikka berkata sambil mulai menebarkan serbuk – serbuk bunga matahari.

”Hei, Kikka, jangan sembarangan menabur serbuk bunga itu. Lihat, kau menaburkannya ke atas kepalaku!” ternyata si Sapi terkena taburan serbuk bunga nya Kikka. ”Oooh maaf Pak Sapi...aku tak sengaja...aku terlalu asik menabur..hihiihi..” Kikka meminta maaf sambil tertawa – tawa kecil. ”Jangan tertawa saja, bagaimana dengan nasibku? Bagaimana kalau nanti tumbuh bunga di atas kepalaku?” si Sapi terdengar agak kesal. ”Hihihihi...emmm...hihihi...aku tak tahan membayangkannya...hihihi..kau pasti jadi sapi termanis di seluruh dunia! Hihihihi...hahahahaha...” Kikka masih saja tertawa – tawa sambil pergi meninggalkan si Sapi. ”Kikka! Hei Kikka! Jangan pergi! Bantu aku memberrsihkan sisa2 serbuk bunga tadi!” si Sapi memanggil – manggil Kikka.

”Wah tidak bisa, pak Sapi...maaf ya...hihihihi...kalau serbuk itu sudah menempel, tak akan bisa lepas lagi..hihihiihi” Kikka tertawa – tawa sambil pergi menjauh. Waduh, Kikka nakal juga ya...hmm harusnya kan dia membantu Pak Sapi, eeh dia malah terbang jauh. Untunglah Ayah Kikka melihat semua kejadian itu. Ia pun menghampiri pak Sapi, ”Pak Sapi, maafkan anakku...dia terkadang sangat ceroboh, tapi sebenarnya dia anak yang baik. Sini biar aku yang membersihkan serbuk bunga itu sebelum bunga matahari benar-benar tumbuh dari kepalamu.” Ayah meminta maaf kepada si Sapi. ”Mooo...terimakasih Ayah Kikka...hhh...mungkin Kikka harus diingatkan lagi untuk tidak ceroboh dan sembarangan..”si Sapi menyarankan kepada Ayahnya Kikka.

”Betul, aku pun berpikir demikian. Tapi bagaimana caranya ya? Aku dan Ibu Kikka sudah mencoba hampir segala cara. Tapi tak berhasil juga.” Ayah bertanya kepada si Sapi. ”Hmm...aku punya ide...tapi aku tak yakin ini berhasil...” Sapi ternyata punya ide. ”Bagaimana idemu itu, Pak Sapi? Tak apa jika tak berhasil, yang penting aku mencoba.” Ayah Kikka pun langsung bersemangat mendengarkan ide si Sapi. Pak Sapi dan Ayah Kikka pun kemudian telihat asyik merencanakan sesuatu.

Tapi..merencanakan apa ya? Apakah cara ini akan berhasil? Apakah Kikka akan menjadi peri yang baik dan tidak ceroboh lagi? Nantikan kisah lanjutannya besok di Dongeng Pagi bersama Paman Gery dan Bubu Mini yaaa...

Paman Gery & Bubu Mini
Kikka Si Peri Ceroboh (Bagian 2)
Kikka%20si%20Peri%20-%202.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Kikka memang ceroboh. Pak Sapi yang juga pernah menjadi korban kecerobohan Kikka, berunding dengan ayah Kikka. Mereka membahas cara yang tepat untuk mengingatkan Kikka supaya tidak ceroboh lagi. Setelah merencanakan sesuatu, Ayah Kikka kembali ke rumahnya. Ia segera menjelaskan rencananya pada Ibu Kikka dan saudara-saudara Kikka. Ketika hari mulai sore, Kikka kembali ke rumah dengan riang gembira, seperti biasa.

”Selamat sore Ayah, Selamat sore Ibu….hari ini cerah sekali ya.” Kikka menyapa Ayah dan Ibunya yang sedang duduk – duduk di ruang tamu. ”Selamat sore Kikka. Apakah kau bisa menolong ibu membuat ramuan sebentar?” Ibu meminta tolong Kikka. ”Bisaa…apa yang harus kulakukan?” sambil berjalan menghampiri Ibu.

”Ini,ibu minta tolong kau memasukkan bahan2 ini ke dalam kuali. Ini sudah ibu tuliskan resepnya: 4 batang jahe, 3 helai daun semanggi, dan 2 sendok serbuk bintang. Mudah kan? Nah, ibu ke kamar sebentar ya.” Ibu meninggalkan Kikka dengan resep tulisan Ibunya.

”Hmm..mudah sekali ya ramuan ini….nah, airnya sudah berbuih, waktunya untuk memasukkan bahan-bahan. Jahe….4 batang…..hmmm…5 helai daun kemangi….dan serbuk bintang…eh berapa sendok ya serbuk bintangnya?” Kikka memasukkan bahan – bahan ke dalam kuali.

Oh-oh, Kikka salah mencampurkan bahan-bahannya! Apa yang akan terjadi ya? Tiba – tiba terdengar suara air mendesis lalu suara ledakan.

”Aaaahhhh…toloooongggg!!! Ibuuuuuu! Ibuuuu!!! Toloooongggg! Huhuhuhu…” Kikka berteriak minta tolong kepada Ibunya. Asap tebal dan bau yang menyengat memenuhi dapur Ibu Kikka. Dan anehnya, airmata Kikka tak bisa berhenti mengalir. Deras sekali! ”Kikka…apa yang terjadi??” Ibu berlari dan kebingungan melihat Kikka yang menangis.

”Ibuuu…ibuuu…maafkan aku…sepertinya aku salah mencampur bahan-bahan ramuan ini…huhhuhu…lalu tiba-tiba ramuannya meledak….dan sekarang aku tak bisa berhenti mengeluarkan air mata…huhuhuhu” Kikka masih terus menangis dan tidak bisa berhenti. ”Kikka…ayah dan ibu minta maaf ya…sebenarnya ini bagian dari rencana….kami ingin kau menjadi anak yang bertanggung jawab dan tidak ceroboh lagi…jadi kami sengaja menyuruhmu membuat ramuan air mata ini…” tiba – tiba saja Ayah masuk ke dalam ruangan. ”Betul, Kikka….ramuan ini tak boleh salah sedikit pun karena malah akan berbalik menyerang si pembuat ramuan” Ibu berkata sambil berusaha menenangkan Kikka.

”Huhuhu…maafkan aku….aku..aku akan berusaha untuk tidak ceroboh lagi…huhuhuhu….tapi bagaimana dengan airmata ini? Apakah aku akan selamanya mengeluarkan airmata seperti ini? Aku tidak mau…huhuhuhu…” Kikka akhirnya meminta maaf. ”Tentu saja tidak, Kikka. Air mata itu dapat dihilangkan dengan mantra sederhana. Mari sini dekat ke ayah.” Ayah akhirnya menghampiri Kikka dan melafalkan mantra sambil melambaikan tongkat peri ke arah Kikka.

”Bagaimana Kikka? Sudah berhenti kan?” tanya Ibu sambil tersenyum. ”Benar! Sudah berhenti sekarang! Terima kasih ayah, ibu. Maafkan aku …selama ini pasti aku sering merepotkan kalian.” Kikka menjawab dengan suara yang gembira. ”Sudahlah, yang penting kau mau belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Ayah dan Ibu bangga sekali.” Ayah berkata sambil mengelus – elus kepala Kikka.

Dongeng ini dipersembahkan oleh Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Sepeda Baru Karina (Bagian 1)
Sepeda%20Baru%20Karina%20-%201.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Pada suatu pagi yang cerah, Karina masih tertidur lelap. Lho kok Karina tidak pergi ke sekolah? Oooh, Karina kan baru saja terima raport. Jadi sekarang Karina libur dan ingin bangun agak siang. Eh tapi kenapa Mama tetap membangunkan Karina ya?

“Karina…Karin…sayang..bangun yuk…” Mama membangunkan Karina sambil mengelus – elus kepalanya. ”Aduuh Mama…aku kan libur…aku mau bangun siang ajaa…” Karina berkata sambil masih memejamkan matanya. ”Iya mama tau Karin libur…nanti juga boleh kok tidur lagi, tapi sekarang bangun dulu yaa…ada kejutan buat Karin” Mama berkata sambil terus berusaha membangunkan Karina. ”Hah? Kejutan? Waaah, Karin suka kejutan!” Karina langsung bangun dari tempat tidurnya.

”Nah makanya Karin bangun dong, kejutannya ada di ruang makan.” sambil tertawa kecil. Karina pun langsung berlari ke ruang makan. Wah, dia sudah tidak sabar, adik-adik. Kira-kira apa ya kejutan untuk Karina? Wah…aku juga jadi penasaran.

Karina membuka pintu ruang makan, tiba – tiba ”Kejutaaaan!” Papa berteriak dari balik pintu sambil membawa sepeda. ”Waaaaah, sepedaaaaaa!!!” Karina berteriak kegirangan. ”Ini hadiah untuk Karina karena kemarin raportnya bagus sekali.” Mama berkata sambil tersenyum senang karena sudah berhasil memberi kejutan kepada anaknya. ”Iya Karin, Papa dan Mama bangga sekali sama kamu.” Papa ikutan mencium kening Karina.

”Terima kasih ya maaa…terima kasih ya paaaa…Karina sayaaang sama Mama dan Papa” Karina memeluk dan mencium kedua orang tuanya. Ternyata Karina mendapat hadiah sepeda roda dua. Warnanya merah, sadelnya putih, wah pokoknya baguuus sekali. Iya, saking bagusnya, Karina ingin segera bisa naik sepeda. Sebetulnya sudah lama dia ingin belajar naik sepeda, tapi di rumah Cuma ada sepeda Mama dan Papa yang terlalu besar untuk Karin. Nah, setelah mendapatkan sepeda baru ini, Karina jadi bersemangat sekali belajar naik sepeda.

”Sepedaku sayang, aku memang belum bisa naik sepeda, tapi suatu saat aku pasti bisa! Nah…tunggu tunggu…bagaimana ya mulainya?” Karina berkata kepada sepedanya sambil berusaha menaiki sepedanya. ”Waduh..kenapa goyah begini? Eh eh eh…EEH…” dan Karina terjatuh!

”Aduh…lututku...uuh, ternyata tidak semudah yang kukira...tapi akan kucoba lagi. Mungkin sebaiknya aku berpegangan pada tembok sambil menaiki sepeda. Satu, dua, hup! …… Yeeey, aku bisa duduk di atas sadelnya!” Karina terus berusaha. Waduh, kenapa Karina belajar sendiri ya? Kan bahaya juga kalau dia jatuh lagi.

”Eh, tapi lalu bagaimana cara aku mengayuh sepeda ini ya? Hmm..kalau aku lepaskan pegangan..pasti aku jatuh. Tapi kalau tidak aku lepas, bagaimana aku bisa mengayuh? Ah sudahlah, kucoba saja…..aaaaah, toloooong!” Wah, Karina malah menabrak pot tanaman milik Mama lalu terjatuh! Duh, kasihan Karina! ”Aduuuuh…lututku…tanganku…uuuh aku sebaaalll! Kenapa sih susah sekali naik sepeda?” Karina menahan tangis sambil mengelus – elus lututnya.

”Karina? Kamu kenapa, Nak? Mama dengar ribut-ribut tadi…..oh ya ampuuunn…Kariiin…kamu terjatuh dari sepeda ya?” Mama keluar rumah dan langsung panik melihat Karina yang terduduk di garasi depan rumah. “Huhuhu…Mama…ini lihat tangan dan kakiku luka-luka…huhuhu…” Karina menangis manja mengadu kepada Mamanya.

”Aduh, Karin, kenapa kamu naik sepeda sendirian? Kamu kan belum bisa….aduuh…sudah, ayo masuk, biar Mama obati lukanya.” Mama mengambil kotak obat dari dalam rumah. ”Huhuhu….Karin tak mau naik sepeda lagi, Ma…huhuhu…sakit….masukkan saja sepedanya ke gudang, aku tak mau lagi!” Karina menangis. ”Sudah, sudah, Karin…jangan menangis lagi ya…nanti Mama simpan sepedanya di gudang ya…” Mama mengelus – elus kepala Karina.

Tampaknya Karina sudah kapok…sayang juga ya, padahal kan dia baru sekali mencoba. Akhirnya sepeda baru berwarna merah itu pun disimpan di gudang. Wah, sayang sekali Karin bisa mendengar isak tangis lembut si sepeda baru.

”Hiks…huhuhu…mengapa aku disimpan di gudang? Aku kan tidak bersalah. Karin jatuh bukan karena aku…kenapa aku dihukum? Huhuhuhuhu” Sang sepeda menangis tersedu – sedu. Waduh, kasihan juga ya si Sepeda Merah…ia sedih sekali…. Apakah yang terjadi selanjutnya pada si sepeda merah? Nah, adik-adik, nantikan kelanjutannya ya.

Dongeng ini dipersembahkan oleh Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Sepeda Baru Karina (Bagian II)
Sepeda%20Baru%20Karina%20-%202.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Setelah akhirnya Karina terjatuh karena berusaha belajar naik sepeda dan Mama memasukan sepeda barunya Karina ke dalam gudang.

Nah, sementara Karin ngambek dan kapok belajar sepeda, di dalam gudang terjadi pembicaraan yang cukup seru. Coba kita dengarkan.

“Huhhhuhu…huhuhhuhu….hiks…kenapa aku dihukum? Bukan aku yang membuat Karin jatuh…huhuhuhu” Sepeda menangis tersedu – sedu di pojok gudang. “Hey hey, sepeda merah, ada apa sih menangis begitu? Suaramu mengganggu sekali. Berisik!” Kotak Perkakas terbangun dari tidurnya karena terganggu oleh suara tangisan Sepeda.

“Hiks…oh..maafkan aku, Pak Kotak Perkakas…aku…aku hanya sedang sedih sekali…Karina…tak mau lagi main denganku…karena dia tadi terjatuh dari atasku…hiks hiks” Sepeda masih menangis tersedu – sedu. “Memangnya kau goyah ya? Atau rantaimu tersangkut? Atau..sadelmu copot?” Kotak Perkakas bertanya.

„Tidak, aku baik-baik saja. Aku baru saja dibeli oleh Papa dan Mama Karina…semua bagianku baru……karina terjatuh karena ia belum pernah dan belum bisa naik sepeda…” Sepeda menceritakan kejadian sebelumnya. „Oh, baru sekali terjatuh tapi Karina sudah menyerah? Lalu kau disimpan di sini bersama kami, barang-barang tua?” Kotak Perkakas berkata sambil melihat ke sekeliling gudang. „Iya…hiks…karena itu aku sedih…padahal kan bukan salahku….Karina hanya kurang sabar belajar…” Sepeda kembali menangis lagi.

Tiba-tiba terdengar suara yang ceria dari ujung gudang. Siapa ya itu? „Hai hai, sepeda merah! Jangan sedih ya…aku mau membantumu! Aku adalah roda tambahan yang digunakan kakak Karina saat belajar naik sepeda” ternyata Roda Tambahan mendengar pembicaraan Sepeda dan Kotak Perkakas, akhirnya menawarkan bantuan. „Benarkah kau mau membantuku? Terima kasih, terima kasih…tapi bagimana caranya kau membantuku?” Sepeda mulai bisa berkata ceria tapi masih merasa bingung.

„Hmm..dengan bantuan Pak Kotak Perkakas, tampaknya kita bisa melakukan sesuatu. Hey bel sepeda, kau mau ikut, tidak?” Roda Tambahan mengajak teman – temannya untuk membantu Sepeda. „Kring kring…kring kring..tentu aku ikut! Sudah terlalu lama aku berdiam di gudang ini. Ayo kita lakukan!” Bel Sepeda berkata dengan nada semangat.

Lalu gudang itu sibuk dengan berbagai kegiatan. Terdengar bunyi ketok-ketok sepanjang malam dan bunyi bel sepeda. Maka tibalah pagi yang sudah ditunggu-tunggu seisi gudang. Mereka menunggu Karina melewati gudang itu….tunggu…sebentar lagi…ya itu dia Karina! Ketika Karina lewat di depan gudang, tiba-tiba terdengar riuh sekali suara bel sepeda!

”Hah? Bel sepeda? Apa aku salah dengar? Ah, benar! Suaranya datang dari dalam gudang! Coba kulihat..” Karina membuka pintu gudang. Adik-adik tahu apa yang dilihat oleh Karina? Sepeda barunya kini telah memiliki sepasang roda tambahan! Karina pasti jadi lebih mudah belajar naik sepeda.

”Waaah….dengan roda belakang ini, aku pasti bisa cepat pandai naik sepeda…dan tidak akan sering-sering jatuh.” Sambil melihat – lihat Roda Tambahan di sepedanya, ”Oh, dan bel sepeda ini” Karina berkata sambil membunyikan bel di sepedanya. ”…waaah…bagus dan nyaring sekali!” Karina berteriak kegirangan.

Maka Karina pun berlari ke dalam rumah mencari orang tuanya. Begitu ia melihat Papa dan Mama di ruang makan, langsung saja Karina memeluk keduanya. ”Papa..Mama..terima kasih yaaa..kalian sudah membelikan roda belakang untuk sepedaku…dan juga sebuah bel yang bagus! Aku akan belajar naik sepeda lagi dan aku berjanji tak akan mudah menyerah! Terima kasih Ma, Pa! aku main sepeda dulu yaaa….” Karina berkata sambil memeluk Papa Mama.

Mama dan Papa Karina senang sekali melihat Karina sudah bersemangat lagi…tapi diam-diam mereka juga berpikir, siapa ya yang sudah menambahkan roda belakang dan bel pada si sepeda merah? Hmm…. Hihihihi….biarkanlah orang-orang dewasa kebingungan, ini kan dunia dongeng..hihihihi

Dongeng ini dipersembahkan oleh Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Buah Pohon Kebaikan
Buah%20Pohon%20Kebaikan.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di suatu masa, di wilayah Kerajaan Kisra, hiduplah seorang petani tua yang rajin bekerja… Petani itu sudah sangat renta, tapi banyak orang yang kagum kepadanya, karena ia masih sangat rajin ke ladang setiap hari untuk bercocok tanam… Sudah tidak terhitung jumlah pohon yang ia tanam sejak masih muda. Sampai kini setelah usianya sudah sangat tua dan badannya rapuh, tetap saja ia pergi ke ladang, karena baginya, berladang adalah kegiatan yang menyenangkan.

Karena hidupnya yang sangat rajin, maka beredarlah kisah ini ke seluruh negeri, bahkan akhirnya sampai juga didengar oleh sang raja Kisra. Hingga pada suatu hari di istana Kerajaan Kisra, sang raja memanggil semua pengawalnya, “Hulubalang dan pengawal !!Atur kereta kencanaku, dan bawa aku ke tempat petani tua yang rajin itu…!!” Sang Pengawal pun memanggil pasukannya, “Siap Baginda !! Pasukaaaaannnn…… !!!! Siapkan kereta kencana …!!!”

Rupanya Sang raja Kisra penasaran!! Ia ingin sekali melihat seperti apa rupa sang petani rajin itu. Tapi mau apa ya Baginda kesana? Maka pada hari itu berangkatlah rombongan istana Kerajaan menuju dusun tempat sang petani tinggal. Letaknya memang sangat jauh dari pusat kerajaan, sehingga perjalanan pun memakan waktu dua hari untuk sampai.

”Pengawal…….!!! Stop….!! Berapa lama lagi kita akan sampai…??” Tanya Raja Kisra kepada para pengawal dan pasukannya. ”Sebentar lagi Baginda, petani itu tinggal di seberang sungai ini…..!!” Sang Pengawal menjawab sambil menunjuk ke arah sungai.

Perjalanan sang raja akhirnya sampai di suatu daerah ladang luas yang sangat subur, dan terlihat semua tanaman disana dirawat dengan baik…!! Itulah ladang sang Petani. Dan Sang Raja pun menghampiri sang petani yang terlihat sedang bekerja mencangkul, ”Hai Petani tua, boleh aku mengganggumu sebentar..?” Sang Petani kaget, ”Oh.. oh.. Baginda, ampuni hamba, ada maksud apakah Baginda datang ke tempat hamba yang hina ini…??” sang petani pun berhenti mencangkul. ”Aku ingin tahu, pohon apa yang kau tanam itu..?” tanya Raja Kisra. ”Pohon zaitun, Baginda…” sang Petani menjawab sambil kebingungan. ”Bukankah pohon zaitun tumbuh dan berbuah lama sekali…?? Sementara kau sudah tua, mungkin kau tidak akan bisa menikmati hasil dari pohon yang kau tanam sekarang…??” Tanya Raja Kisra. ”Betul, baginda..!!” sang petani menjawab dengan lantang.

Jawaban Petani tua itu mengagetkan sang raja. Perlahan petani itu memandang teduh pada sang raja, dan bertanya, “Maaf Baginda… Apakah baginda suka memakan buah zaitun…?” sang Raja pun menjawab, ”Ya !! Tentu !! Zaitun salah satu buah kesukaanku…!!” sang petani menjawab dengan pelan namun pasti, ”Sadarkah Baginda, buah zaitun yang baginda makan itu adalah hasil tanaman orang – orang terdahulu, dan bisa saja orang yang menanam pohon zaitun itu sudah tidak ada lagi sekarang…”

Begitu mendengar kata-kata Petani tua, hati Raja Kisra tersentuh. Ia yakin bahwa orang yang ada di hadapannya itu memang bijaksana. Baginda Raja Kisra sangat mengaguminya, maka ia memutuskan untuk memberikan hadiah kepada petani tua itu, berupa bingkisan berisi banyak keping uang.

”Terima kasih.. Baginda.. tapi bolehkah hamba menyampaikan sesuatu…” sang Petani berkata lalu melanjutkan kata – katanya, ”Aku baru menyadari, ternyata pohon kebaikan yang aku tanam ini berbuah cepat sekali….Hadiah yang Baginda berikan kepadaku adalah buah kebaikan itu.”

Waaahhh… Raja Kisra semakin kagum dan senang kepada petani tua itu, maka ditambahkannyalah hadiah dengan bingkisan berikutnya. Sang petani kembali berkata, ” Terima kasih Baginda…. Ini benar-benar  berkah buatku…Setiap pohon biasanya hanya berbuah dalam setahun,….Tapi pohon kebaikan yang aku tanam ini telah berbuah dua kali dalam waktu yang sangat cepat...” Sang raja pun langsung berkata, ”Kau memang seorang yang bijaksana petani tua, terimalah hormatku..!”

Pengalaman hari itu benar-benar berkesan buat sang raja. Kata-kata dari petani tua itu benar-benar membuatnya tersadar untuk selalu melakukan kebaikan bagi rakyatnya. Kalau kita menanam pohon kebaikan, maka akan berbuah sangat cepat. Maka, selalu berbuat baiklah kepada orang lain, supaya menjadi orang yang selalu juga mendapatkan banyak kebaikan.

Dongeng ini disadur dari majalah Orbit, persembahan FeMale Radio
Paman Gery & Bubu Mini
Jippy si Jerapah
Jippy%20si%20Jerapah.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di sebuah padang rumput yang luas dan gersang, berbagai hewan hidup berdampingan. Ada gajah, singa, burung-burung, antelope, dan ada juga jerapah yang senang berkumpul sekeluarga.

Di antara keluarga jerapah, ada seekor jerapah muda yang sangat lincah dan cantik, namanya Jippy. Jippy memang sangat cantik. Tubuhnya jangkung, lehernya jenjang, bulu matanya lentik, dan bahkan totol-totolnya terlihat serasi sekali dengan kulitnya! Tapi, kenapa ya Jippy tampaknya sedih?

Mungkin ada sesuatu yang terjadi. Yuk kita dengarkan saja pembicaraan Jippy si Jerapah dengan Joni si Bajing yang sedang berjalan-jalan di dahan pohon.

“Hey Jippy! Kenapa wajahmu muram begitu? Padahal hari begitu indah dan matahari bersinar terang.” Joni si Bajing bertanya ke Jippy si Jerapah sambil menunjuk ke arah matahari. “Ah aku tak peduli dengan semua itu. Aku kesal, kesal, kesal!” Jippy si Jeparah menjawab dengan nada kesal. “Eh eh eh, ada apa sih? Kok marah-marah begitu?” tanya Joni si Bajing sambil kebingungan.

”Aku sebal melihat bayanganku di sungai. Aku tak suka totol-totolku. Badanku kelihatan kotor, seperti tertutup Lumpur. Huh!” Jippy si Jerapah terus saja menggerutu. „Ah, menurutku totol-totolmu bagus kok, lebih bagus dibanding beberapa jerapah lain.” Joni si Bajing berusaha menghibur temannya.

„Tapi aku tak suka punya totol-totol! Aku ingin kulitku mulus seperti singa! coba kau lihat ke sana, ke arah kelompok singa. betapa cantik kulitnya! Dan surainya…waaah…aku ingin sekali memiliki surai seperti itu!” Jippy si Jeparah mulai berandai – andai. „Hhahahahaha…mana ada jerapah tak bertotol? Dan, apa? Kau ingin punya surai? Mimpi saja kau. Ahahahha, dasar jerapah yang aneh!” Joni si Bajing tidak tahan untuk tidak mentertawakan temannya itu. „Memangnya kenapa aku tak boleh punya kulit mulus? Huh, kau lihat saja nanti, Joni! Aku akan jadi cantik seperti singa!” Jippy si Jerapah berkata sambil pergi meninggalkan Joni si Bajing.

Maka Jippy pergi meninggalkan Joni Bajing. Ia memutar otak, memikirkan bagaimana cara memiliki kulit dan surai seperti singa. Aha! Jippy mendapat ide bagus! Cepat-cepat ia pergi ke kubangan lumpur. Hmm…mau apa ya? Oh ya ampun! Jippy berendam di lumpur! Eh, tapi tunggu….sekarang dia keluar dari kubangan…lalu…hah? Jippy berguling-guling di atas tanah dan pasir! Oh, ternyata Jippy ingin mengubah warna kulitnya! Ia ingin terlihat berwarna kecoklatan dan tanpa totol, seperti singa. ck ck ck…jippy…

”Nah, sekarang pasti aku kelihatan cantik! Hihiiihi, aku tak sabar untuk pulang dan bertemu keluargaku. Mereka pasti akan sangat terkejut!” Jippy si Jerapah berkata dengan nada senang. Maka Jippy pun kembali ke keluarganya. Tapi apa yang terjadi?? Mengapa keluarga Jippy malah lari berhamburan ke segala arah? Apa yang terjadi? Ya ampun, ternyata keluarga Jippy tak bisa mengenali Jippy! Mereka pikir, Jippy adalah binatang aneh yang mau menyerang mereka!

”Ayah! Ibu! Kenapa kalian lari? Ini aku!! Jippy!” Jippy si Jerapah berusaha memanggil – manggil keluarganya. ”Jippy? Betulkah itu kau?” Ibu Jerapah masih merasa tidak yakin. ”Betul ibu….uuuh…kenapa kalian lari sih??” Jippy si Jeparah merasa bingung. ”Kami tak mengenalimu, sayang, karena kulitmu tidak bertotol….apa yang terjadi padamu? Apakah kau jatuh ke dalam kubangan?” Ibu Jerapah bertanya kepada anaknya. ”Bukan, ibu, aku sengaja mengubah warna kulitku…karena aku tak suka…aku terlihat jelek dengan totol-totol itu.” Jippy si Jerapah kembali menggerutu. ”Hhhh…Jippy…kita adalah jerapah..kulit kita memang bertotol-totol, tapi itulah yang membuat kita istimewa…kamu seharusnya bersyukur..” Ibu Jerapah berusaha memberi pengertian kepada anaknya.

”Tahukah kau apa fungsi totol-totol pada kulit kita? Gunanya adalah untuk menyamarkan kita di antara pepohonan…supaya kita tidak mudah dikenali musuh…lihat saja, warna kulit dan totol-totol kita begitu serasi dengan padang rumput ini. Kau tak ingin kita mudah tertangkap singa, bukan?” Sang Ibu kembali menjelaskan kepada anaknya.

” …tidak, aku tidak mau ditangkap singa, Bu…huhuhu…maafkan aku…aku tak akan membenci totol-totolku lagi….huhuhuhu….” Jippy si Jerapah berkata sambil menangis.

Nah, syukurlah, akhirnya Jippy menyadari kesalahannya dan mau berubah. Maka Jippy berubah menjadi jerapah yang baik dan senantiasa bersyukur atas keadaannya.

Dongeng ini dipersembahkan oleh Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Putri Palsu (Bagian 1)
PUTRI%20PALSU%201.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di sebuah desa yang terpencil, hiduplah sebuah Bapak dan Ibu Tani dengan anak mereka yang cantik bernama Tiara. Tiara adalah gadis yang baik hati. Setiap hari ia membantu orang tuanya di ladang. Kadang menanam, menyiangi rumput, atau mengairi ladang.

Pada suatu siang yang cerah, Tiara sedang berada di ladang memberi makan kambing-kambing peliharannya. Tiba-tiba datang sebuah kereta kuda yang megah dan amat mewah.

“Wah..bagus sekali kereta itu…kira-kira siapa yang ada di dalamnya ya? Eh…lho…tapi mengapa kereta itu berhenti tepat di depan rumahku?” Tiara berkata dalam hati sambil kebingungan. Tiara pun penasaran, lalu segera berlari menuju rumahnya secepat yang ia mampu. “Hhh..hh….kereta itu terlihat seperti kereta kerajaan…hhh..hh…jangan-jangan…ada masalah dengan ayah dan ibu….ayo, kaki! Lari lebih kencang lagi!” Tiara mulai merasa khawatir sehingga terus berlari sekuat tenaga.

Sesampainya Tiara di depan rumah, seorang lelaki berpakaian seperti anggota kerajaan langsung menyambutnya. “Oh…benar-benar mirip Putri Alana! Memang agak sedikit lebih pendek, tapi pasti tak akan ada yang menyadari perbedaannya.” Sang penasihat memandangi Tiara dari atas kepala sampai bawah kaki. ”Hey, ada apa ini? Ibu? Ayah? Ada apa ini?” Tiara bertanya kebingungan. ”Tiara sayang, bapak ini adalah penasihat di kerajaan kita. Kemarin ia melihatmu bekerja di ladang. Ia mengira kau adalah Putri Alana.” Ibu mejelaskan kepada Tiara tentang maksud kedatangan sang Penasihat kerajaan ke rumah mereka.

”Aku sudah hampir putus asa mencari Putri Alana. Tiara, ikutlah dengaku ke istana. Tolonglah kami semua. Nanti akan kujelaskan di perjalanan.” Sang penasihat berkata dengan nada agak memelas putus asa.

Dengan izin dari ayah dan ibunya, Tiara pun ikut dengan Penasihat ke istana. Sepanjang perjalanan, Penasihat menceritakan acara-acara penting yang harusnya dihadiri Putri Alana. Pertama, Putri Alana harus hadir dalam pertemuan keluarga besar kerajaan. Kedua, Putri harus mewakili kerajaan berkunjung ke Lembah Gagak untuk menyelesaikan masalah perdagangan. ”Apakah Putri Alana diculik, Pak Penasihat?” tanya Tiara.

”Tidak, dia hanya berkelana, menyamar menjadi orang biasa. Jadwal acaranya ketat dan ada larangan keluar istana. Namun di waktu senggang, Putri sering menyelinap keluar. Hanya aku dan istriku yang tahu.” sang penasihat menjawab sambil tertawa kecil. ”Lalu apa yang bisa kulakukan untuk membantu?” Tiara kembali bertanya. ”Kau akan menyamar menjadi Putri Alana dan menghadiri dua acara yang benar-benar penting. Istana bisa gempar jika Putri tak hadir, dan pembatalan pertemuan dengan Lembah Gagak juga bisa menyulut perang.” sang penasihat menjelaskan.

”Menyamar? Apakah mungkin? Orang-orang yang dekat dengan Putri pasti tak akan tertipu!” Tiara mulai merasa sedikit khawatir. ”Tenang saja, Tiara. Semua akan kuatur. Aku dan istriku akan melatihmu menjadi putri dalam waktu 3 hari saja. Pasti tak ada yang melihat perbedaannya!” sang penasihat berusaha menenangkan Tiara.

Maka Tiara pun diajari tata karma dan kebiasaan istana. Ia juga diberi pakaian yang bagus-bagus dan perhiasan yang indah-indah. Tiga hari kemudian, tibalah hari yang ditunggu-tunggu. ”Tiara, hari ini kau harus menjadi Putri Alana dalam pertemuan keluarga kerajaan. Jangan khawatir, ingatlah semua yang telah kami ajarkan kepadamu. Semoga semua berjalan dengan baik.” sang penasihat menenangkan Tiara. ”Aduh…aku gugup…bagaimana mungkin keluarga besar kerajaan tidak melihat perbedaanku dengan Putri Alana? Aduh, bagaimana jika aku ketahuan?” Tiara berkata dalam hati.

Tiara panik, tapi ia beranikan diri juga. Tiara pun melangkah yakin menuju ruang pertemuan kerajaan tersebut. Ketika pengawal membuka pintu aula, semua mata tertuju pada Tiara. Raja dan Ratu serta belasan putri, pangeran, dan bangsawan sudah menunggu. Oh..oh…Tiara gemetar! Ia takut penyamarannya ketahuan. Tiba-tiba sang Raja memanggilnya dengan suara menggelegar, ”Alana……kau terlambat. Segeralah duduk, kami semua sudah menunggumu sejak tadi.”

”Hah…syukurlah Raja tak menyadari bahwa aku bukan Alana. Sekarang aku hanya harus berpura-pura sepanjang pertemuan keluarga ini.” Tiara berkata dalam hati sambil menghela nafas. Tapi ternyata Tiara tak perlu repot berpura-pura. Para pangeran dan putri duduk kaku di kursi yang saling berjauhan, lalu bergantian melaporkan kegiatan seminggu terakhir kepada Baginda dan Permaisuri. Tak ada canda tawa yang akrab seperti layaknya sebuah keluarga. Oooh, begitu ya rupanya kehidupan di istana. Hhhh…tak heran mereka tidak menyadari penyamaran Tiara. Setiap orang pun tampak ingin segera mengakhiri acara tersebut saking bosannya.

Nah, bagaimana kelanjutan cerita Tiara yang menyamar sebagai putri Alana? Apakah ia berhasil menyelesaikan masalah perdagangan dengan Lembah Gagak? Ataukah penyamarannya malah akan terbongkar?

Dongeng ini disadur dari Majalah Bobo persembahan Female Radio
Paman Gery & Bubu Mini
Putri Palsu (Bagian 2)
PUTRI%20PALSU%202.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Masih ingat kan cerita tentang Tiara yang kemarin? Tiara adalah anak petani yang mendapat tugas luar biasa dari penasihat kerajaan karena Putri Alana menghilang. Karena Tiara memiliki wajah yang mirip sekali dengan Putri Alana, Penasihat Kerajaan meminta tolong pada Tiara untuk menyamar menjadi Alana.

Ternyata Tiara sukses menyamar menjadi Putri Alana. Dia berhasil meyakinkan keluarga kerajaan bahwa dia adalah sang putri. Tapi, ternyata memang keluarga kerajaan itu hubungannya tidak terlalu dekat ya. Pertemuan keluarga kerajaan berjalan sangat kaku dan masing-masing duduk berjauhan. Pantas saja mereka tidak menyadari perbedaan antara Putri Alana dengan Tiara. Setelah berhasil melaksanakan tugas pertama, Alana kembali harus menyamar untuk menghadiri pertemuan dengan penguasa Lembah Gagak. Tiara merasa tak siap menghadapi tugas ini, maka ia mengutarkan isi hatinya kepada istri penasihat kerajaan.

”Haduh…bagaimana ini? Penguasa Lembah Gagak kan dikenal sebagai orang-orang yang dingin dan kejam. Bagaimana jika aku gagal berunding dengan mereka?” Tiara berkata dengan gugup sambil mondar mandir di dalam kamarnya. ”Tenanglah, Tiara. Kau pandai dan sudah belajar banyak. Aku yakin kau berhasil, asalkan kau percaya diri.” Istri penasihat berusaha menenangkan Tiara.

”Hhh..benarkah Ibu Penasihat? Aku takuut…” Tiara masih merasa cemas. ”Kau pasti bisa. Pak Penasihat akan menemanimu ke Lembah Gagak.” Istri penasihat berkata untuk menenangkan Tiara.

Ternyata perundingan di Lembah Gagak itu berjalan mulus. Tiara yang menyamar menjadi Putri Alana tampil memukau dengan penampilan dan kecerdasannya. Hasil perundingan tersebut adil dan menguntungkan kedua pihak. Berminggu-minggu sudah Tiara menyamar menjadi Putri Alana, tapi sang putri asli tak juga muncul. Itu berarti Tiara harus terus menyamar. Tapi Tiara tidak keberatan karena ia pun menikmati kehidupan menjadi seorang Putri. Pada hari ulang tahun kerajaan, Raja dan Ratu memberikan Tiara hadiah berupa bros emas berbentuk mawar yang indah sekali. Tiara girang bukan kepalang, ia belum pernah mendapat hadiah semahal itu.

”Wah…hadiah ini bagus sekali! Aku akan menyimpannya di kotak perhiasan Putri Alana. Semoga ia tak pernah kembali ke sini. Hihihii…” Tiara berkata dengan senangnya. Tapi apa yang terjadi ketika Tiara membuka kotak perhiasan Putri Alana yang tak pernah disentuhnya sebelum ini? Ia menemukan banyak sekali bros mawar emas di situ! Ooooh, ya ampuuun, jadi setiap tahun Raja dan Ratu memberikan hadiah yang persis sama? Tiara seketika itu juga berpikir, pantas saja Putri Alana menghilang dari istana. Ia pasti bosan sekali dengan kekakuan dan keadaan di istana.

Akhirnya Tiara memutuskan untuk pergi. Pada malam hari ia mengendap-endap keluar dari jendela kamarnya….dan kembali ke ayah-ibunya yang sederhana tapi penuh kehangatan dan kasih sayang. Satu bulan kemudian, saat Tiara sedang menanam benih di ladang, datanglah sebuah kereta kencana yang megah. Dari dalam kereta itu keluar seorang gadis yang wajahnya mirip sekali dengan Tiara.

”Tiara, terima kasih karena telah menggantikan aku selama aku pergi dari istana. Dan kau sangat jujur, tak sehelai pun pakaian atau perhiasanku yang hilang. Terima kasih banyak, Tiara. Ini aku bawakan brow mawar emas yang Ayah dan Ibu berikan padamu. Kau benar-benar pantas mendapatkannya.” ternyata itu adalah Putri Alana. ”Hormat saya, Putri. Hamba sungguh berterima kasih atas segalanya.” Tiara menunduk hormat.

”Ah, kau tak perlu menghormatiku seperti itu. Yang aku butuhkan adalah teman, bukan sanjungan dan kata-kata penghormatan. Apakah kau mau jadi temanku?” Putri Alana memohon kepada Tiara. ”Oh, tentu…tentu saja Putri. Aku sangat senang menjadi temanmu!” Tiara berkata riang tanda setuju.

Maka Tiara pun bersahabat dengan Putri Alana. Jika sang Putri merasa kesepian, Tiara akan datang ke istana atau sang Putri akan datang ke rumah Tiara, membantunya berladang. Setelah berteman dengan Tiara, Putri Alana menjadi putri yang lebih ceria dan menyenangkan. Ia menjadi favorit seisi istana. Istana pun menjadi lebih hangat dan bahagia.

Dongeng ini disadur dari Majalah Bobo persembahan Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Suara Emas Asiri
SUARA%20EMAS%20ASIRI.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Kali ini Bubu Mini dan Paman Gery bercerita tentang dua peri yang bersahabat, bernama Asiri dan Pirusa. Mereka tinggal di Negeri Indahloka, sebuah negeri dimana Para Peri memiliki kemampuan dan tugas masing-masing.

Mereka antara lain ada yang bertugas memberi warna di kelopak bunga, ada yang tugasnya menebar air untuk menyuburkan tanah pertanian, ada juga yang bertugas untuk menyalakan cahaya bintang di malam hari, hehehe.. dan masih banyak lainnya…

Asiri dan Pirusa adalah 2 orang peri yang bertugas untuk memberikan warna-warni yang indah di kelopak bunga. Mereka adalah peri yang rajin melakukan tugasnya, sehingga tidak ada satu bungapun yang ketinggalan diwarnai di dunia ini…

Seperti hari itu, lihat…!! Kedua peri itu sedang terbang berpindah-pindah dari satu kelopak bunga ke kelopak lainnya…. Kelihatannya mereka ceria sekali….!! ” La…laa…laa….laa…. Lihat kebunkuuu…penuh dengan bungaaa…. Ada yang putih…. Dan ada yang meraaahhhh…..Naahh… sekarang serbuk ajaibku kuberikan untuk kelopak mawar ini… .. !!” Asiri bernyanyi dengan suara merdu dan indah, lalu Ia mengayunkan tongkat perinya, “Aaahhh… sekarang warna merahmu sungguh cantik mawarku…”

Tiba – tiba datang Pirusa menghampirinya, “Hai Asiri…. Sudah selesai tugasmu…??” Pirusa bertanya, “Sudah Pirusa ! Kita sekarang kemana lagi…??” Asiri balik bertanya sambil mengayunkan tongkat perinya ke udara. “Kita harus segera pindah ke kebun anggrek. Kau masih punya serbuk berwarna ungu kaan…??” Pirusa bertanya kepada Asiri. “Masih banyak…!! Ayok, kita segera kesana…!! Wiiiiiiii……!!!” Asiri berkata sambil siap – siap terbang.

Lucu ya mereka…!! Bisa terbang, dan setiap hari kompak bertugas berdua, dari satu kebun ke kebun lainnya.. Iya !! Tapi, ada yang berbeda di antara kedua peri itu !!

Asiri senaaaang sekali menyanyi, sedangkan Pirusa tidak pernah !! Kenapa yaa…?? Aaahh…. Coba kita dengar apa kata mereka !!

“Asiri kawanku…Aku sebenarnya sudah lama ingin bisa menyanyi dengan suara indah sepertimu…” Pirusa berkata malu – malu. “Lhoo… Aku juga sudah lamaaa sekali ingin bertanya, kenapa kau tidak pernah ikut menyanyi bersamaku…??” Asiri pun bertanya kebingungan.

“Aku malu Asiri….. suara ku jelek dan pecah… Sedangkan suaramu indah dan merdu..” Pirusa menunduk malu. “Hihihihi… siapa bilang suaramu jelek , Pirusa..??” Asiri berkata sambil tertawa – tawa kecil. “Hihihi…. Aku sendiri yang bilang suaraku jelek…!! Akupun tidak pernah berani menyanyi didepanmu,  hihihi…Aku takut ditertawakan…!!” Pirusa akhirnya ikut tertawa juga.

Rupanya Pirusa malu kalau suaranya jelek!! Makanya dia tidak pernah ikut menyanyiii… Tapi Asiri juga adalah seorang peri yang baik hati. Dia memberitahukan satu rahasia kepada Pirusa untuk bisa bersuara indah dan merdu…  Apa yaa…??

”Pirusa…. Mau tahu sebuah rahasia gak…?” Asiri berkata setengah berbisik. ”Rahasia apa Asiri..??” tanya Pirusa. ”Tahu gak, aku bisa bernyanyi karena memakai kalung tetes embun ini…Lihat..!!” Asiri menunjukan kalungnya dan menunjukkannya kepada Pirusa. ”Waaahhh…. Indah sekali kalung tetes embunmu, Asiri ! Jadi ini yang membuat suaramu indah..??” Pirusa berkata sambil terkagum – kagum. ” Iya…  kenapa…?? Kau boleh kok meminjamnya..!!” Asiri melepaskan kalungnya dan memberikannya kepada Pirusa. Adduuuhhh… Asiri itu memang baik hati yaa… Ia meminjamkan kalung tetes embun miliknya kepada Pirusa… Pasti Pirusa akan bisa bersuara indah nanti…!!

Dan, untuk bisa memiliki suara indah dan merdu, Asiri juga memberikan satu syarat lain kepada Pirusa. Apa syaratnya …? ”Pirusa, 3 minggu setelah kau memakai kalung tetes embun ini, suaramu akan indah dan merdu.. Tapi syaratnya mulai hari ini kau harus ikut menyanyi denganku… Setuju…??” Asiri berkata. ”Baiklah… Terima kasih Asiri… Kau memang peri yang baik..” Pirusa mengangguk setuju.

Sejak itu, setiap akan mewarnai kelopak bunga, Kedua peri itu, Asiri dan Pirusa selalu bernyanyi bersama… Di minggu pertama, Pirusa mengikuti saja semua nada dan lagu yang dinyanyikan Asiri, seperti ini…!! Di minggu kedua, Pirusa mulai berani untuk menyanyi lebih dulu di bagian awal… Mereka semakin lama semakin kompak dalam bertugas memberikan warna ke setiap kelopak bunga, karena Pirusa sekarang mau belajar bernyanyi bersama Asiri… Senang yaa…

Eh eh…Tapi jangan senang dulu. Pirusa semakin senang menyanyi mengikuti Asiri….

Dan dilehernyapun masih tergantung kalung tetes embun milik Asiri. Sampai suatu saat ketika sedang memberikan serbuk ajaib pewarna bunga…. Tiba-tiba kalung itu tersangkut duri tangkai mawar…..!!!

” Laa… laaa… laa…… Aduh…!!!” disaat Pirusa sedang bernyanyi – nyanyi, tiba – tiba kalungnya putus! ”Wah… Bagaimana ini…??Kalung Asiri putus… aduuuuhh…Asiri pasti marah…. Dan aku tidak akan bisa menyanyi lagi…Hiks…hiks…” Pirusa berkata dalam hati sambil menahan tangis.

Waduh, kalung tetes embun itu kan kalung ajaib, kalau kalung itu rusak, berarti keajaibannyapun bisa hilang…Tapi… Apa Asiri akan marah kalau ia tahu kalungnya rusak ?? Setelah kejadian itu, Pirusa merasa bersalah, dan ia ingin segera meminta maaf kepada asiri…Dimaafkan gak yaa..?

”Peri Asiri sahabatku, aku mau menyampaikan sesuatu kepadamu” Pirusa berkata kepada Asiri dengan hati – hati dan agak takut. ”Kenapa Pirusa…?? Lho… kok wajahmu pucat begitu…?? Kamu sakit…??” Arisi bertanya dengan ceria.

” Bukan itu Asiri…..Aku sebenarnya mau minta maaf, karena…” Pirusa berkata sambil menunduk takut, ”Hehehe…Pirusa sahabatku…. Pasti kamu mau kasih tahu aku kalau kalung tetes embun itu putus kaann..??” Asiri berkata dengan ceria. ”ii…Ii… iyy-ya, Asiri…… Aku minta maaf..” Pirusa meminta maaf sambil ketakutan.

”Dengar Pirusa, kalung itu sebenarnya bukan kalung ajaib… itu hanyalah kalung bermata tetes embun biasa yang bisa kita dapatkan kapan saja… Kan kita sering melihat embun menetes dari daun dan kelopak bunga, bukan..?? Nah , kalau kalung yang kau pakai itu rusak, kita bisa dengan mudah mendapatkan gantinya, Pirusa…” Asiri berkata dengan bijak.

”Tapi kamu bilang aku harus memakainya selama 3 minggu, supaya aku bisa menyanyi indah sepertimu, Asiri… Aku tidak akan bisa menyanyi lagi… hiks hiks…” Pirusa berkata hampir menangis. ”Hihihi… Pirusa..Pirusa.., kamu memang peri yang lucu…!!

Dengar ya, sebenarnya yang membuatmu bisa menyanyi bukan karena kalung itu..” Asiri malah tertawa – tawa. ”Jadi aku masih bisa menyanyi, Asiri ??” Pirusa bertanya.

”Betul !Kamu bisa terus menyanyi…!! Selama 3 minggu kamu sebenarnya sudah berlatih bersamaku, selama memakai kalung tetes embun itu…” Asiri tersenyum senang. ”Ya Pirusa… Kau merasa percaya diri karena memakai kalung itu kaann…? Padahal yang membuatmu bagus menyanyi bukan karena kalung , tapi karena kau sering berlatih….” Asiri melanjutkan kata – katanya.

”Sudah…!! Gak usah sedih lagi…Yuuk sekarang kita nyanyi sama-sama, sambil memberi warna setiap kelopak bunga…!!” Asiri mengajak Pirusa untuk terbang lagi.

Dongeng ini persembahan FeMale radio

Paman Gery & Bubu Mini
Tiga Putri dan Kastil Tua (Bagian 1)
TIGA%20PUTRI%20DAN%20KASTIL%20TUA.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Dahulu kala ada tiga putri dari kerajaan Mahesa. Yang tertua bernama Amrita, yang tengah bernama Anila, dan yang bungsu Avara. Mereka ditugaskan oleh Raja Mahesa untuk berkelana. Amrita, Anila, dan Avara adalah calon penerus takhta kerajaan. Jadi setelah mereka dibekali dengan banyak ilmu dan keterampilan, mereka harus berkelana mencari pengalaman hidup.

Nah, pada suatu siang yang cerah, ketiga putri ini sedang berjalan-jalan di hutan...tiba-tiba si sulung Amrita melihat sarang semut yang besaaar sekali. ”Hei adik-adik, coba lihat sarang semut ini. Wah, besar sekali yaa....aku jadi ingin tahu, ada berapa semut ya di dalamnya? Anila coba ambil ranting kecil.” Amrita berkata sambil terus mengamati sarang semut tersebut. ”Iya, aku juga penasaran. pakai ranting ini, Kak. Kita tusuk dari atas sarangnya, nanti pasti mereka keluar ramai-ramai..hahaha...” Anila berkata sambil mematahkan ranting.

”Kakak-kakak, kumohon jangan begitu. Jangan rusak atau ganggu sarang semut itu. Kasihan mereka jika harus membangun sarangnya dari awal. Lagipula semut-semut itu kan tidak melukai kita.” Avara sang bungsu berkata sambil sedikit memelas. ”Ah, kau ini Avara, tak bisa melihat kakak-kakakmu bersenang-senang ya?” Amrita berkata. ”Bukan begitu, Kakak Amrita, aku hanya...kasihan pada semut-semut itu.” Avara memohon kakaknya. ”Ah, ya sudahlah! Ayo kita lanjutkan perjalanan!” Amrita berkata sambil mengajak adik – adiknya untuk melanjutkan perjalanan.

Maka ketiga putri itu berjalan lagi..kali ini melewati danau yang airnya jernih. Di danau itu, ada satu keluarga bebek yang sedang bercengkerama lho, iiih, lucuuu sekali. ”Nah, Kak Amrita, bagaimana kalau kita nanti malam makan bebek panggang?” Anila meminta persetujuan kakaknya sambil melihat ke arah bebek – bebek itu. ”Oh, pikiranmu sama persis dengan pikiranku. Ayo kita tangkap bebek itu! Waah pasti lezat sekali!” Amrita bersorak gembira.

”Jangan, kak Amrita, kak Anila...kasihan keluarga bebek itu...biarkanlah mereka bermain dengan tenang....lagipula kita kan masih punya roti bekal dari ibu..” Avara kembali memohon kepada kakak – kakaknya. ”Ya memang masih ada, tapi kan lebih nikmat lagi jika roti itu dimakan dengan bebek panggang. Betul kan?” Anila tetap ngotot. ”Jangan! Tidak! Akan kucarikan buah-buahan yang enak untuk kalian. Tapi jangan jadikan bebek itu sebagai makan malam kita.” Avara tetap berusaha mencegah kakak – kakaknya untuk menangkap bebek itu.

”Huuu...apa sih maumu, Avara...begini tak boleh, begitu tak boleh...huuuu” Amrita dan Anila kompak bersorak. Maka ketiga putri itu kembali melanjutkan perjalanan. Saat matahari sedang terik-teriknya bersinar, Amrita, Anila dan avara berteduh di bawah sebuah pohon besar. Nah, di dahan pohon itu terdapat sarang lebah! Waaah...Amrita dan Anila langsung merencanakan sesuatu.

”Anila! Aku ingin sekali madu itu. Pasti manis sekali. Bagaimana kalau kita asapi saja sarang lebah itu supaya lebah-lebahnya keluar dan kita bisa memakan madunya!” Amrita mengajak adiknya. ”Ide bagus, Kak Amrita. Akan kukumpulkan ranting supaya kita bisa membuat api unggun kecil.” Anila mulai mencari – cari ranting kecil. ”Wahai kakak-kakakku….kasihan lebah-lebah itu...mereka sudah mencari madu denga susah-payah sepanjang hari, tak adil rasanya jika kita ambil begitu saja. Dan rumahnya juga akan hancur jika diasapi.” Avara kembali mencari cara supaya kakak – kakaknya tidak mengganggu sarang lebah itu.

”Yaaa ampuuun Avara. Mengapa kau jadi menyebalkan sekali? Kau tak ingin kami bersenang-senang ya?” Amrita mulai kesal. ”Bukan begitu kak, aku hanya mengingatkan.... Janganlah menyakiti atau mengganggu hewan-hewan” Avara berkata dengan nada memelas.

”Ah sudahlah, aku lelah mendengar ceramahmu! Eh...eh...eh Kak Amrita! Coba lihat di sebelah timur!” Anila menunjuk – nunjuk ke sebelah timur dengan semangat. ”Waaah...ada sebuah kastil yang indah! Walaupun terlihat kuno, tapi tetap berdiri megah!” Amrita ikut bersemangat. ”Ayo kita ke sana! Kita lihat kerajaan apa yang terletak dekat sekali dengan hutan. Ayo ayo!” Anila menarik – narik tangan Amrita dan Avara.

Maka ketiga putri itu menuju kastil tua yang unik itu. Ketika mereka membuka pintu gerbang.... Oh betapa kaget para putri tadi. Semua makhluk hidup yang berada dalam istana itu telah berubah menjadi batu!

”Malang sekali nasib orang-orang dan hewan-hewan ini. Pasti mereka berada dalam sebuah kutukan...apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka ya?” Avara berkata sambil kebingungan. Saat ketiga putri sedang memutar otak mencari jawabannya, terdengar suara berat dan serak dari belakang mereka, ”Kalian benar, putri-putriku...semua orang di sini terkena kutukan...dan kalian...terjebak di sini....” ternyata itu adalah suara seorang kakek tua. Amrita dan Anila pun kompak berteriak. Apa yang akan terjadi pada ketiga putri itu? Siapakah kakek tua yang tiba-tiba muncul?

Bersambung...

Dongeng ini disadur dari Grimm’s Fairy Tales persembahan Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Bu Barli Yang Pelupa
FID0112A%20-%20Bu%20Barli%20Yang%20Pelupa.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Bu Barli tinggal di Jalan Kemakmuran di Kota Senang. Kenapa disebut Kota Senang? karena memang semua penduduk di kota Senang selalu ceria. Di Kota Senang jarang ada yang bermuka cemberu atau merengut. Mereka sehari-hari selalu terlihat ceria. Mereka juga saling mengenal satu sama lain. Dan merekapun senang untuk saling membantu. Pasti asyik ya tinggal di Kota Senang.

Tapi, di Kota Senang kadang-kadang juga suka terjadi kehebohan yang lucu. Lucunya itu karena kehebohan yang selalu terjadi kalau Bu Barli sedang berjalan-jalan, dan bertemu dengan penduduk yang lainnya. Seperti pagi itu…

”Laa.. la…laa.. laa… laa.. Shubida biduu.. duu… duu…Selamat pagi Bu Titi Kue…” Bu Barli menyapa Bu Titi Kue sambil bersenandung ceria. ” Selamat pagi Bu Barli! Aduuuh, cerah sekali pagi ini! Sama cerahnya dengan kue bolu jualanku…Hihihi..” Bu Titi Kue membalas menyapa dengan ceria. ”Terima kasih…!!Lala..la.la….la..lala…Selamat pagi Pak Koko sayur…!!” Bu Barli pun tidak lupa untuk menyapa Pak Koko Sayur. ”Selamat pagi Bu Barli… hehehe…Aku Koko si penjual sayur siap melayani…!! hehehe.. Mau membeli apa pagi ini Bu Barli…??” Pak Koko Sayur kembali menyapa dan bertanya kepada Bu Barli.

”Mau membeliii…. Mmmm…. Membeli….mmmmm… Aduh !! Aku lupa mau membeli apa pak Koko !!!!” Bu Barli ternyata lupa. Itulah kehebohan yang terjadi di kota senang karena Bu Barli terkenal sebagai orang yang sangat pelupa! Bu Barli sering sekali lupa akan melakukan apa, atau harus membawa apa. Termasuk kalau mau pergi berbelanja, Bu Barli juga sering lupa harus membeli apa. Waduh repot juga ya. Kasihan juga ya Bu barli kalau begitu. Lalu bagaimana ya caranya supaya bisa membantu Bu barli?

Nah, di kota senang, semua memang saling menolong. Jadi hampir setiap hari semua penduduk kota pasti membantu Bu Barli untuk mengingat. Seperti pagi itu…

”Coba Bu Barli. Aku Bantu yaa. Apakah Bu Barli mau membeli buah?” Pak Koko Sayur bertanya kepada Bu Barli. „Mmmmm….Sepertinya bukan Pak Koko Sayur. Aduuuuhh.. apa yaa?” Bu Barli kembali kebingungan. „Mungkin Bu Barli mau membeli kue serabiku…??” Tanya Bu Titi Kue. „Bu Titi Kue, aku suka kue serabimu….

Tapi sepertinya bukan itu yang aku mau beli…” Bu Barli berkata sedih.

Barli yang pelupa sebenarnya tidak ingin kejadian seperti itu terus menerus terjadi. Dia ingin sekali suatu saat nanti bisa menemukan cara untuk tidak pelupa lagi. Tapi bagaimana caranya? Ingat kan kalau penduduk Kota senang itu semuanya senang sekali menolong sesama. Nah, itulah yang mereka lakukan, untuk bisa menolong Bu Barli. Sehingga pada suatu hari adik-adik. Para penduduk Kota senang sepakat untuk berkumpul dan membicarakan caranya. Sekaligus dipertemuan penduduk itu Bu Barli pun hadir di sana.

“Saudara-saudara penduduk kota senang. Kita berkumpul disini untuk membantu Bu Barli..” Pak Koko Sayur berkata kepada semua warga Kota Senang. “Ya siap..! Betul ! Boleh ! Ya ya mau!!.. kasihan Bu Barli…” semua warga Kota Senang Sian membantu.

”Oooohh…. Terima kasih teman-temanku semuaa. Iya aku ini pelupa sekali. Tapi siapa yang bisa memberitahuku cara yang paling gampang untuk bisa mengingat?” Bu Barli berkata dengan sedih.

Maka berembuglah semua penduduk Kota Senang bersama-sama. Masing-masing mengusulkan cara untuk bisa menolong Bu Barli. Macam-macam deh caranya Bubu Mini…Ada yang mengusulkan memakai catatan yang ditempel di lemari es…Ada yang mengusulkan Bu barli harus selalu didampingi teman untuk membantu mengingat…Ada juga yang bilang supaya Bu Barli punya buku khusus untuk daftar belanja…. Lucu yaa.

Tapi ditengah acara itu, salah satu penduduk Kota Senang ada yang duduk dipojok ruangan dan asyik sendiri. Ooo… itu si Kiki coret namanya. Kiki coret itu adalah anak kecil yang pintar sekali menggambar dan Kiki coret kalau membuat gambar bisa dalam waktu saaangat cepat. Nah, ditengah pertemuan, tidak ada yang memperhatikan kalau Kiki coret ternyata dalam waktu yang singkat bisa menggambar wajah semua penduduk kota Senang di buku gambarnya…. Dan sama persis…!! Hebat !! Hanya Bu Barli yang sempat melihat apa yang sedang Kiki coret kerjakan dengan pensil warna dan buku gambarnya. Sehingga Bu Barli mendapatkan ide.

”AAAaa…. Aku tau teman-teman…!!” tiba – tiba Bu Barli berteriak seperti baru mendapatkan suatu ide. Penduduk kota Senang kaget dan  semuanya menjadi lega. Tapi bagaimana caranya? ”Kiki, Aku ingin minta tolong kepadamu untuk membantuku tidak pelupa lagi yaa..” Bu Barli meminta tolong kepada Kiki Coret. ”Boleh Bu Barli, tapi aku bisa Bantu Bu Barli bagaimana…??” Kiki Coret bertanya. ”Maukah kamu membantuku dengan menggambarkan setiap daftar belanjaanku sebelum pergi ke pasar, jadi aku tahu apa yang harus aku beli..” Bu Barli meminta tolong. ”Horreee…. Kiki senaaaang Bu barli… Kiki suka sekali menggambar, pasti Kiki akan Bantu Bu barli” Kiki Coret bersorak kegirangan.

Sejak saat itu setiap pagi sebelum Bu Barli pergi berbelanja, Kiki Coret akan membantu dengan membuat gambar daftar belanjaannya. Bagus - bagus lho ada gambar tomat, gambar bayam, gambar telur, gambar tahu. Bu Barli jadi gampang mengingat.

Dongeng ini persembahan FeMale radio

Paman Gery & Bubu Mini
Congkaknya si Kura – Kura
CONGKAKNYA_SI_KURA-KURA.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di Hutan Meranti, hidup berbagai jenis hewan dalam damai dan tentram. Udaranya sejuk dan penghuninya ramah. Di hutan itu mengalir sebuah sungai yang airnya jernih dan dipenuhi ikan-ikan beraneka jenis dan warna. Nah, di tepi sungai itu, tinggallah Kurki si kura-kura yang congkak. Wah, kenapa congkak? Kurki selalu merasa bahwa rumahnya adalah yang terbaik, terindah, dan terkuat disbanding hewan-hewan lain. Dia sangat membanggakan rumahnya itu. Setiap pagi ia keluar dari rumahnya sekadar untuk memandanginya.

“Hmmmh…coba lihat rumahku… indah sekali tertimpa cahaya matahari pagi. Tak ada rumah secantik ini di seluruh hutan…hmm..” Kurki berkata sombong.

Saking bangganya pada rumahnya, si Kurki sering mengolok-olok hewan lain yang rumahnya tidak sebagus dirinya, “Hey kau beruang, kau memang besar dan kuat, tapi rumahmu jauh di dalam gua. Apa bagusnya? Semua terbuat dari batu yang dingin. Cis! Dan kau lebah, coba lihat rumahmu yang menyedihkan itu…bergelantung di dahan pohon dengan lemahnya. Ahahhahaha” Kurki mengejek si Beruang. “Ya ya, kami tahu rumahmu lah yang paling bagus di hutan ini. Tapi kau tak seharusnya sombong, Kurki.” si Beruang menasehati Kurki.

“Beruang betul, Kurki. Tak baik menjadi congkak, apapun alasannya. Kami tahu seleramu bagus sekali dalam menata rumah, makanya rumahmu bagus sekali, ya kan?” Lebah juga ikut menasehati Kurki. “Hah! Kau betul sekali lebah. Makanya, aku tak mau main ke rumah kalian. Rumah kalian tak ada apa-apanya jika dibandingkan rumahku ini.” Kurki berkata sombong lagi.

Sebenarnya sih, rumah si Kurki memang bagus sekali. Atapnya berwarna hijau kecoklatan bermotif kotak-kotak, halus tapi keras seperti batu. Dindingnya berwarna putih kekuningan, sedankan lantainya empuk dan rata. Tapi kan itu bukan alasan untuk menjadi sombong.

Nah, suatu hari, Peri Hutan mengadakan pesta untuk menyambut datangnya musim hujan. Seisi hutan diundang untuk merayakannya di rumah si peri hutan. Tapi di antara para tamu dan undangan, kok si Kurki tak kelihatan ya?

”Teman-teman, apakah kalian lihat Kurki si kura-kura? Aku belum melihatnya dari tadi.” Peri Hutan bertanya kepada semua teman – teman yang hadir. „Kami juga belum melihatnya, peri. Ya betul , belum kelihatan sejak tadi.” Para tamu secara kompak menjawab. „Hmm…kenapa ya dia tidak datang? Dulu dia suka sekali pesta. Jangan-jangan…Kurki sakit?” Peri Hutan berkata khawatir.

Karena iba pada kondisi yang mungkin menimpa Kurki, Peri Hutan segera menyelinap keluar dari pesta untuk menghampiri Kurki. Sesampainya di tepi sungai, Peri Hutan pun mengetuk pintui rumah Kurki. Dan betapa terkejutnya peri saat mengetahui kenyataannya!

”Hey, Kurki…kurki…apakah kau sakit?” Peri Hutan berkata sambil mengetuk – ngetuk pintunya. ”Oh halo, peri hutan? Bagaimana pestamu? Pasti tak meriah tanpaku kan?” Kurki berkata sambil masih berdiri di depan pintu. ”Aku ke sini karena ingin tahu keadaanmu. Aku kira kau tak hadir di pestaku karena kau sakit.” Peri Hutan berkata dengan nada khawatir.

” …hoaahhmm…aku tak apa-apa ko…sehat sekali…” Kurki berkata sambil menguap. ” ”Lantas kenapa kau tak datang setelah kuundang ke pestaku?” Peri Hutan bertanya. ”Oh itu…aku malas…aku tak ingin ke rumahmu…rumahmu kan jelek sekali, Cuma terbuat dari rumput-rumput dan dahan kering. Sangat jauh berbeda dibandingak rumahku yang indah ini. Jadi aku di rumah saja. Hhh..andaikan ada cara supaya aku bisa selalu di dalam rumah.” Kurki berkata sombong.

Peri Hutan merasa sangat tersinggung dengan ucapan Kurki. Maka perlahan ia mengeluarkan tongka sihirnya. ”Jadi kau ingin bisa selalu di dalam rumah kan? Mari kubantu mewujudkannya.” Peri Hutan berkata sambil mengayuhkan tongkat perinya.

”Hah? Kenapa rumahkua jadi mengecil? Kenapa…kenapa punggungku terasa sakit seperti sedang memanggul bebean yang berat?” Kurki kebingungan. ”Ku mengabulkan permintaanmu. Silakan menikmati rumahmu yang bisa dibawa ke mana-mana.” Peri Hutan berkata. ”Aku haruis begini terus? Harus membawa-bawa rumah yang berat ini? Oh peri mengapa kau tega sekali padaku?” Kurki mengiba. ”Ini hukuman bagi kau yang congkak, Kurki. Semoga kelak kau menjadi hewan yang rendah hati.” Peri Hutan berkata.

Maka Peri Hutan menghilang dan Kurki tinggal sendirian, menyesali sifatnnya yang buruk. Sejak saat itu, kura-kura selalu membawa rumahnya ke manapun dia pergi.

Dongeng ini dipersembahkan oleh Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Mimpi Kuda Poni
MIMPI_KUDA_PONI.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Kuda Poni adalah kuda yang memiliki badan yang lebih kecil dari kuda biasanya. Selain  badannya yang kecil, kuda poni juga suka bertingkah laku yang lucu lho!! Seperti kisah kita kali ini, ada seekor kuda poni yang sedang bermain-main, di daerah yang rimbun dengan pepohonan subur yang ada di sekitarnya. Kadang dia berlari-lari, kemudian berhenti lagi…berlari lagiiii… berputar, dan hup !! melompat tinggi – tinggi. Lucu deh!

Tapi sebenarnya kuda poni kita ini lagi ngapain yaa? Yuuk!! Kita dengar apa katanya, ”Cihhuuuiiiii…hahahahaaku berlari kencang…..!! Daaaannnn……Siap terbang….!!” si Kuda Poni berkata kegirangan.

Lho kok ingin terbang. Aneh ya. Rupanya kuda poni itu kepingin sekali bisa terbang. Tapi apa bisa yaa?? Ya pasti gak bisa doong. Gak ada kuda yang bisa terbang. Tapi kok dia tetep mencoba terus yaa. Wah wah wah !! Gimana kalau hewan lain melihat kelakuan kuda poni yang ingin terbang itu ya?? Coba kita tengok yuk!

“Horrreee…. Aku ingin terbang…..!!! Siaaaapp….. satu… duaa…. Tigaa !!! Hup !!    ….aduh !!!!!” si Kuda Poni terjatuh setelah mencoba untuk terbang. Wah, kuda poni itu jatuh lagi… kasihan ya..!! Eh…!! Tapi ada siapa itu…!!

”Huahahahaahahaha…..Kuda poni, kamu memang aneh…!! Iya ..!!!! mana ada kuda bisa terbang…!! Hahahahaha…. Hiiihihihi.. Kalau aku burung memang punya sayap !! jadi aku bisa terbang…!! Tapi kalau kamu…….. huahahahahaha !!” ternyata itu adalah binatang – binatang lain yang mengejek si Kuda Poni.

Rupanya teman-teman hewan yang lain pada menonton dan mentertawakannya. Tapi kuda poni malah mendapatkan akal lain untuk bisa terbang. Dia memang kuda poni yang keras kepala.

”Hhh… aku sekarang tahu !! Kawanku burung bisa terbang karena punya sayap !! Berati aku juga harus punya sayap supaya bisa terbang…!!” si Kuda Poni berkata dalam hati sambil terengah – engah karena kehabisan napas setelah terus – terusan mencoba untuk terbang.

Wah kuda poni memang pantang menyerah. Sekarang dia mencoba untuk membuat sayap, darii…… Lho…?! Ngapain dia mengumpulkan semua ranting dan daun itu? rupanya sekarang dia mencoba membuat sayap-sayapan yang terbuat dari ranting dan daun yang diikat. Hhhmmm…Coba kita lihat, bagaimana hasilnya?

”Ahhh…!! Sekarang sayapku sudah jadi… Aku akan mencobanya, dan pasti aku bisa terbang… cihuuuiii !!! Satuuuu…. Dua….” si Kuda Poni berkata kegirangan. ” Tiiiiiii…ga !!!!!!! Wiiiiiii !!!  Aduuh !!” si Kuda Poni terjatuh lagi dan disambut dengan suara tertawa hewan – hewan lain.

Kasihan kuda poni adik-adik, dia sekarang malah makin deitertawakan dan diledek hewan lainnya.. ”Hihihi… kuda poni, sayap yang kamu buat itu bukan sayap asli… Ya pasti kamu gak bisa terbang…. Lihat sayapku… ini baru sayap asli… Hanya bangsa burung yang yang bisa terbang… !! Sudahlah Poni…. Menyerah saja…” si Burung Pipit mencemooh si Kuda Poni.

”Hhh… mungkin burung pipit betul,…Aku kuda yang tidak mungkin terbang” si Kuda Poni berkata dalam hati dengan sedih.

Kuda poni yang bersedih, akhirnya pergi menjauh dari teman-teman hewan yang lainnya.. Sambil berjalan menunduk, ia melangkah gontai. Kasihan kau Poni!! Tapi tiba-tiba, Kuda Poni melihat sesuatu adik-adik. Ia melihat dari kejauhan ada sarang burung pipit yang bergoyang kena angin, dan hampir jatuh. Aduuuhhh….!! Padahal didalam sarang itu ada telurnya.

Kuda poni kemudian mengambil ancang-ancang dan berlari kencang untuk menyelamatkan sarang burung yang berisi telur itu !! Daaann… Hup !! Horreee…. !!

Wah Kuda poni hebat!! Tepat sebelum telur itu terjatuh ke tanah, kuda poni berhasil menangkapnya. Ibu Burung sangat berterima kasih kepada kuda poni karena berhasil menyelamatkan telur. Dan sebagai tanda terima kasih, bu burung ingin sekali memberikan hadiah kepada kuda poni. Adik-adik tahu gak apa yang dibisikkan Kuda poni kepada bu burung? ”Terima kasih kuda poni yang baik, aku ingin memberikan hadiah kepadamu, Apa yang kau inginkan..??”

”Eee… a..ak..aku ingin …b-b-b… bisss…sa terbang Bu burung..” si Kuda Poni berkata sambil malu – malu. Lalu Bu Burung meminta kuda poni untuk memejamkan matanya.

Dan pada saat membuka matanya, kuda poni kaget, adik-adik… Ternyata ia sedang terbang! „Wiiiiii….hahahahah….aku bisa terbang…!!!!” si Kuda Poni berteriak kesenangan.

Kuda poni ternyata berdiri diatas sebuah karpet yang diterbangkan oleh riatusan burung, „Wiiiiii… aku kuda yang bisa terbang….. hahahahaha” si Kuda Poni berteriak kesenangan.

Semua hewan-yang lain ikut kegirangan melihat kuda poni sekarang terbang tinggi bersama ratusan burung. Hari itu menjadi hari terindah dalam hidup kuda poni..

Jadi…Siapa bilang impiannya tidak bisa jadi nyata??

Dongeng ini disadur oleh FeMale Radio dari majalah Orbit

Paman Gery & Bubu Mini
Cangkir Putih Tak Berkuping
CANGKIR_PUTIH.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Adik-adik, kalau kalian pernah melihat ibu memiliki satu set cangkir minum teh di rumah, pernah gak kalian menghitung ada berapa jumlahnya semua? Biasanya itu ada 6 cangkir, lalu akan ada juga satu teko yang biasanya berisi air teh hangat yang akan disajikan. Cangkir-cangkir itu warnanya macam-macam ada merah, kuning, hijau, biru, ungu. Tapi salah satu cangkir kecil itu cangkir putih yang tak berkuping, kenapa ya kok diam saja? Sedangkan yang lain berkumpul di dalam lemari dan sepertinya sedang bersiap-siap, mau kemana ya?

“Lihat dong!! aku si cangkir merah, warnaku cerah, dan bersih!! Ya kan?” kata si cangkir merah kepada saudara – saudara cangkirnya. “Aku juga!!, si cangkir hijau yang caaaaantik, hihihi…” kata si cangkir hijau tidak mau kalah. “Aku juga..Aku juga sudah bersih.. dan cantik! Aku juga!” cangkir – cangkir lainnya pun ikutan tidak mau kalah.

Tiba – tiba Ibu Teko datang menghampiri mereka, “Sudah, sudah anak-anak. Kalian memang sudah sangat cantik, bersih dan siap untuk jadi cangkir minuman terbaik sore ini” cangkir – cangkir pun berteriak kegirangan.

Hari itu memang sedang ada persiapan acara minum teh di rumah, dan semua cangkir cantik itu sedang bersiap-siap. Tapi ditengah persiapan, ibu teko mengatakan sesuatu kepada cangkir putih yang tidak berkuping, “Putih, sepertinya tamu yang datang nanti ada lima orang dan sudah dipilih saudara-saudaramu yang lain yang akan menyediakan teh buat para tamu.”

Ternyata itu alasannya kenapa cangkir putih yang tak berkuping diaaam saja, dia merasa sedih. Cangkir putih tidak akan disediakan di meja, dan akan sendirian di dalam lemari.  Sementara saudara-saudaranya yang lain, pasti senang menjadi penyaji teh buat para tamu dan tampilll dengan cantik! Kasihan dia. Cangkir putih hanya bisa melihat dari balik kaca lemari, sementara yang lainnya bersenang-senang.

“Kupingku patah, aku pasti cangkir yang paling buruk. Beda dengan saudara-saudaraku, kuping mereka lengkap semua, dan orang-orang sepertinya lebih senang memakai cangkir yang berwarna untuk menyajikan teh.” Cangkir putih bersedih dalam hati.

Karena kebandelannya sendiri, cangkir putih suatu hari pernah tidak menuruti nasehat Ibu Teko untuk tidak main-main ke pinggir rak lemari. Jadinya karena kesenangan bermain dan berguling-guling, cangkir putih terjatuh dan kehilangan kupingnya. Dan sejak saat itu cangkir putih tidak pernah dipilih lagi untuk menyajikan minuman buat para tamu.

Tapi hari ini kok ada yang aneh di acara minum tehnya?! Cangkir – cangkir tersebut panik karena ternyata para tamu mencari cangkir yang berwarna putih. Wadah cangkir berwarna putih dianggap oleh para tamu bisa dengan jelas memperlihatkan warna teh yang pas dengan selera kekentalannya, semakin teh itu berwarna gelap, maka pasti rasanya semakin pahit, tapi kalau terlalu bening, rasa tehnya juga tidak akan terasa.

Ibu Teko kemudian menghampiri si cangkir putih tak berkuping, “Putih, inilah saatnya kamu bisa menjadi cangkir yang akan bisa membantu saudara-saudaramu yang lain, hanya kamu satu-satunya cangkir berwarna putih yang ada. Biarpun kamu tidak memiliki kuping, tapi justru kamulah yang bisa menolong. Mau kan..?” Cangkir putih pun setuju untuk menolong.

Sekarang acara jamuan minum teh itu jadi tambah meriah. Ada sesuatu yang unik lho.  Cangkir putih tak berkuping menjadi penolong bagi cangkir berwarna yang lainnya.

Iya mengaduk teh sampai sesuai kekentalan dan warnanya, sebelum menuangkan teh itu ke cangkir berwarna yang lain. Dan sejak saat itu, cangkir putih tak berkuping tidak kecil hati lagi, dia tahu dirinya berguna dan bisa menolong yang lain, walaupun ia juga memiliki kekurangan, tidak punya kuping.

Cangkir putih tak berkuping memang tidak sempurna seperti cangkir yang lainnya, tapi pada suatu saat, dia menjadi cangkir yang paling berguna dan bisa membantu saudara-saudaranya. Sama juga dengan kita, kalau melihat ada teman kita yang berbeda atau memiliki kekurangan, kita harus sadar, siapa tahu dia memiliki kelebihan lain yang tidak kita miliki. Setiap orang memang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Bertemanlah dengan semua yang baik, dan belajarlah menjadi seseorang yang berguna di bidangnya masing-masing.

Dongeng ini persembahan FeMale radio

Paman Gery & Bubu Mini
Asal Usul Bunga Sepatu
ASAL_USUL_BUNGA_SEPATU.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Dahulu kala, di kerajaan kahyangan, ada tujuh orang puteri. Nama-nama mereka diambil dari nama bunga. Mawar, Dahlia, Cempaka, Tanjung, Kenanga, Cendana dan si bungsu Melati. Putri-putri itu semua cantik jelita. Tapi yang paling cantik dan berani adalah si bungsu, Melati. Ia suka berpetualang ke Rimba Hijau, sebuah hutan yang sering dilewati manusia. Padahal ayahnya telah berulangkali memperingatkan, ”Melati anakku, aku tahu kau suka sekali pergi ke Rimba Hijau. Tapi di sana berbahaya, nak. Banyak manusia berkeliaran.” Tapi Melati selalu mengatakan, ”Tapi ayah, manusia-manusia itu tak pernah melihatku. Aku kan pandai bersembunyi di antara semak dan pepohonan. Ayah tenang saja ya.” Mendengar hal tersebut sang Ayah pun kembali melarangnya, ”Jangan, Melati...jangan pergi sendiri ke Rimba Hijau.” Melati menjawab dengan terpaksa, ”Hhhh....baiklah Ayah...”, namun dalam hati ia berkata, ” tapi berarti jika aku pergi bersama-sama, tidak apa-apa kan?”

Melati tidak nakal, ia hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Jadi, nasihat ayahnya pun tidak dipatuhinya. Melati malah mengajak semua kakaknya untuk pergi ke Rimba Hijau!

”Melati, aku takut...” ujar Mawar kakaknya, ”Iya aku juga takut. Bagaimana jika kita terlihat manusia?” ujar Dahlia yang mulai ikut khawatir. Namun Melati berhasil meyakinkan kakak – kakaknya bahwa semuanya akan baik – baik saja, ”Tidak apa-apa, kakak-kakakku...tenang saja...kita aman di sini. Yuk kita main-main di air terjun!”

Maka bermainlah para putri kahyangan itu di air terjun. Saking asyiknya bermain, mereka tidak melihat bahwa ada seorang manusia yang memperhatikan dari kejauhan. Manusia itu adalah seorang putra raja yang tersesat di hutan. Ia terkejut melihat 7 putri cantik di hutan rimba. ”Hah? Apakah mataku salah? Aku melihat 6 orang, bukan, 7 orang gadis rupawan di sekitar air terjun. Siapakah mereka? Oh, cantiknya. Ah lebih baik kudekati perlahan.” pangeran berkata dalam hati.

Akhirnya sang pangeran pun menghampiri gadis – gadis itu, ”Para putri yang cantik jelita, aku adalah Pangeran negri seberang. Siapakah kalian, dan mengapa kalian ada di sini?” Para putri yang sedang asyik bermain terkejut dengan kehadiran sang pangeran. Mereka langsung lari berhamburan ke segala arah. Melihat semua putri – putri tersebut kabur berlarian, sang pangeran pun berteriak, ”Jangan takut! Jangan pergi! Aku hanya ingin berteman. Hey tunggu! Jangan pergii!!”

Pangeran itu berusaha mengejar para putri, tapi mereka terlalu cepat. Dengan panik para putri bersiap-siap untuk terbang kembali ke khayangan. Kecuali Melati yang terseok-seok keluar dari kolam air terjun, ”Aduh, tunggu aku kak, kainku, sepatuku, aduh tunggu..”

Oh, karena Melati tadi sedang berenang, ia tak mendengar kedatangan si pangeran. Jadi ia pun terlambat menyadari bahaya! Sang pangeran akhirnya berusaha untuk menghampiri Melati, ”Ah, masih ada satu putri yang tertinggal. Mungkin aku bisa berkenalan dengannya, aku ingin tahu dari mana mereka berasal. Putri!”

Oh untunglah Melati berhasil terbang meninggalkan si Pangeran sebelum pangeran sempat menangkapnya. Tapi, karena terburu-buru, ketika ia terbang, sepatunya terlepas! ” Aduuuh sepatuku, ah tapi yang penting aku selamat. Ternyata ayah benar, hutan ini berbahaya. Seharusnya aku menurut pada ayah...huhuhu..maafkan aku ayaah...maafkan aku kakak-kakak...huhuhu” Melati terbang sambil menangis terisak – isak.

”Ah, sayang sekali aku tak berhasil menangkap bidadari terakhir itu....tapi tak apalah, paling tidak aku berhasil menangkap sepatunya yang lepas tadi...wah, sepatu ini indah sekali... seperti disulam dengan benang emas..lembuut sekali.” Sang pangeran berkata.

Saking indah dan lembutnya, sepatu itu tergelincir dari genggaman sang pangeran dan jatuh di atas rerumputan. Tiba-tiba saja, sepatu itu berubah menjadi sekuntum bunga yang indaaaah sekali. Nah, bunga indah itulah yang kemudian dinamakan bunga sepatu karena konon berasal dari sepatu Melati si putri khayangan.

[Dongeng ini disadur dari majalah Bobo persembahan FeMale Radio]

Paman Gery & Bubu Mini
Putri Warna Warni
PUTRI_WARNA_WARNI.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di sebuah hutan yang lebat, jauh dari keramaian manusia, hiduplah seorang ibu tua yang mempunyai seorang anak perempuan yang cantik rupawan. Tapi ada suatu keunikan pada anak itu. Kulit tubuh anak perempuan itu bisa berubah-ubah warnanya. Jika ia duduk di atas rumput, kulitnya berubah menjadi hijau. Jika ia makan buah sawo, kulitnya berubah menjadi coklat. Dan pada saat malam tak berbintang, kulitnya menjadi hitam kelam. Ia pun dijuluki Si Putri Warna-Warni dan sering diolok-olok.

Karena itu, ia hanya punya satu teman, yaitu si Bunglon, “Wahai, putri warna-warni yang baik hati, apa yang sedang kau pikirkan? Mengapa wajahmu muram sekali, padahal matahari bersinar cerah!”

“Oh Bunglon sahabatku, aku malu dengan keadaanku. Aku tak punya teman manusia karena semua orang menganggap aku aneh dan menggelikan. Bahkan, lebih buruk lagi, banyak yang takut padaku.” Sang putri berkata. ”Aku tak takut padamu. Kau baik hati dan selalu sayang pada semua hewan di hutan ini. Aku senang berteman denganmu, putri.” sang bunglon berusaha menghibur sang putri.

Putri Warna-Warni dan Bunglon memang berteman baik. Mereka pun bermain di hutan sampai malam datang. Bulan yang bersinar cerah membuat hutan kelihatan berkilauan. ” Waaah...bulan terlihat sangat cantik malam ini, Bunglon! Lihat! Sinarnya yang keperakan menembus sela-sela pepohonan.” sang putri berkata sambil terus menatap bulan di langit. ” Bukan hanya bulan yang tampak cantik malam ini, Putri. Dirimu sendiri terlihat berkilauan terkena cahaya bulan.” sang bunglon berkata.

”Ah, kau pasti hanya ingin menyenangkan aku kan, Bunglon.” sang putri berkata, tiba – tiba terdengar suara dedaunan terinjak, sang putri pun kaget dan berteriak, ”Hah, siapa itu? Siapa kau? Tunjukkan dirimu!” Tiba – tiba terdengar suara langkah kaki dan muncullah seorang pangeran, ” A...aku ...aku pangeran dari negri seberang...aku tertinggal rombongan saat berburu kijang tadi siang...aku tak bermaksud jahat...aku hanya..terpesona..”

”Oh jadi kau yang membuat kawanan kijang lari ketakutan tadi siang? Huh, pemburu tak tahu diri. Jangan macam-macam kau!” sang putri berkata dengan ketus. ”Maafkan aku... menurut kebiasaan, setiap pangeran harus mahir berburu...tapi putri...aku bersedia meninggalkan kebiasaan itu jika...jika kau mau ikut aku ke istana Tidak hanya cantik, kau juga pemberani dan baik hati...aku ingin menjadikanmu permaisuriku. Kalau kau setuju, aku akan menjemputmu 3 hari lagi.” sang pangeran berkata.

Putri Warna-Warni sangat terkejut mendengar permintaan sang pangeran. Segera ia berlari kembali ke rumah untuk meminta pendapat sang ibu. Putri Warna-Warni dan sang ibu akhirnya setuju untuk diajak ke istana. Putri begitu bahagia membayangkan akan hidup di istana dan serba berkecukupan. Saking senangnya, putri sampai bermimpi tentang pernikahannya. Tapi ia juga bermimpi tentang hal lain. Ia bermimpi bahwa sang Pangeran sedih setelah mengetahui bahwa kulit Putri warna-warni berubah-ubah terus. Kadang terlihat cantik, kadang terlihat jelek. Mimpi itu membuat Putri gelisah.

Putri masih mempunyai waktu 2 hari sebelum dijemput sang Pangeran. Ia menghabiskan waktu dengan berpikir dan berdoa, mohon petunjuk Yang Maha Kuasa. Ketika malam menjelang, Putri Warna-Warni kembali bermimpi. Seorang pertapa sakti muncul di mimpinya, ”Hai putri yang cantik. Mudah sekali cara menyembuhkan perubahan warna kulitmu itu. Makanlah daging bunglon temanmu itu, maka kulitmu akan normal kembali.” sang pertapa dalam mimpi tersebut berkata.

Ketika terbangun, putri langsung menceritakan mimpinya kepada si Bunglon sahabatnya. Dan ternyata, Bunglon mengalami mimpi yang sama! Dan akhirnya si Bunglon pun berkata, ” Sahabatku yang baik, mimpiku juga sama dengan mimpimu. Seorang pertapa sakti memintaku untuk bersedia memberikan tubuhku untuk kesembuhanmu. Aku bersedia membantumu, Putri, asal hidupmu bahagia bersama Pangeran.”

”Tak mungkin aku melakukan itu, Bunglon! Tak mungkin! Kau satu-satunya sahabatku, tak mungkin aku mau memakanmu!” sang putri berkata. Tapi si bunglon tetap meminta sang putri untuk memakannya, demi kesembuhan sang putri. ”Tak akan kulakukan itu, Bunglon sahabatku. Tak akan, sampai kapan pun! Biarlah aku tak jadi permaisuri, harta-benda tak penting bagiku. Biarlah aku menjadi Putri Warna-Warni seperti ini saja.” sang putri tetap pada keputusannya.

Tepat setelah Putri mengucapkan kata-kata itu, terjadi perubahan yang menakjubkan! Kulit Putri Warna-warni yang tadinya berwarna coklat karena duduk di batang pohon, tiba-tiba perlahan berubah menjadi kuning langsat. Kulitnya sangat indah dan halus. Itu karena Putri telah membuktikan bahwa ia berhati mulia. ia tak mau mengorbankan temannya demi kesenangan pribadi. Teman yang baik itu memang harus saling menyayangi ya.

[Dongeng ini disadur dari Majalah Bobo persembahan Female Radio]

Paman Gery & Bubu Mini
Raja di Penginapan Pintu Singa
RAJA%20DI%20PENGINAPAN%20PINTU%20SINGA.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Pada zaman dahulu kala, di sebuah gurun nan tandus, terdapat sebuah penginapan yang sangat terkenal ke seluruh negri. Penginapan itu diberi nama Penginapan Pintu Singa karena di depan pintu masuknya terdapat patung singa yang sangat besar. Penginapan Pintu Singa sangatlah terkenal, sehingga semua orang penting dari kerajaan dan semua saudagar kaya selalu singgah di penginapan itu.

“Pelayan, seperti biasa, pertengahan tahun seperti ini penginapan kita selalu penuh, ya” sang pemilik penginapan berkata kepada sang pelayan. “Benar, Tuan. Ini adalah bulan yang paling sibuk bagi kita. Kita harus memberikan pelayanan dan fasilitas yang terbaik untuk para tamu.” Sang pelayan menjawab.

“Kau sudah merapikan semua kamar, kan? Sudah menghangatkan makanan?” sang pemilik penginapan bertanya kepada sang pelayan. “Tentu sudah, Tuan. Semua sudah beres. Eh, sebentar tuan, sepertinya ada yang mengetuk pintu.” Sang pelayan beranjak menuju pintu untuk membukanya.

“Selamat datang di Penginapan Pintu Singa.” Sang pelayan menyambut tamu yang datang, ternyata tamu yang datang itu adalah sang Mentri, “Hai, pelayan, berikan aku kamar termahal dan terbaik di sini.” Ia berkata kepada sang pelayan. “Maaf Tuan, kamar termahal dan terbaik di sini telah disewa oleh seorang saudagar yang sekarang sedang berdagang ke kota.” Sang pelayan menjawab. “Ah, cuma oleh seorang saudagar? Aku ini seorang menteri! Usir saja orang itu dan siapkan kamar itu untukku. Kalau dia marah, suruh dia menghadapku!” sang mentri memberi perintah kepada sang pelayan. “B..b..baiklah, Tuan menteri…..silakan duduk menunggu..” ujar sang pelayan sambil berlari terburu – buru menghampiri sang pemilik.

”Bagaimana ini, Tuan? Apakah sebaiknya kita berikan saja kamar itu?” sang pelayan bertanya kepada sang pemilik, ” Ya sudah, kita bisa apa lagi? Jangan sampai Tuan Menteri marah.” sang pemilik menjawab.

Tak lama setelah Menteri menempati kamarnya, datanglah Perdana Mentri ke penginapan pintu singa, ”Hai, pemilik penginapan! Aku mau menginap satu malam. Berikan aku kamar yang termahal dan terbaik di antara semua kamarmu!” sang pemilik pun menjawab dengan ketakutan, ”Eh…maaf tuan…tapi kamar termahal dan terbaik di sini telah disewa. Bolehkah saya menawarkan kamar yang kedua terbaik di penginapan ini?”

”Hah! Aku tak sudi menginap di kamar yang kedua terbaik di sini! Memangnya siapa yang menyewa kamar itu?” sang Perdana Mentri bertanya dengan nada ketus, ”Kamar itu disewa seorang Menteri. Hamba tak berani mengusirnya.” sang pemilik menjawab.

”Seorang menteri?? Aku adalah Perdana Menteri! Berikan kamar itu untukku atau kututup penginapan ini! Dan berikan aku makanan hangat. Sekarang!” memerintahkan sang pemilik, ”Baiklah..baiklah…” lalu sang pemilik memerintahkan sang pelayan untuk menyiapkan makanan untuk Perdana Menteri yang terhormat.

Mengapa orang-orang itu terkesan sombong dan congkak ya? Padahal kan itu tidak baik. Seharusnya memang begitu, mungkin karena merasa dirinya lebih daripada yang lain, mereka jadi sombong. Tiba – tiba terdengar suara ketukan pintu.

Seorang pengawal berdiri di depan pintu masuk, ”Perhatian, perhatian, Raja akan memasuki Penginapan Pintu Singa. Semua diharap berdiri.” sang pemilik langsung berlari ke depan pintu masuk sambil berteriak kegirangan, ”Oh, beruntung sekali aku hari ini! Raja datang ke penginapanku!!”

”Wahai pemilik penginapan yang budiman, apakah masih ada kamar yang kosong untukku dan pengawalku? Sudah terlalu malam untuk kembali ke istana dan cuaca sangat buruk.” sang Raja berkata. ”Tentu, tentu masih ada raja. Akan kusiapkan kamar terbaik di sini untuk Yang Mulia.” sang pemilik menjawab.

”Ah tak perlu yang terbaik, asalkan bersih dan aku bisa istirahat dengan tenang. Oh, satu lagi, adakah sedikit makanan yang bisa kulahap sebelum tidur?” sang Raja berkata ke sang pemilik. ”Tentu ada Yang Mulia! Tapi, karena hari sudah terlalu malam, hanya ada roti dan sedikit potongan ayam. Maafkan aku…jika saja hamba tahu Yang Mulia akan berkunjung, tentu akan hamba siapkan yang terbaik…Ampun, Rajaku…aku pantas dihukum.” sang pemilik berkata dengan nada ketakutan. ”Hahaha…tidak perlu begitu…yang kau miliki juga sudah cukup untukku dan pengawalku.” sang raja menenangkan sang pemilik.

Ternyata Raja adalah orang yang sangat sederhana dan rendah hati ya. Raja itu pasti bijaksana dan adil. Ketika Raja sedang menyantap makanan seadanya, keluarlah si Perdana Menteri dari kamar terbaiknya. Betapa terkejut ia melihat Raja berada di sana. Perdana Menteri lebih heran lagi melihat Raja makan bersama pengawalnya, dan makanannya pun hanya beberapa potong roti dengan ayam. Akhirnya Perdana Menteri menyadari sifatnya yang terlalu sombong. Ia berjanji akan hidup lebih sabar dan sederhana, seperti Rajanya yang bijaksana. Sifat Raja yang terpuji itu akhirnya diikuti oleh semua pejabat kerajaan. memang seharusnya begitu. Kita tak boleh sombong dan congkak, apapun alasannya!

[Dongeng ini disadur dari Majalah Bobo persembahan Female Radio]

Paman Gery & Bubu Mini
Kisah Lima Jari
KISAH_LIMA_JARI.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Anakku, apakah kamu tahu nama masing-masing jari di tangan kalian? Hayo, coba disebutkan satu-satu: ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, jari manis, dan jari kelingking. Hebat! Kelima jari ini bentuknya berbeda-beda, dan semua punya tugas masing-masing. Eh eh, tapi ada suara apa ya itu? Sepertinya para jari sedang bertengkar. Wah wah, ada apa ya ini?

“Akulah yang paling hebat!” Ibu jari berkata dengan suara lantang. ”Aku! Akulah yang paling berguna!” Telunjuk tidak mau kalah. ”Ah kalian tak akan mengalahkanku. Aku yang terpenting.” Jari Manis juga ikut tidak mau kalah. ” Hey hey, dengarkan, akulah yang dibutuhkan manusia!” Kelingking tiba – tiba ikut membanggakan dirinya. ”Hey, hey, mengapa kalian bertengkar? Apa yang terjadi, ibu jari?” Jari Tengah berusaha menenangkan mereka.

”Huh, mereka tak mau mengakui kehebatanku! Padahal kan sudah jelas, semua orang mengacungkan untuk menandakan kehebatan.” Ibu jari berkata. ”Tapi aku lebih penting. Semua orang menggunakan telunjuk untuk menunjuk apapun. Jika aku tak ada, manusia tak akan pernah bisa menunjuk dan akan kebingungan.” Telunjuk kembali tidak mau kalah. ”Ah kalian ini bertengkar saja. Aku si jari manis lah sebenarnya yang paling indah. Aku yang paling lembut, paling penuh cinta, dan paling menawan. Buktinya, orang pasti memasangkan cincin pada diriku kan?” Jari Manis membanggakan dirinya.

”Hah, jangan sombong dulu, jari manis. Justru akulah, si kelingking, yang mempunyai tugas terbesar dan terberat di antara kalian. Akulah pembawa perdamaian. Tanpa aku, dunia akan penuh dendam dan amarah. Lihat saja, semua orang pasti saling  mengaitkan jari kelingking untuk berbaikan. Betul kaan?” Kelingking meminta persetujuan saudara – saudaranya, tapi malah disambut dengan seru – seruan tanda tidak setuju dari semuanya.

”Oh sudah-sudah, jangan bertengkar saudara-saudaraku. Kita memang mempunyai tugas yang berbeda-beda, tapi sebenernya kita sama. Tugas utama kita adalah membantu manusia dalam hidupnya.” Jari tengah kembali menjadi penengah. “Alaaah, kau tahu apa, Jari Tengah? Dirimu paling tidak berguna dan paling tidak istimewa dibandingkan kami semua!” Ibu jari berkata dengan nada ketus. “Benar itu, Ibu Jari. Si jari tengah kan memang tak punya keistimewaan. Ahahahaha, kasihan sekali jari tengah..hahahaha..” Telunjuk menyetujui Ibu jari.

”Janganlah kalian mengolok-olokku...memang aku tidak istimewa, tapi aku kan juga bagian dari kalian.” Jari tengah berkata dengan sabar, disambut dengan tawa dari saudara – saudaranya.

Wah, jari tengah sedih sekali. Ia merasa tak berguna dan tak dibutuhkan. Nah, saat ia sedang sedih itu, Ibu Buku menegurnya dari balik rak buku, ”Wahai, jari tengah yang bersedih, apa yang terjadi?”

”Saudara-saudaraku tidak menganggap aku penting...kata mereka aku tak berguna dan tidak istimewa...huhihuhuhu” Jari tengah menjawab sambil terisak. ”Jangan bersedih, jari tengah. Ingatlah bahwa segala sesuatu di dunia ini pasti ada kegunaannya. Kau juga pasti tahu itu kan?” Bunda buku bertanya kepada Jari Tengah. ”Tapi apa kegunaanku? Huhuhuhu” Jari tengah kembali tersedu – sedu.

Kasihan sekali si Jari Tengah. Ia menangis tersedu-sedu. Tapi Bunda Buku punya ide! Betul, Paman! Ide yang bagus sekali. Jadi begini, adik-adik, Bunda Buku tiba-tiba saja menjatuhkan diri dari rak tempat ia disimpan.

”Tolooong...hey, toloong akuu...aku terjatuh dari rak...tolong bantu kembalikan aku ke tempat asalku. Para jari, tolong aku ya...” Bunda Buku berteriak minta tolong. ”Biar aku yang mengankat, aku kan yang paling hebat! Arrrghhh...terlalu..berat...aku tak sanggup.” Ibu Jari berusaha untuk mengangkat tapi tak sanggup. ”Ahahah, begitu saja kau tak sanggup, ibu jari. Mari lihat aku, si telunjuk yang perkasa dan berguna! Akan kuangkat buku ini.....eeerrrghhh...eeerrrghh...aduh! berat juga ya buku ini.” Jari telunjuk pun ternyata tak sanggup.

”Wah, kalau ibu jari dan telunjuk saja tak bisa mengangkat buku itu, bagaimana dengan kita, jari kelingking?” Jari manis berkata kepada kelingking. ”Oh aku juga tak berani mengangkat buku itu sendiri, tak akan kuat!” Kelingking pun merasa tak mampu.

”Saudara-saudaraku, bagaimana jika kita angkat buku itu sama-sama? Kita berlima pasti lebih kuat daripada sendiri-sendiri. Betul kan? Ayo kita coba angkat sama-sama....satu...dua...tiiiii....ga!!!” Jari tengah berkata. Akhirnya mereka berhasil mengangkat Bunda Buku dan mengembalikannya ke rak buku.

Ibu Jari dan Telunjuk akhirnya meminta maaf kepada Jari Tengah karena sudah mengatakan ia tak berguna dan ternyata malah Jari Tengah yang justru paling bijak dan pintar.

Si jari tengah pun bahagia karena menemukan kelebihannya, yaitu sebagai penengah. Cocok sekali dengan namanya ya, jari tengah menjadi penegah. Gak ada yang suka sombong dan bertengkar dengan saudara-saudaranya kan? Jangan ya...lebih asyik kalau kita rukun dan main sama-sama.

Dongeng ini dipersembahkan oleh Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Semut yang Hemat
SEMUT_YANG_HEMAT.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di sebuah negri di tepi sungai, tersebutlah sebuah desa yang penduduknya hidup dengan aman, damai, dan sangat berkecukupan. Sebagian besar penduduk desa itu bekerja sebagai saudagar barang-barang berharga. Desa itu memang terkenal kaya raya karena di desa itu terdapat tambang intan. Tapi sayangnya, penduduk desa itu suka menghambur-hamburkan uang. Padahal menghamburkan uang itu kan tidak baik ya. Kepala desa itu pun sering khawatir melihat perilaku warganya. Ia sering berjalan-jalan ke hutan sendirian sambil berpikir, apa yang seharusnya ia lakukan terhadap warga desanya. Nah, tiba-tiba pada suatu hari, saat kepala desa sedang berjalan-jalan di hutan.

” Tidaaak, jangan injak akuuuu” teriak si semut. ”Hah? Suara siapa itu? Di sini kan tidak ada siapa-siapa..!” Kepala Desa bingung sambil melihat ke kanan dan ke kiri. ”Aku di sini! Di bawah! di tanah!” semut berusaha berteriak sambil loncat – loncat supaya terdengar oleh kepala desa. ”Di tanah? Lho…apakah kau yang bicara padaku, semut?” kepala desa akhirnya melihat semut dan berjongkok supaya suara semut lebih terdengar. ”Aku tadi melamun, tapi mengapa kau sendirian saja, semut? Bukankah kau biasanya selalu bersama saudara-saudaramu?” tanya sang kepala desa.

”Itulah, tuan…hiks…hiks…aku kehilangan saudara-saudaraku…tadi ketika kami berjalan berbaris mencari makan, aku tertarik pada bunga yang jatuh di tanah. Jadi aku main-main dulu dengan bunga itu…tapi ternyata ketika aku sadar, saudara-saudaraku sudah tak ada” semut bercerita sambil menangis tersedu – sedu. ”Hmm begitu…sudahlah semut kecil, jangan bersedih. Apakah kau mau ikut denganku? Akan kuberikan kau makanan yang cukup. Lagipula…tampaknya aku butuh teman bicara..” kepala desa akhirnya memasukkan semut kedalam kotak korek api untuk dibawa kerumahnya.

”Nah, kita sudah sampai, semut. Kau akan kutaruh di rak buku dan ini janjiku, sepotong roti. Setiap bulan akan kuberikan kau sepotong roti tapi kau jangan nakal ya.” kepala desa menaruh semut kemudian mengambil sepotong roti di dapur. ”Wah, tempat ini kering dan hangat. Asik sekali. Terima kasih untuk rotinya, ya…” semut merasa senang dan mulai melahap rotinya.

Maka Kepala Desa dan Semut berteman baik. Namun tiba-tiba terjadi musibah di desa itu. Tanggul yang menahan air sungai mendadak jebol. Air mengalir deras sekali ke desa itu. Semua orang panik! Oh, kekacauan di mana-mana. Air bah menyapu bersih rumah-rumah penduduk beserta segala harta-benda warga. Tambang intan yang menjadi mata pencaharian utama para penduduk pun longsor diterjang air itu. Untung saja seluruh penduduk selamat. Mereka semua berkumpul di rumah kepala desa yang terletak di dataran yang lebih tinggi.

“Tenang..tenanglah wargaku…kalian aman di sini.” Kepala desa berusaha untuk menenangkan warganya yang masih panik. “Bagaimana kami mau tenang? Rumah dan harta benda kami semua hanyut terbawa air bah!” seorang bapak warga desa mulai panik. “Apa yang harus kami lakukan? Kami tak punya persediaan apapun!” seorang ibu pun tidak kalah panik. ”Tenang dulu…tenangkan diri kalian…sementara itu mari kukenalkan pada sahabatku, si Semut.” Sambil berkata begitu, Kepala Desa membuka kotak korek api tempat tinggal si semut.

“Lho, mengapa masih ada separuh roti di sini? Semut, apakah kau tak suka jatah roti yang kuberikan untuk satu bulan itu?” kepala desa merasa bingung. Bukan begitu, sahabatku. Aku makan sedikit-sedikit supaya jika ternyata kau lupa untuk memberiku makan atau sedang pergi, aku masih punya persediaan. Maafkan aku, sahabat, aku tak bermaksud menyinggungmu.” Semut berkata dengan nada sedikit ketakutan.

Semua orang yang berada di rumah Kepala Desa mendengar perkataan si Semut. Dan mereka semua tertegun. Si Semut yang hanya memiliki sepotong roti saja, bisa berhemat dan berpikir untuk menyimpan persediaan untuk saat-saat sulit. Seluruh warga desa akhirnya menyadari kesalahan yang mereka lakukan selama ini, yaitu menghambur-hamburkan uang dan tidak menabung. Akhirnya, setelah air bah itu reda, warga desa bahu-membahu membangun desa mereka kembali dengan apa yang ada. Mereka tidak lagi hidup berlebih-lebihan. Memang, sekarang desa itu bukan lagi desa terkaya di seluruh negri, tapi warga desa itu bahagia, aman dan tentram.

Dongeng ini disadur dari Majalah Bobo persembahan Female Radio.

Paman Gery & Bubu Mini
Teka Teki Sang Raja
TEKA_TEKI_SANG_RAJA.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Pada suatu masa, hiduplah seorang raja, yang usianya sudah cukup tua. Raja Badu, namanya, memiliki seorang putra mahkota yang bernama Pangeran Kunda. Karena menjadi satu-satunya anak sang raja dan Permaisuri, Pangeran Kunda memiliki perangai yang kurang baik..

Karena memiliki banyak pengawal dan pembantu di kerajaan, Pangeran Kunda terkenal sebagi seorang putra mahkota yang pemalas. Selain itu, setiap haripun senangnya melakukan hal yang jail dan suka membuat orang satu istana kalang kabut…!!

Seperti hari itu, di istana terlihat ada seorang juru masak yang sedang berlari-lari terengah-engah! Tapi kenapa ya?

“Pangeraaannnnn!!! Pangeran Kundaaaa!! Kembalikan panci masak itu. Pangeraaaannn!! Aduuuhhh bagaimana ini?” Juru Masak terengah - engah sambil berlari dan berteriak. ”Hahaha ayooo kejar dulu aku! Baru kukembalikan panci masak ini. hahahaha! ayooo kejar aku…” Pangeran Kunda berlari menghindari si Juru Masak.

Ternyata Pangeran Kunda memang jail. Masa’ panci sang juru masak dipakai buat mainan kan bingung nanti memasak makanan buat sang Raja dan ratu. Karena sudah keterlaluan, sepertinya Sang Raja Badu juga mulai berfikir bagaimana caranya untuk mempersiapkan sang Pangeran menjadi penerusnya nanti. Tapi kalau kelakuannya masih seperti itu. Bisa kacau kerajaan, sehingga pada satu hari yang direncanakan, Sang raja memanggil Pangeran Kunda.. ”Anakku, Kunda, sebetulnya ayah sekarang sedang bingung…”

”Emangnya kenapa sih, ayaaaahhh, kok merengut begitu? Hehehe” Pangeran Kunda berkata sambil cengengesan. ”Kunda, ayah sebetulnya ingin suatu saat nanti engkau belajar untuk menjadi seorang yang bertangggung jawab menjadi raja di kerajaan Arsana ini, engkau adalah calon penggantiku, Kunda” Sang Raja berkata dengan nada serius.

Itulah yang sedang difikirkan sang raja Badu. Apa bisa ia memberikan kepercayaan kepada putranya yang nakal dan jail itu. Raja Badu bingung! Tapi rupanya sang Raja Badu sudah punya rencana tersendiri untuk bisa mengajarkan sang pangeran dengan cara yang bijaksana.

”Anakku, Kunda, tadi malam ayah bermimpi menemukan sebuah cermin…” Sang Raja kembali melanjutkan. ”..Di dalam mimpiku, cermin itu bisa berbicara, dan ia ingin aku menyampaikan kepadamu putraku Pangeran Kunda, kalau ia bisa menemukan apa arti sebuah cermin seperti cermin itu, maka itu artinya kamu sudah siap untuk menjadi seorang raja yang bijaksana seperti aku…”

Maka setelah diperintah oleh ayanda Raja, Pangeran Kunda berkelana keliling negri Arsana untuk mencari arti dari teka-teki itu : Arti sebuah cermin!! Dia bertanya kepada setiap orang yang ditemui.

Di pasar, di kedai minum, di rumah persinggahan, di setiap persimpangan jalan, dan malah Pangeran Kunda juga sempat bertanya kepada pengemis jalanan tentang apa arti dari sebuah cermin dalam mimpi sang ayahanda raja. Anehnya, setiap orang yang ditanya menjawab sama !

Semua menjawab: “Cermin itu dipakai untuk berhias dirimu Pangeran!” Nah, itu malah membuat sang pangeran menjadi bingung. Toh ia adalah seorang Pangeran yang memiliki banyak harta, kurang apa lagi dalam hal berhias.

”Kemana lagi aku harus bertanya? Semua penduduk bilang kepadaku untuk berhias diri!! Apa itu arti cermin dalam mimpi ayah yaa?” Pangeran Kunda bertanya dalam hati.

Sang Pangeran terus berjalan sambil berfikir keras, ingin rasanya segera menemukan jawaban teka teki cermin ini. Sampai - sampai ia tidak lagi memperhatikan jalanan yang dilaluinya, sehingga tanpa sadar ia menginjak hamparan tumbuhan lumut yang licin, dan…

Wah, Pangeran Kunda terpeleset dan terjatuh, sampai-sampai tanah lembab dan lumpur menutupi sebagian mukanya dan mukanya kotor! Setelah itu adik-adik, Pangeran Kunda berjalan menuju kesebuah danau untuk membersihkan diri, dia berjongkok. Dan menundukkan mukanya melihat ke air danau yang jernih, lalu tiba-tiba...

Pangeran Kunda terkejut melihat wajahnya sendiri yang kotor dan berlumpur! Dan sepertinya dia menemukan sesuatu…

”Yang Mulia Raja Badu!! Pangeran Kunda telah kembali ke istana!!” Hulubalang istana memberikan pengumuman.

Adik-adik, rupanya Pangeran Kunda telah menemukan arti teka-teki cermin dari mimpi sang Raja, sehingga ia ingin segera memberikan jawabannya kepada sang ayahanda. ”Ayah, aku telah menemukan arti dari cermin dalam mimpi ayah. Cermin itu membuat kita bisa melihat kepada diri kita sendiri. Sama seperti pengalamanku waktu melihat wajahku sendiri di air danau kemarin. Aku sekarang mengerti. Selama ini aku sering hanya melihat keburukan orang lain, dan aku tidak pernah bisa melihat keburukanku sendiri. Orang lainlah yang melihat dan menilainya. Tapi cermin itu telah menyadarkanku ayah.”

”Anakku, kau telah siap untuk menjadi seorang raja yang bijaksana!!” Raja Badu berkata sambil menghela nafas lega.

Begitulah air danau yang menjadi cermin bagi pangeran Kunda telah menyadarkannya untuk menjadi orang yang baik. Dan sejak saat itu Pangeran Kunda menjadi orang yang rendah hatinya, tidak jail lagi, dan juga tidak hanya melihat keburukan orang lain lagi.

Dongeng ini persembahan FeMale radio

Paman Gery & Bubu Mini
Anemon dan Ikan Badut
ANEMON_DAN_IKAN_BADUT.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Pada sebuah teluk yang tenang, di dalam laut yang hangat, hiduplah sekelompok binatang laut bermacam-macam jenisnya. Iya, ada bermacam-macam ikan, ada ubur-ubur, cumi-cumi, dan banyaak lagi. Seru sekali, mereka seperti sebuah keluarga besar yang rukun! Eh tapi kok sepertinya ada yang sedang ribut nih?

“Hey, hey, tahu tidak, sebentar lagi akan ada ikan baru di teluk ini!” Ikan Kerapu memberitahukan teman – temannya. “Hah? Ikan baru? Kau tahu dari mana?” Tanya si Ubur ubur. ”Aku kan sering bermain ke permukaan, aku sempat dengar ada manusia kecil yang mau melepas ikan peliharaannya di sini.” cerita Ikan Kerapu kepada Ubur ubur.

”Manusia kecil? Maksudmu bocah laki-laki yang tinggal di pondok tepi pantai itu?” Cumicumi bertanya pada Ikan Kerapu. ”Iya benar, dia! Manusia kecil itu dan orangtuanya akan segera pindah ke kota, jadi dia harus melepas ikan peliharaannya di sini, di teluk ini! Eh tapi jangan beritahu si anemon ya.” Ikan Kerapu berkata pada teman – temannya. ”Memangnya kenapa? Kenapa anemon tidak boleh tahu?” tanya si Cumicumi.

”Ya soalnya si anemon kan jahat…dia suka menyengat. Jangan-jangan nanti si ikan baru itu disengat. Kan kasihan.” Uburubur menjawab. Tapi langsung dibantah oleh Cumicumi, ”Anemon itu tidak jahat, tapi memang dia menyengat untuk membela diri…”

”Ah sudahlah, pokoknya jangan beritahu anemone ya!” ujar Ikan Kerapu sambil berenang menjauhi teman – temannya.

Beberapa hari kemudian, ketika para penghuni lautan sedang asyik bermain dekat permukaan, tiba-tiba ada suara tangisan..

”Hey, teman-teman…coba dengar..ada suara tangisan!” bisik Ikan Kerapu. ”Iya, aku juga mendengarnya! Di mana makhluk malang itu?” Cumicumi bertanya sambil mencari ke kanan dan ke kiri. ”Kawan-kawan, ada sesuatu jatuh ke atas tubuhku…” Anemon berkata sambil berusaha untuk melihat siapa yang jatuh diatas tubuhnya.

”Coba aku lihat sebentar… Ah benar katamu, anemone! Ada sesuatu di tubuhmu, warnanya jingga…eh, putih! Atau jingga dan putih? Ah kurang jelas, harus lebih dekat lagi melihatnya” Uburubur berusaha mendekat ke anemone.

”Awas! Jangan terlalu dekat dengan si anemone, kau kan tahu dia bisa menyengat!” Ikan Kerapu memperingati. ”Aku kan tidak bermaksud menyengat siapa-siapa, Kerapu…kau jangan begitu.” Anemone bersedih. ”Iya, janganlah begitu. Lebih baik kita coba lihat, apa yang terjatuh di atas anemone.” Sambil mengajak teman – teman lainnya mendekat.

Ketika cumi-cumi dan teman-teman lain mendekati anemone, tiba-tiba muncullah sesosok berwarna oranye dengan 2 garis putih. Siapa ya dia?

” Ehhh…kalian…siapa?” tanya si Ikan Badut. ”Harusnya kami yang bertanya padamu. Siapa namamu? Dan mengapa kau berani sekali jatuh ke atas anemone?” tanya si Ikan Kerapu.

”Namaku Ikan Badut.” Ia memperkenalkan diri. ”Apa?? Ikan apa katamu? Ikan Badut? Hahahaha, nama yang sangat aneh! Ahahahahaha” Ikan Kerapu menyelak, diikuti oleh tawa teman – teman yang lain.

”Sudah..sudah cukup teman-teman…hehehe..namamu lucu sekali ikan badut. Bentuk dan warnamu juga lucu. Tapi mengapa kau tidak tersengat anemone seperti kami?” Tanya cumicumi. ”Namaku memang begitu, mungkin karena rupaku memang lucu seperti badut. Aku tadi dilepas di teluk ini oleh anak lelaki yang tadinya memelihara aku….ia akan pindah ke kota dan tak ada tempat untukku di rumah barunya…jadi…” Ikan Badut menjawab.

”Oooh..jadi inilah teman baru kita! Selamat datang di teluk yang indah ini!” sambut ubur ubur. ”Terima kasih, ubur-ubur! Tapi..maafkan aku anemone, aku tak bermaksud jatuh ke atasmu, tapi aku tak merasa sakit ketika jatuh ke atasmu.” Ikan Badut meminta maaf.

”Benarkah aku tak menyengatmu? Kau benar-benar tidak merasa sakit? Wah, wah, wah…aku senang sekali! Selama ini tak ada yang mau main denganku karena aku menyengat siapapun yang mendekat. Tapi aku tidak bermaksud jahat. Benar!” Anemone berseru kegirangan. ”Aku mau jadi temanmu. Tapi itu juga jika kau mau.” Ikan Badut berseru. ”Tentu saja aku mau!! Ayo kita main bersama, ikan badut!” menyambut gembira.

Nah, ternyata anemone yang tak punya teman dan ikan badut yang suka diolok-olok malah bisa berteman dengan baik. Hewan-hewan laut yang lainnya pun sekarang tidak lagi menjauhi si anemone, karena mereka tahu anemone sebenarnya tidak jahat. Nah, adik-adik juga senang kan kalau punya teman? Yuk kita berteman sebanyak-banyaknya!

Dongeng ini dipersembahkan Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Dio Ingin Terbang
DIO_INGIN_TERBANG.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Dio adalah seorang anak laki-laki, usianya 7 tahun. Rambutnya hitam legam, kulitnya sawo matang. Matanya yang bulat dan besar membuatnya terlihat cerdas! Tapi Dio memang cerdas. Ia rajin belajar dan suka sekali membaca. Buku kesukaannya adalah buku dongeng. Dio ini anak yang istimewa. Walaupun ia sudah tidak memiliki orang tua dan ia tinggal di panti asuhan, Dio selalu ceria. Dio sangat disayang oleh seisi panti asuhan, termasuk oleh ibu kepala panti asuhan.

“Dio! Dio! Ayo sarapan dulu. Ini ibu buatkan telur dadar kesukaanmu.” Ibu Kepala memanggil – manggil. Dio berlari – lari menghampiri Ibu Kepala, “Kau sedang apa sih Dio? Pagi-pagi begini mengapa sudah di padang rumput?” Tanya Ibu Kepala.

“Aku..baru saja..menerbangkan..pesawat-pesawatku...eh iya bu...yuk sarapan sama-sama. Aku lapar!” sambil terengah – engah.

Dio ini punya hobi yang agak unik. Dia suka membuat pesawat terbang dari kertas-kertas yang sudah tak terpakai. Dalam sehari, Dio bisa membuat puluhan pesawat terbang! Tapi ini bukan pesawat terbang biasa! Dio menyebutnya “Pesawat Kebahagiaan”. Sebelum dibentuk menjadi pesawat, Dio menulisi kertasnya terlebih dahulu. Biasanya Dio menggambar dirinya sendiri kemudian menuliskan nama, alamat, dan sedikit tentang dirinya.

“Apa yang kau tulis hari ini di Pesawat Kebahagiaan, Dio?” tanya Ibu Kepala. “Hmm aku menuliskan begini, Bu: “halo, aku Dio, umurku 7 tahun, aku senang membaca dan bernyanyi. Aku juga selalu ingin terbang.” Begitu, ibu kepala.” Jawab Dio dengan mata berbinar – binar. “Oh, bagus sekali tulisannya. Semoga benar-benar akan membawa kebahagiaan untukmu ya.” Sambil mengusap kepala Dio.

Dio memang selalu ingin terbang. Ia sering mengamati burung-burung yang riang hinggap di depan jendela kamarnya. Ia berharap suatu hari bisa terbang seperti burung-burung itu. Tanpa Dio ketahui, salah satu pesawatnya terbang hingga ke rumah Bapak dan Ibu Angkasa.

”Bu, tadi ketika menyapu halaman aku menemukan pesawat kertas ini. Coba lihat, kelihatan kokoh sekali ya. Pasti dibuat oleh anak yang pandai.” Bapak Angkasa berkata ke Ibu Angkasa. ”Wah iya bagus sekali...eh tapi sepertinya ada tulisan di kertasnya, Pak...dan ada gambar warna-warni. Coba kita buka dulu pesawatnya.” Ibu Angkasa menyuruh Bapak Angkasa untuk membaca tulisannya.

”Kau benar, Bu, ada tulisannya....”halo aku Dio, umurku 7 tahun..aku suka membaca dan bernyanyi tapi aku paling ingin bisa terbang...”...dan gambarnya juga bagus. Lihat ini!” Bapak Angkasa menunjukkan ke Ibu Angkasa. ”Hm...pandai sekali anak ini...dan kata-katanya terasa tulus dan jujur....sepertinya dia anak yang baik ya Pak.” Ibu Angkasa berkata kagum. ”Betul sekali....aku jadi penasaran...sepertinya si Dio ini menuliskan alamatnya...nah ini dia...Panti Asuhan Delima?” Bapak Angkasa bertanya – tanya. ”Oh, anak yang malang...dia tinggal di panti asuhan? Pak, sepertinya ada sesuatu tentang anak itu. Aku ingin bertemu dengannya. Aku merasa... pesawat itu hinggap di halaman kita bukan karena kebetulan.” Ibu Angkasa berkata kepada Bapak Angkasa.

Maka pergilah Bapak dan Ibu Angkasa ke panti asuhan tempat Dio tinggal. Di sana mereka disambut oleh Ibu Kepala Panti Asuhan yang ramah. ”Selamat datang di Panti Asuhan Matahari. Ada yang bisa kami bantu?” Ibu Kepala menyambut Bapak dan Ibu Angkasa. ”Ibu kepala, apakah benar ada seorang anak bernama Dio di sini? Bolehkah kami bertemu dengannya?” Ibu Angkasa bertanya kepada Ibu Kepala.

” Iya...dia tinggal di sini...tapi ada apa? Mengapa kalian mau bertemu dengannya?” Ibu Kepala bertanya kebingungan. ”Kami menemukan pesawat kertas buatan Dio di halaman kami...bukan hanya satu, tapi ada 7 buah! Setiap hari, hadir satu buah pesawat di halaman kami.” Bapak Angkasa menceritakan kepada Ibu Kepala. ”Betul Ibu Kepala...ini tak mungkin kebetulan. Karena itu kami ingin bertemu Dio. Bolehkah?” Ibu Angkasa meminta kepada Ibu Kepala.

Ibu Kepala terheran-heran, tapi sambil tersenyum ia menganggukkan kepala, lalu memanggil Dio untuk datang ke ruangannya. Ketika Dio datang, wajah Bapak dan Ibu Angkasa langsung berbinar ceria!

”Dio, ini adalah Bapak dan Ibu Angkasa...ternyata beberapa buah Pesawat Kebahagiaan-mu sampai ke rumah Bapak dan Ibu ini....mereka ingin tahu siapa yang membuatnya.” Ibu Kepala memperkenalkan Dio. ”Waduh..maafkan aku, Pak, Bu....aku mengotori halaman kalian ya? Maaf, aku tak bermaksud begitu. Biar nanti kubersihkan ya. Maaf ...” Dio ketakutan sambil meminta maaf.

”Oh bukan itu, Dio....kami...senang sekali pesawatmu hinggap di halaman kami...Ibu dan Bapak ingin berteman dengan Dio, boleh?” tanya Ibu Angkasa. ”Berteman? Wah, tentu boleh! Jadi kalian tidak marah padaku?” Dio kembali bertanya. ”Tidak Dio, tidak ada yang marah padamu. Dio, pesawat-pesawatmu itu bagus sekali. Apa maksudmu membuat pesawat kertas banyak-banyak?” Bapak Angkasa bertanya penasaran. ”Hm...aku selalu ingin terbang...seperti burung...hmm...supaya aku dapat mencari orang tua untukku sendiri....hehehe..” Dio akhirnya menceritakan maksudnya membuat pesawat – pesawat tersebut.

Bapak dan Ibu Angkasa tertegun. Mereka tersentuh sekali dengan Dio yang polos dan jujur. Ibu Angkasa sampai-sampai meneteskan air mata. “Dio...kalau...kalau Dio mau...Dio tak perlu terbang mencari orang tua..Bapak dan Ibu ingin menjadi orang tua Dio...Apakah Dio mau?” Ibu Angkasa bertanya sambil menahan tangis.

Oh oh oh, betapa terkejutnya Dio! Awalnya ia tak percaya, tapi kemudian ia menganggukkan kepala dengan sangat gembira. Ia mau menjadi anak Bapak dan Ibu Angkasa. Waaah....bahagia sekali mereka. Ternyata Bapak Angkasa itu adalah seorang pilot pesawat terbang! Jadi, setelah Dio menjadi anak Bapak dan Ibu Angkasa, Dio benar-benar bisa terbang karena Bapak Angkasa kadang mengajak Dio naik pesawat terbangnya!

Paman Gery & Bubu Mini
Si Bungsu dan Lobak Raksasa
SI_BUNGSU_DAN_LOBAK_RAKSASA.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Pada jaman dahulu kala, di sebuah negeri yang subur dan makmur, hidup dua orang kakak beradik yang sifatnya sungguh berbeda satu sama lainnya. Si Sulung adalah seorang pedagang yang kaya raya, tapi ya ampun... sungguh kikir dan sombong. Sedangkan si Bungsu adalah petani lobak yang hidup sederhana, tapi amat baik dan tulus. Nah, suatu hari, Raja yang memimpin negeri itu berulang tahun. Semua orang sibuk mempersiapkan pesta dan hadiah ulang tahun untuk sang raja. Termasuk si Sulung dan si Bungsu.

”Hey, Bungsu. Kau sudah dengar bahwa raja akan berulang tahun pekan depan?” si Sulung menyapa si Bungsu. ”Ya, aku sudah dengar, tapi aku bingung..” si Bungsu kebingungan sambil garuk – garuk kepala.

“Kenapa kau bingung?” tanya si Sulung. “Aku ingin datang ke pesta raja, tapi aku tak tahu harus membawa hadiah apa....” jawab si Bungsu. “Hahahaha...itulah susahnya jadi petani lobak...memberi hadiah untuk raja pun kau tak mampu...hahahahahahha... mengapa...mengapa tak kau berikan saja hasil panen lobakmu? Raja pasti akan suka! Ahahahahah” ledek si Sulung sambil terus tertawa – tawa.

Si Sulung selalu saja mengejek adiknya, si petani lobak. Padahal kan tidak ada salahnya menjadi seorang petani. Tapi, walaupun diejek dan ditertawakan begitu, si Bungsu tidak merasa sakit hati atau putus asa. Dia terus berpikir tentang kado apa yang pantas untuk sang raja. Kebetulan sekali, sehari sebelum ulang tahun raja adalah waktunya untuk panen lobak. Namun, ada kejutan besar yang menanti si Bungsu.

“Ya ampun...lobak ini berat sekali...aduh...aku hampir tak kuat mencabutnya....aarrrggghh...” si Bungsu berusaha keras untuk mencabut lobak dari tanah. “Hah? Besar sekali lobak ini! Wah..hampir 10 kali lipat ukuran lobak biasa! Wah...apa yang harus kulakukan dengna lobak sebesar ini ya.....Aha! Aku tahu! Aku akan menghadiahkannya pada raja, seperti usul si sulung kakakku!” si Bungsu kegirangan.

Maka si Bungsu datang ke istana membawa lobak raksasa. Dia sampai harus menyewa kereta kuda untuk membawa itu, saking besarnya. Ketika sampai di istana, semua orang tercengang melihat ukuran lobak itu. Tak ada satu orang pun yang bersuara.

“Raja yang bijaksana, ada seorang petani datang membawakan hadiah untuk ulang tahun Yang Mulia.” pengawal Raja memberitahu sang Raja. “Seorang petani? Ah, bolehlah, cepat suruh dia masuk.” Memerintahkan sang pengawal.

“Petani, kau boleh masuk.” Sang pengawal menyuruh si Bungsu untuk masuk ke ruangan Raja. “Ampuni hamba raja, ini hamba bawakan lobak raksasa dari kebun hamba sendiri untuk ulang tahun Yang Mulia.” sambil menunduk hormat ke sang Raja. “Hahahaha...baru pertama kali aku melihat lobak sebesar ini! Kau pasti petani yang sangat rajin dan tekun! Aku terima hadiah ini, aku senang sekali punya lobak raksasa.
Paman Gery & Bubu Mini
Kisah si Otak Buntu dan Peri Hutan
SI_OTAK_BUNTU_DAN_PERI_HUTAN.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Pada suatu masa di negri yang jauh, hiduplah seorang lelaki dengan dua orang anak laki-lakinya. Anak yang sulung sangat pandai dan cerdas, tapi perilakunya buruk. Namanya Catra. Sedangkan adiknya...hmm..tidak terlalu pandai, tapi baik hati dan pemurah. Namanya Urdha. Ayah Catra dan Urdha sering membeda-bedakan mereka berdua. Ayah lebih sayang pada Catra karena dia pandai... Dan sebaliknya, ayah sering tidak mempedulikan Urdha karena ia tidak sepintar kakaknya.

”Catra anakku tersayang, ini ayah siapkan bekal untukmu ke hutan. Kau mau mencari kayu bakar, bukan? Nah, supaya tidak kelaparan, ayah bungkuskan nasi hangat dan semur ayam.” sang Ayah berkata sambil memberikan nasi bungkusnya. ”Terima kasih, Ayah. Sebenarnya aku tak terlalu suka semur, aku lebih suka ayam panggang. Tapi tak apa lah, kubawa saja semua ini.” Catra berkata sambil berlalu pergi.

”Ayah, aku juga akan ke hutan mencari kayu. Apakah ada sedikit makanan untukku juga?” Urdha bertanya pada sang ayah. ”Ah, semua makanan tadi ayah buatkan khusus untuk Catra. Hmm...mungkin di lemari masih ada sedikit roti kemarin. Kau ambil saja lah, daripada membusuk di lemari itu.” sang ayah berkata sambil menunjuk ke arah lemari. ”Di lemari yang mana, Ayah?” Urdha bertanya kebingungan. ”Ya sudah tentu di lemari makanan. Tak mungkin ada roti di lemari baju, kan? Hah, dasar, sekali otak buntu, akan selalu jadi otak buntu.” sang ayah berkata tidak sabaran. ”Ahahahahaha...otak buntu...nama yang cocok sekali untukmu” sang ayah dan Catra mentertawakan Urdha.

Ayah dan Catra kok begitu ya? Tega sekali pada Urdha. Apa yang ayah dan Catra lakukan itu bukan perbuatan terpuji. Kita tak boleh menertawakan dan mengolok-olok orang lain.

“Lho ayah, roti ini sudah sangat kering dan dingin. Apakah tidak ada roti baru atau nasi?” Urdha kembali bertanya pada ayahnya. “Ah, sudahlah! Masih untung kau kuberikan roti itu. Tadinya roti itu mau kuberikan ayam saja. Sana, pergi ke hutan, cari kayu sebanyak-banyaknya. Awas, jangan malas ya!” ancam sang ayah.

Maka Catra dan Urdha pun pergi ke hutan bersama-sama. Tapi Catra tak pernah mau berjalan bersisian dengan Urdha, “Urdha, kau harus berjalan di belakangku paling tidak 5 langkah. Jangan berjalan di sampingku, apalagi di depanku.” Catra berkata sambil berusaha berjalan menghindari Urdha. “Mengapa begitu, kakakku Catra?” Urdha bertanya kebingungan. “Ya karena kau bodoh. Aku tak mau terlihat berjalan bersama orang bodoh.” Catra berkata sambil mendorong Urdha supaya berjalan di belakangnya.

Urdha sedih sekali, tapi ia turuti saja kata-kata kakaknya. Mereka pun sampai ke hutan dan mulai bekerja memotong-motong kayu. Nah ketika hari mulai siang, “Hey, otak buntu! Kau teruskan pekerjaanku ya, aku istirahat dulu di bawah pohon meranti itu. Awas kalau tak kau selesaikan semua!” Catra berkata sambil mencari posisi istirahat dibawah pohon meranti.

Saat Urdha terus bekerja, Catra asik memakan bekalnya yang lezat. Tiba-tiba...muncul seorang kakek bertubuh kecil menghampiri Catra, ”Anak muda, bolehkah aku meminta sedikit saja makan siangmu. Secuil saja, untuk perutku yang tua ini.” sang peri hutan memohon kepada Catra, tapi ternyata Catra malah berkata, ”Huh! Enak saja. Cari sendiri makananmu. Dasar pemalas.”

Kakek itu pun pergi meninggalkan Catra. Ia kemudian berjalan menghampiri Urdha yang masih juga memotong kayu, ”Anak muda, apakah kau punya sedikit makanan? Bolehkah aku meminta secuil saja? Aku lapar sekali, anak muda.” sang peri hutan kali ini bertanya pada Catra.

”Oh kakek yang malang, kasihan sekali dirimu. Ini aku punya sepotong roti, tapi sudah agak keras dan dingin. Maaf hanya ini yang kupunya. Tapi kau boleh ambil semuanya. Ini untukmu.” Urdha berkata sambil memberikan potongan rotinya. ”Terima kasih...oh terima kasih banyak. Siapa namamu?” sang peri hutan bertanya pada Urdha. ”Namaku Urdha, tapi orang-orang memanggilku si otak buntu...karena aku tidak pandai.” Urdha menjawab sambil menundukan wajahnya.

”Ada banyak hal yang lebih penting daripada sekadar kepandaian, Urdha.” sang peri hutan berusaha untuk menghibur Urdha. Kakek tua itu tersenyum dan tiba-tiba saja...angin bertiup semilir dan si kakek pun menghilang. Yang tertinggal, hanya suaranya, ” Urdha, aku sebenarnya adalah peri hutan. Terima kasih kau terlah memberikan satu-satunya makanan yang kau punya. Sebagai gantinya, lihatlah ke dalam kantung makananmu. Kau patut mendapatkannya, Urdha.”

Betapa kagetnya ketika Urdha membuka kantung makannya, “Hah? Apa ini? Emas? Permata? Bagaimana mungkin?”, lalu kembali terdengar suara sang peri hutan, “Semua mungkin jika kau mau berusaha. Jangan biarkan siapapun memanggilmu Otak Buntu lagi, Urdha. Belajarlah dengan rajin, niscaya kau akan pandai.”

Maka Urdha pulang ke rumah dengan gembira. Segera ia jual beberapa perhiasan itu untuk membeli banyak sekali buku dan untuk bersekolah supaya tak ada lagi yang akan memanggilnya Si Otak Buntu.

Dongeng ini disadur dari 366 Dongeng Sedunia persembahan Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Cangkul Emas Petani
CANGKUL_EMAS_PETANI.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di sebuah desa yang terpencil, tersebutlah seorang petani tua bernama, Kalinda. Kalinda hidup sangat sederhana. Sehari-hari ia hanya mengandalkan kemampuannya mencangkul untuk membantu menggarap sawah orang lain. Keadaan Kalinda sebenarnya serba kekurangan, tapi ia tak pernah mengeluh. Ia bekerja dengan riang gembira. Satu-satunya harta Kalinda yang paling berharga adalah cangkulnya. Karena dengan cangkulnya lah Kalinda dapat mencari makan untuk sehari-hari.

”Wah...hari ini aku menggemburkan tanah dan menanam cukup banyak padi. Semoga imbalannya cukup untuk aku makan sampai esok....Hhh...melelahkan juga...mungkin ada baiknya aku beristirahat di dekat kali sebentar.” Kalinda berkata dalam hati. ”Aah...nyaman sekali di sini...rimbun dan sejuk...cocok sekali untuk beristirahat setelah seharian di sawah...” Kalinda berkata sambil bersantai di pinggir kali.

Kalinda pun tertidur. Namun tidak lama kemudian ia terbangun karena mendengar suara gemerisik dedaunan. Karena terlalu kaget, Kalinda tidak sengaja menggulingkan cangkulnya! Oh, cangkul menggelinding di pinggir kali yang landai itu dan....cangkulnya tercemplung ke dalam kali!

”Ya ampun, aku tak sengaja menendang cangkulku sendiri! Aduuh, bagaimana ini, cangkulku tenggelam dan aku tak bisa berenang! Apa yang harus kulakukan?” Kalinda kebingungan sekali. Ketika Kalinda sedang kebingungan, tiba-tiba muncul lah seorang anak muda yang tampan dan gagah perkasa, ”Hai, pak petani yang baik. Mengapa wajahmu murung begitu?”

”Ah, tidak anak muda...hanya saja...cangkulku tenggelam di kali...dan aku sudah terlalu tua untuk menyelam...padahal itu satu-satunya cangkulku.” Kalinda berkata pada sang pemuda. ”Oh, begitu. Bagaimana kalau aku coba mengambilkannya untukmu?” sang pemuda mencoba menawarkan. ”Apakah benar kau mau melakukan itu untukku, anak muda? Wah, aku sangat berterima kasih, sangat-sangat berterima kasih!” Kalinda berkata dengan gembira.

Maka pemuda itu langsung saja menceburkan diri ke dalam kali. Tak lama kemudian, pemuda itu muncul di permukaan dengan mengacungkan sebuah cangkul emas, ”Apakah ini cangkulmu, Pak Petani?” teriak sang pemuda. ”Bukan...itu bukan milikku. Tak mungkin aku memiliki cangkul dari emas. Kembalikan saja ke dasar kali.” Kalinda berteriak kebingungan.

Pemdua itu pun kembali menyelam mencari cangkul si petani. Tak berapa lama ia muncul kembali dengan membawa sebuah cangkul perak, “Ah, ini pasti cangkulmu! Betul kan, Pak?” sang pemuda kembali berteriak dari kali. “Maafkan aku anak muda, tapi cangkul perak itu bukan milikku. Cangkulku itu sudah tua dan berkarat.” Kalinda menjawab. “Baiklah, akan kucari lagi.” Sang pemuda berkata sambil menyelam kembali ke dalam kali.

Setelah beberapa waktu, pemuda itu muncul lagi membawa cangkul yang sudah tua dan berkarat. “Nah! Ini baru cangkulku! Terima kasih banyak, anak muda. Maaf aku tak bisa memberikanmu imbalan kecuali ucapan terima kasih yang tak terhingga.” Kalinda berkata pada sang pemuda.

“Kalinda, dengarkan aku....aku sebenarnya adalah dewa sungai. Kau telah melewati uji kejujuran. Aku bangga padamu Kalinda, walaupun kau hidup serba kekurangan, kau tetap jujur dan tidak mau mengakui hak yang bukan milikmu.” Tiba – tiba saja sang pemuda berkata. Kalinda pun kaget tak menyangka sama sekali. “Kau adalah petani yang baik hati. Sebagai hadiah atas kebaikan dan kejujuranmu, ambillah cangkul emas dan cangkul perak ini. Gunakan untuk hal-hal yang baik. Sampai jumpa lagi, Kalinda.” Sang pemuda berkata sambil memberikan kedua cangkul tersebut kepada Kalinda.

Kalinda terpana melihat Dewa Sungai tiba-tiba menghilang. Di hadapannya kini telah tersedia satu cangkul emas dan satu cangkul perak. Maka Kalinda pulang ke rumahnya membawa dua cangkul ajaib itu. Yang perak segera dijualnya untuk membeli sawah sendiri, sedangkan yang emas ia gunakan untuk mencangkul. Konon, hasil sawahnya selalu bagus dan memuaskan, jadi Kalinda tidak perlu lagi hidup kekurangan.

Dongeng ini dipersembahkan oleh FeMale Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Siapa yang paling hebat?
SIAPA_YANG_PALING_HEBAT.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di dunia hewan, setiap tahun diadakan sebuah penghargaan kepada hewan yang paling hebat. Penghargaan ini diadakan di sebuah padang rumput luas yang indah sekali. Ya, pagi ini semua hewan sudah berkumpul di lapangan rumput itu. Mereka semua bergembira sekaligus penasaran, siapa yang akan dinobatkan sebagai yang terhebat tahuni ini.

”Aku yakin, pasti aku yang menang. Aku kan paling tampan, pandai berkebun, dan paling tinggi lompatannya!” si kelinci berkata sambil lompat – lompat. ”Ah, kurasa kali ini penghargaan itu jatuh padaku. Aku kan yang membantu seluruh penghuni hutan saat mereka mau bepergian dengan cepat?” si kuda berkata tidak mau kalah dari kelinci.  ”Yah..mungkin seperti tahun-tahun yang lalu..aku tak akan menjadi pemenang...karena tak ada yang menonjol dari diriku, kecuali ya rumahku ini ..hihihihi...” siput pesimis namun tetap tertawa kecil.

Saat para hewan sedang menebak-nebak siapa yang akan menerima penghargaan paling hebat, tiba-tiba tim juri penilai tiba di padang rumput. Wah seru sekali tim jurinya, ada ayam hutan, burung pipit, bajing, dan keledai si ketua tim juri.

”Saudara-saudaraku, kami dari tim juri telah memutuskan sesuatu....” keledai si ketua tim juri berkata. Seketika itu juga, padang rumput yang sejak tadi riuh-rendah, tiba-tiba menjadi hening. Betul, adik-adik. Para hewan tak sabar menunggu acara penghargaan itu. Sang keledai pun melanjutkan, ” Ehm-ehm...berdasarkan pertimbangan kami akan kekuatan dan daya tahan....kami memutuskan penerima penghargaan tahun ini adalah....Siput!” Ups, tak terdengar satu pun tepuk tangan dari penonton. Mereka semua tercengang mendengar keputusan itu, ”Hah? Siput? Bagaimana mungkin? Ah para juri pasti bercanda. Tak mungkin...siput kan lambat sekali....”

”Mohon hadirin semua tenang dulu. Sebelum kami memilih, kami mempertimbangkan banyak kehebatan siput. Memang ia butuh waktu enam bulan untuk melintasi padang rumput, tapi akhirnya dia sampai juga. Keteguhan hatinya yang kami hargai.” keledai berusaha menenangkan para penonton. ”Huh, ini tidak adil. Siput begitu lemah, kau bisa saja menendangnya dan dia akan langsung terguling tanpa bisa melawan.” kelinci tidak terima dengan keputusan itu. ”Hey, jangan merendahkan aku seperti itu, Kelinci. Aku tak selemah itu! Buktinya aku kuat mengangkat rumahku dan membawanya ke manapun aku pergi!” siput berusaha membela diri. ”Lantas, kenapa bukan aku? Aku kan mampu berlari kencang dan membawa beban yang besar di belakangku. Bahkan aku bisa menarik kereta berisi manusia!” kuda juga tidak mau kalah.

”Sudah, sudah, jangan ribut. Tahukah kalian, bahwa sebenarnya yang harus mendapatkan penghargaan adalah matahari. Karena matahari selalu bersinar pada siapapun, baik itu yang jalannya lambat atau cepat, yang tampan maupun yang buruk rupa. Coba, apakah ada yang bisa menandingi matahari?” keledai bertanya kepada penonton yang hadir.

Para hewan pun terdiam mendengar perkataan Keledai si ketua tim juri. Mereka berpikir, benar juga ya, matahari adalah yang paling berjasa bagi mereka. Matahari tidak pilih kasih, adik-adik. Dan selalu mau membantu siapapun yang sedang membutuhkan. Para hewan pun menyadari kesombongan mereka masing-masing.

” Maafkan aku, teman-teman, aku tak bermaksud untuk sombong..” siput berkata, ”Ya...aku juga...aku memang bisa melompat tinggi tapi...aku tak bisa berlari” kelinci ikut meminta maaf. ”Ya, aku juga minta maaf...aku bahkan tak bisa melompat seperti kelinci atau punya keteguhan hati seperti siput..” kuda pun ikut minta maaf. ”Nah, begitu kan lebih baik. Kita bangsa hewan harus hidup rukun, cukuplah manusia saja yang sering berkelahi dan ribut. Kita jangan ikut-ikutan.” keledai berkata.

”Pak Keledai, tapi jadinya siapa yang mendapatkan penghargaan tahun ini?” tanya siput penasaran. ”Hmm...bagaimana jika kita berikan penghargaan pada alam ini. Pada matahari, hutan, sungai dan seisi alam. Karena pada alam lah kita semua bergantung.” keledai berkata bijak dan disambut dengan teriakan setuju dari para binatang yang lain.

Akhirnya, para penghuni hutan bergembira lagi! Tapi, bagaimana ya cara mereka memberikan penghargaan pada alam? Dengan menjaga keseimbangannya dan merawat alam dengan baik, tentunya. Nah, adik-adik juga mau ikut menjaga alam kan? Yuk kita lakukan bersama.

Dongeng ini persembahan Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Rubi dan Robi Rubah
RUBI_DAN_ROBI_RUBAH.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Rubi dan Robi Rubah adalah dua orang sahabat yang sangat berbeda sifatnya. Rubi adalah rubah yang cerdas tapi agak nakal. Sedangkan Robi kurang pandai dan penakut. Nah, suatu hari, Rubi dan Robi sedang berjalan-jalan di padang rumput. Mereka melihat kumpulan domba yang sedang merumput.

“Robi! Coba lihat itu! Puluhan domba sedang merumput di padang! Mereka kelihatan lucu dan empuk sekali ya” Rubi berkata sambil menunjuk arah rerumputan. ”Kau mau menangkap mereka ya, Rubi? Wah, jangan lah….aku takut dengan petani itu.

” Robi berkata sedikit ketakutan.

”Aaaah, bagaimana sih kau Robi? Mana mungkin aku mau menyerang puluhan domba seperti itu? Lagipula, coba kau lihat di ujung sana, ada pak gembala!” Rubi kembali berkata. ”Oh iya ya, Rubi, hihihihi, maaf yaa…” Robi meminta maaf sambil tertawa – tawa kecil.

”Hmmm…matahari sudah tinggi…waktunya Pak Gembala makan siang…eh? Apa yang dia lakukan? Mengapa dia merogoh-rogoh lubang di batang pohon apel?” Rubi kebingungan, ”Emm…mungkin dia mencari dombanya yang hilang?” Robi berkata sambil ikut – ikutan melihat ke padang rerumputan. ”Haduh, Robiiii! Mana mungkin dombanya masuk ke dalam lubang di batang pohon??” Rubi berkata gemas. ”Kita lihat mau apa Pak Gembala….oh, ternyata dia mengambil bungkusan dari dalam batang pohon….wah, tampaknya bungkusan makan siang!” Rubi kembali berkata.

”Wah, hebat ya Pak Gembala, bisa membuat bungkusan makan siang keluar dari batang pohon…” Robi berkata kagum. ”Bukan begitu, Robi! Dia pasti menyimpan makan siangnya di lubang itu pagi-pagi sekali ketika sampai ke padang rumput… kemudian di siang hari ia ambil lagi untuk makan. Hahahaha, aku jadi punya ide!” Rubi tiba – tiba menjadi sangat bersemangat. ”Nah, temui aku esok di sini, sebelum matahari menjadi tinggi. Kita akan pesta!” Rubi menyuruh Robi untuk pulang dan besok berjumpa lagi.

Walaupun Robi masih agak bingung, ia turuti saja kata-kata Rubi sahabatnya. Tapi, keesokan harinya, hanya Rubi yang muncul di padang rumput. Wah, Robi pasti lupa nih, atau jangan-jangan dia salah mengerti ya adik-adik. Akhirnya, Rubi melaksanakan rencananya sendirian. Eh tapi adik-adik tahu nggak, apa sih rencana Rubi sebenarnya?

„Ah, biarkanlah Robi tak datang. Aku saja yang pesta…hahaha….aku akan menyelinap ke lubang pohon itu dan memakan semua jatah makan siang si gembala. Ahahahaha!” Rubi berkata dalam hati.

Maka Rubi Rubah berusaha masuk ke lubang di batang pohon itu! Waduh, padahal kan sempit sekali lubangnya! ”Errrgh…aduuuh…sedikit lagiiiii…AW! aduuuh, sakiiiitt….tapi tak apa lah, yang penting aku berhasil masuk lubang di batang pohon apel ini…waaaaaaah, banyak sekali makanan di sini!!!” akhirnya Rubi berhasil masuk ke dalam lubang batang pohon itu.

Rubi pun senang sekali hatinya karena ternyata Pak Gembala membawa banyak sekali bekal! Dan semua kelihatan enak-enak! Langsung saja Rubi melahap makanan itu dengan cepat! ”Waaaah…enak sekali…enak sekali…wah wah wah…aku makan enak hari ini…hahahahaha….uhuk-uhuk” karena saking bersemangatnya Rubi sampai keselek.

Rubi nakal sekali ya…itu kan sama saja dengan mencuri. Betul, adik-adik. Jangan ditiru ya perbuatan Rubi. Eh tapi tiba-tiba Rubi tampak panik! ”Celaka! Matahari sudah tinggi! Sebentar lagi pak Gembala pasti datang ke sini mengambil bekalnya. Aku harus segera kabur dari sini. Uuugh…uuuggghhh…uuuugggghhh! Aduh, bagaimana ini? Kenapa aku tak bisa keluar? Uuuggghhh” Rubi berusaha keluar dari lubang itu.

Wah, adik-adik, sepertinya si Rubi tak bisa keluar dari lubang di dahan pohon karena perutnya kini telah buncit setelah makan bekal Pak Gembala! Lubang yang sempit itu kini tak mungkin ia lalui, walaupun Rubi mencoba sekuat tenaga.

Ketika Rubi masih berusaha keluar dari dahan pohon, muncul Robi yang memandang sahabatnya dengan heran. ”Apa yang kau lakukan Rubi? Mengapa kau di dalam batang pohon?” Robi bertanya ke Rubi. ”Ah Robi! Bantu aku! Aku tak bisa keluar karena perutku buncit. Tadi aku menghabiskan bekal Pak Gembala.” Rubi meminta tolong kepada sahabatnya itu. ”Hm…berarti kau harus menunggu sampai perutmu itu kempis lagi. Tapi tenang saja, akan kutemani kau di sini, Rubi.” Robi berkata.

Rubi sampai tak bisa berkata-kata mendengar jawaban Robi. Tapi ia akhirnya menyadari kesalahannya. Ketika Pak Gembala datang, Rubi dengan jujur mengakui perbuatannya dan meminta maaf. Pak Gembala yang baik memaafkannya dan malah membantunya keluar dari lubang di pohon itu. Sejak saat itu, Rubi tak pernah nakal atau mencuri lagi.

Dongeng ini disadur dari Fabel Aesop persembahan Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Pulau Tikus
PULAU_TIKUS.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Di sebuah desa nelayan yang sederhana, hiduplah seorang nelayan miskin yang baik hati. Ia ingin sekali bisa merantau ke kota, untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Setiap hari, nelayan itu menabung sedikit demi sedikit agar uangnya cukup untuk membeli tiket kapal untuk berlayar ke kota. Ketika akhirnya uang itu terkumpul, nelayan itu langsung bersiap untuk berlayar ke kota. Namun, dalam perjalanannya ke dermaga, ia bertemu seorang ibu tua di tepi jalan.

”Nak..apakah kau mau membeli 3 kucingku? Lihat, mereka manis-manis, kan?” Ibu tua itu menawarkan ke sang Nelayan. ”Eh..maaf bu, tapi aku tak ingin membeli kucing. Maaf ya bu…” sang Nelayan meminta maaf.  ”Oh anak muda yang baik, tolonglah aku. Sudah berhari-hari aku tidak makan. Hanya kucing-kucing inilah hartaku…” si Ibu tua menangis tersedu – sedu.

Nelayan itu merasa tidak enak, ia kasihan pada ibu tua yang tampak lemah itu. ”Kasihan sekali ibu ini…dia pasti lapar sekali…hmm…tapi uangku hanya  cukup untuk naik kapal dan makan beberapa hari…ah biarlah, aku lebih kuat menahan lapar daripada ibu ini.” sang Nelayan berkata dalam hati. ”Maafkan ibu, anak muda, ibu tak bermaksud memaksa…” si Ibu tua masih menangis tersedu – sedu.

”Bu, ini aku ada seikit uang untuk membeli kucing-kucingmu. Apakah cukup?” Nelayan itu akhirnya mengeluarkan uang dari dompetnya. ”Terima kasih nak…terima kasih..cukup..ini semua cukup. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu, Nak.” Ibu tua tidak henti – henti berterima kasih.

Maka si Nelayan berlayar dengan kucing-kucingnya menuju Kota Besar. Walaupun tanpa uang sepeser pun, si nelayan tetap bersyukur ia bisa berlayar dan membantu ibu tua. Di tengah lautan luas, tiba-tiba datanglah hujan badai! Kapal besar yang ditumpangi nelayan terombang-ambing terkena badai. Oh oh, semua orang menjadi panic.

”Ahh…kucing-kucingku…diam di sini…biar kubalut tubuh kalian dengan bajuku supaya hangat…nah, kalian tenang ya…aku tak akan meninggalkan kalian..” Nelayan itu akhirnya membuka bajunya dan berusaha melindungi kucing – kucingnya.

Badai berlangsung semalaman, Adik-adik! Si nelayan yang lelah akhirnya tertidur, dan baru terbangun setelah menyadari bahwa badai telah selesai. Tapi, ia sudah tidak di dalam kapal lagi! ”Hah? Di mana aku? Mengapa sunyi begini? Aduh…apakah aku..terdampar? Aduh kepalaku sakit sekali….tapi, mana kucing2ku? Apakah mereka selamat? ah, itu dia! Apakah kalian baik-baik saja?” Nelayan itu berkata sambil mengusap – usap kucingnya.

Maka Nelayan mengajak kucing-kucingnya untuk menjelajahi pulau, mencari penduduk setempat. Oh ternyata tidak jauh dari pantai ada sebuah desa! Saat memasuki desa itu, si Nelayan bertemu dengan seorang tukang roti. Nah, dari tukang roti itu, Nelayan akhirnya mengetahui bahwa ia telah terdampar di Pulau Tikus!

”Mengapa namanya Pulau Tikus, tukang roti?” Sang Nelayan bertanya kepada tukang roti. ”Bukankah sudah jelas? Pulau ini dipenuhi tikus! Penduduk sudah mencoba segala cara, tapi tetap tak bisa mengusir tikus-tikus itu.” tukang roti menjelaskan kepada si nelayan. ”Hmm…apakah kalian pernah mencoba menggunakan kucing?” Nelayan kembali bertanya penasaran. ”Kucing? Tak ada hewan semacam itu di pulau ini.” si tukang roti itu mengatakan.

Aha! Nelayan mendapatkan ide untuk membantu penduduk kota tikus. Ia akan melepaskan kucing-kucingnya supaya bisa menangkap tikus. Kucing-kucing yang sangat kelaparan itu pun dengan cepat menyebar ke berbagai penjuru desa, menangkap tikus-tikus yang mengganggu penduduk desa. Wah, seluruh penduduk Pulau Tikus sangat berterima kasih pada si Nelayan dan tiga kucingnya. Mereka memberikan bermacam-macam penghargaan dan hadiah untuk para pemburu tikus ulung ini. Akhirnya, si Nelayan dan kucing-kucingnya menetap di Pulau Tikus dan mereka dipandang sebagai pahlawan. Si nelayan dan 3 kucingnya tidak pernah lagi hidup kekurangan, tapi mereka tetap siap sedia membantu jika ada penduduk yang membutuhkan.

Dongeng ini dipersembahkan oleh Female Radio

Paman Gery & Bubu Mini
Tiga Putri dan Kastil Tua (Bagian 2)
TIGA%20PUTRI%20DAN%20KASTIL%20TUA%202.mp3
buletan%20dongeng.jpg

Amrita, Anila, dan Avara adalah calon penerus takhta kerajaan. Jadi setelah mereka dibekali dengan banyak ilmu dan keterampilan, mereka harus berkelana mencari pengalaman hidup. Mereka berkelana di hutan, Amrita dan Anila jail dan iseng sekali kepada hewan yang mereka temui sepanjang perjalanan. Kalau bukan karena Avara yang melarang, semut, bebek, dan lebah pasti sudah diganggu oleh mereka berdua! Nah, di tengah perjalanan mereka menghampiri sebuah kastil tua. Tapi...semua makhluk hidup di kastil itu telah berubah menjadi batu!

”Jangan takut, putri-putriku...aku adalah penjaga kastil ini.” Kakek tua itu berkata kepada mereka bertiga yang sudah berteriak ketakutan. ”Kakek penjaga yang baik....mengapa...semua makhluk di kastil ini berubah menjadi batu?” Avara bertanya dengan nada agak takut – takut. ”Seorang penyihir jahat mengutuk istana ini karena ia iri pada kekuasaan raja.” sang kakek bercerita. ”Oh, tapi mengapa kau tidak menjadi batu?” Avara kembali bertanya. ”Karena aku sedang ke kota saat penyihir mengutuk seisi istana ini. Ketika aku kembali...semua sudah membatu..” sang kakek menunduk sedih.

”Adakah yang bisa kami lakukan untuk membantu?” Avara bertanya kepada sang kakek. ”Sebenarnya..penyihir itu memberikan 3 syarat bagi yang ingin membebaskan kutukan ini...tapi aku tak yakin kalian bisa melakukannya..akibatnya terlalu berat untuk kalian..” sang kakek bercerita. ”Paling tidak kami bisa mencoba, Kek...” Avara meyakinkan sang kakek. ”Pertama..kalian harus menemukan 1000 butir mutiara permaisuri yang terserak di halaman istana sebelum matahari terbit esok....kedua, kalian harus menemukan kunci kamar permaisuri di dasar danau....jika berhasil, maka akan kuberitahu syarat ketiga..” Sang kakek menceritakan syarat – syaratnya.

”Kalau kami tak berhasil?” Avara bertanya. ”Maka kalian akan turut berubah menjadi batu....” sang kakek berkata. ”Aku tak mau..aku tak mau..kau saja lah..syarat-syarat itu terlalu berat!” Amrita dan Anila berkata sambil ketakutan. ”Baiklah...aku akan mencobanya...doakan aku berhasil...” Avara berkata dengan nada yakin.

Maka Avara pergi ke halaman istana...ia menemukan beberapa butir mutiara, tapi jumlahnya masih jauh sekali dari 1000 butir. Padahal matahari sudah mulai condong ke barat. Avara terus berusaha mencari...tapi tiba-tiba terdengar suara pelan sekali dari arah tanah.. ”Wahai putri yang baik hati, mari kubantu mencari 1000 mutiara itu. Anggaplah sebagai balas budi karena kau mencegah kakak-kakakmu merusak sarangku kemarin...” ternyata itu adalah pemimpin Semut yang ingin membantu Avara.

Belum sempat Putri Avara mengatakan apa-apa, muncul ratusan bahkan ribuan semut dari dalam tanah. Semua berbaris rapi, lantas menyebar ke penjuru halaman. Dalam waktu singkat, mereka berhasil mengumpulkan semua mutiara itu! ”Oh semut-semutku yang murah hati...terima kasih...aku tak akan melupakan bantuan kalian...” Avara mengucapkan terima kasih. Dengan gembira Avara kembali ke istana, menyerahkan 1000 mutiara itu pada si kakek. Kemudian ia langsung pergi ke danau untuk melakukan syarat berikutnya.

Avara sebenarnya pandai berenang...tapi cuaca begitu dingin dan hari mulai malam...ia ragu-ragu untuk menyelam ke dasar danau...tapi tiba-tiba.. ”Jangan sedih putriku sayang, kami akan membantumu mencari kunci di dasar danau. Anggaplah itu sebagai balas budi karena kau mencegah kakak-kakakmu menjadikan kami makan malam.” Sang bebek berkata.

Bebek dan teman-temannya langsung menyelam dengan sigap. Wah, ramai sekali kedengarannya! Tapi seru juga sih...apakah mereka berhasil? ”Apakah kunci ini yang kau cari, putri?” Tiba – tiba sang bebek muncul dari dasar danau. ”Iya, betul! Itu kunci kamar permaisuri! Oh bebek yang bijaksana, terima kasih atas bantuanmu. Aku tak akan melupakanmu.” Avara berterima kasih. Maka Avara bergegas menghampiri Kakek penjaga kastil, menunggu syarat selanjutnya.

”Hebat..hebat..tak kusangka kau berhasil, Avara....nah, tugas berikutnya adalah merangkai mutiara ini menjadi kalung, kemudian mengalungkannya ke salah satu putri raja yang berada di kamar permaisuri.” sang kakek mengatakan syarat berikutnya yang harus dilakukan Avara. ”Baiklah, tapi bagaimana aku tahu yang mana yang merupakan putri raja?” Avara kebingungan.

”Putri raja suka sekali minum madu. Hanya itu petunjuknya.” Sang kakek berkata. Maka Avara merangkai kalung itu semalaman menjadi kalung yang sangat indah. Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit, Avara masuk ke kamar permaisuri.

”Hoaaahm....hhh..aku lelah...lho, ternyata bukan hanya putri raja yang berada di kamar permaisuri....ada beberapa perempuan..mungkin dayang-dayang...lalu, bagaimana cara aku mengenalinya?” Avara kebingungan.

Avara bingung sekali..ia menebak-nebak, tapi tak yakin juga...sampai akhirnya terdengar dengungan suara lebah. ”Putri cantik, aku akan membantumu mengenali si putri raja. Aku kenal padanya karena ia sering meminta madu padaku. Anggap saja ini balas budi karena kau mencegah kakak-kakakmu menghancurkan sarangku.....hmmm....nah, ini dia si putri raja, yang berdiri di dekat jendela!” Ratu Lebah membantu Avara.

”Oh, Ratu Lebah yang mulia, terima kasih banyak...aku tak akan melupakanmu..” Avara berterima kasih. Maka Avara mengalungkan kalung mutiara itu ke leher sang putri....dan apa yang terjadi? Ujung jari sang putri mulai bergerak! Warnanya pun sudah tidak kelabu seperti batu, melainkan kembali ke warna kulit aslinya! Horeee, Avara berhasil, adik-adik! Seisi istana kembali hidup! Manusia, hewan, dan tumbuhan semua kembali hidup seperti semula! Kutukan itu telah hilang! Wah asik sekali, semua bersuka cita dan saling mengucap syukur. Avara pun dianggap sebagai pahlawan di kerajaan itu.

Dongeng ini disadur dari Grimm’s Fairy Tales persembahan Female Radio